Senin, Desember 30, 2013

Perdagangan Kelapa di Sulut, tak Sebanding Kesejahteraan Petani


MANADO BISNIS - Tak dapat dipungkiri perdagangan kelapa dan turunannya di Sulut terus meningkat. Namun hal itu tak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan petani,  karena yang benar-benar sejahtera hanya pedagangnya.

James Mangkei, petani kelapa asal Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) mengaku sangat merasakan kesenjangan kesejahteraan petani dan pelaku usaha atau pedagang. "Di Minsel ada banyak perusahaan yang mengolah kelapa, seperti halnya tepung kelapa dan minyak kelapa. Harga kopra yang kami jual sangat murah hanya di kisaran Rp6.000-an per kilogramnya, Namun ketika sudah diolah oleh perusahaan langsung melambung harganya," ujarnya. 

Hal ini, ditambahkan Petrus Langi, petani kelapa lainnya, pemerintah harus membantu mencarikan solusi agar petani dan pedagang sama-sama sejahtera. "Mana peran pemerintah. Kami harapkan di tahun 2014 yang tinggal beberapa hari lagi, pemerintah harus tunjukkan keberpihakan pada petani,"pintanya.
Catatan harian ini, beberapa komoditi kelapa dan turunannya berhasil diekspor  pada bulan Desember ini. Diantaranya,
tuan rumah penyelenggara piala dunia 2014 Brazil, berhasilmembeli tepung kalapa Sulut. "Negera Brazil ini membeli 51 ton tepung kelapa, dengan nilai US$81.260. Pengiriman tepung kelapa ke Brazil dua kali dilakukan,” jelas Kepala Disperindag Sulut Olvie Atteng.

Dikatakannya, ekspor tepung kelapa ke Brazil menambah jumlah negara non tradisional yang menjadi peminat komoditas yang saat ini menjadi salah satu andalan ekspor Sulut. "Brazil merupakan negara potensial yang akan terus digenjot hingga tahun-tahun mendatang,"ungkapnya.

Komoditas lainnya, Crude Coconut Oil  (CCO) atau minyak kelapa kasar berhasil diekspor sebanyak 2000 ton ke Amerika Serikat (AS). "Pembelian CCO Sulut ini menghasilkan devisa untuk daerah sebesar 1.730.506 dolar Amerika," ujar Atteng.
Dikatakannya,  realisasi ekspor produk turunan kelapa tersebut, semakin memperkuat eksistensi komoditas andalan Sulut tersebut di pasar negara maju itu.

Minyak kelapa kasar selama ini merupakan komoditas yang paling diandalkan Sulut dalam meraup devisa, terbukti selama tahun 2012 lalu berdasarkan data Badan Pusat Statistik(BPS) Sulut, mampu mendatangkan devisa sebesar 689 juta dolar AS. "Capaian 689 juta dolar AS tersebut, mampu mendominasi 76 persen dari total ekspor hingga November yang tercatat sudah mencapai 904 juta dolar AS," paparnya.

Ada juga kopra yang diekspor ke Korea. "Kopra yang diekspor ke Korea sebanyak 5.500 ton dan mampu menghasilkan devisa bagi daerah sebesar US$1.210.000," ungkap Atteng. [yg/mtr]

Jelang Pisah Tahun, Terminal di Manado Padat


MANADO BISNIS  - H-1 perpisahan tahun 2013 ke 2014 di Sulut, sejumlah terminal penumpang di Kota Manado semakin padat dengan aktivitasnya.
Terminal Karombasan Manado

Seperti terpantau di terminal Karombasan berbeda dengan hari biasa. Terminal yang melayani angkutan Kawangkoan, Tombatu, Tareran, Tondano, Tomohon, Langowan, Ratahan, Kakas, Remboken ini makin sibuk. Calon penumpang berjubel menaiki bus yang akan ditumpangi.

Kepala Terminal Karombasan, Marten Belung menegaskan menjelang tahun baru Terminal Karombasan tetap mengantisipasi lonjakan penumpang. "Setiap atau sesudah Natal banyak kendaraan tertumpuk di Terminal Karombasan, Kami tidak takut mengatasi lonjakan penumpang untuk menggunakan jasa angkutan," ujar Marten. Ia yakin meski lonjakan tinggi, Terminal Karombasan bisa mengatasi dan sudah menyiapkan armada untuk masyarakat.

Ia menengarai, biasanya melonjaknya menggunakan jasa angkutan H-1 tahun baru. "Kami jamin setiap penumpang dan calon penumpang bisa teratasi untuk ke tempat tujuan," janjinya.
Menurut Marten bila dibandingkan dengan hari biasa, sejak Natal dan memasuki tahun baru, jasa angkutan mengalami kenaikan 30 persen.

Ia  mengimbau kepada pengemudi, sebelum berangkat terlebih dahulu harus siapkan kendaraan, mengecek mobil mulai dari onderdil, ban dalam kondisi kendaraan agar berfungsi dengan baik. "Terutama musim penghujan wiper dan lampu harus berfungsi supaya penumpang merasa nyaman dan bisa sampai di tempat tujuan dengan baik," tambahnya. [yg/mtr]

Jumat, November 08, 2013

Sulut Masih Koleksi 67,7 Ribu Pengangguran


MANADO BISNIS - Sulut ternyata masih mengoleksi 67,7 ribu pengangguran, sebagaimana data Agustus 2013 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut. Angka penganggurannya pun yang saat ini 6,68 persen di atas nasional yang hanya 6,25 persen.  


Demikian dikatakan Kepala BPS Sulut Faizal Anwar. "Secara relatif angka pengangguran Sulut menunjukkan penurunan dari 7,19 persen pada Februari 2013 menjadi 6,68 persen pada Agustus 2013," terangnya.

Walaupun ada perbaikan, lanjut Anwar, angka pengangguran Sulut masih di atas angka pengangguran nasional. Karena Pada Agustus 2013 lalu tingkat pengangguran terbuka nasional hanya 6,25 persen. "Jadi meski pengangguran Sulut turun, dibandingkan nasional masih tinggi," paparnya.

Sementara jumlah pengangguran Agustus 2013, menurut Anwar, sebesar 67,7 ribu orang. Hal ini mengalami penurunan sebanyak 13,1 ribu orang dari bulan Agustus 2012. Begitu pula dibandingkan dengan keadaan Februari 2013 turun sebanyak 10,5 ribu orang. "Sedangkan tingkat pengangguran terbuka selama tiga tahun terakhir turun 8,62 persen (Agustus 2011), turun menjadi 7,79 persen (Agustus 2012) dan menjadi 6,68 persen (Agustus 2013). Dibandingkan nasional 6,25 persen TPK Sulut tinggi," ungkap  Anwar.  

Lebih lanjut dijelaskannya, dilihat perbandingan desa dan kota di Sulut, tingkat pengangguran lebih tinggi terjadi di wilayah perkotaan capai 8,17 persen sebagai penganggur terbuka atau setara dengan 38,2 ribu orang. Sedangkan di perdesaan tingkat pengangguran 5,40 persen atau 29,5 ribu orang. "Dibandingkan Februari 2013 di perkotaan terjadi penurunan tingkat dan jumlah pengangguran, sedangkan di perdesaan malah  meningkat sebesar 1,5 persen," papar Anwar. [yg/mtr]

Triwulan III, Perekonomian Sulut Tumbuh 7,46 Persen


Kesibukan Kota Manado, Sulut
MANADO BISNIS  – Pada triwulan III tahun 2013 ini, perekonomian Sulut diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tumbuh 7,46 persen, dibandingkan dengan triwulan yang sama 2012 lalu.

Hal ini dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut  Faizal Anwar. “Jika dibandingkan dengan triwulan II 2013 maka pertumbuhan ekonomi Sulut 5,92 persen, dan secara komulatif ekonomi Sulut sampai pada triwulan III 2013 dibandingkan kondisi yang sama 2012 tumbuh sebesar 5,83 persen,” ujarnya.
Dikatakannya, perekonomian Sulut yang diukur atas dasar harga berlaku mencapai Rp13,69 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp5,83 triliun. Sementara sektor yang  mengalami pertumbuhan tertinggi di triwulan III 2013 ini dibandingkan triwulan sama 2012 adalah listrik, gas dan air bersih yang tumbuh 19,21 persen, kemudian sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh 12,04 persen, dan sektor  keuangan, real estat, jasa perusahaan 14,23 persen.

“Jika dibandingkan dengan triwulan II 2013, yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah perdagangan, hotel dan restoran 9,28 persen, diikuti sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh 7,97 persen, serta sektor jasa-jasa sebesar 6,31 persen,” terang  Anwar.

Dari sisi penggunaan, ditambahkan  Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sulut Deky Tiwang,   pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar dalam pembentukan PDRB di triwulan III 2013 ini, yaitu sebesar 44,18 persen. Sementara secara ril bila dibandingkan dengan triwulan II 2013, menurut Tiwang, seluruh komponen PDRB menurut penggunaan tumbuh positif. “ Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3,31 persen, pengeluaran konsumsi lembaga swasta non profit 8,26 persen, pengeluaran konsumsi pemerintrah 2,24 pesen dan pembentukan modal detap bruto 6,04 persen, ekspor 7,50 persen dan impor 3,52 persen,” papar Tiwang. [yg/mtr]

Rabu, September 18, 2013

Sulut Miliki Potensi Pasar Ikan Danau


MANADO BISNIS - Sulut yang memiliki sejumlah danau diantaranya Danau Tondano di Kabupaten Minahasa, ternyata memiliki potensi pasar yang cukup besar untuk  menjadi tempat  budidaya  ikan air tawar jenis betutu, yang harganya sangat bagus saat ini.
Danau Tondano, tempat budidaya sejumlah jenis ikan air tawar

Hal ini pun terlihat pada   Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA) yang digelar Dinas  Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, beberapa waktu lalu ikan betutu dicari oleh pembeli dalam jumlah yang besar.

"Ikan betutu  yang hilang beberapa bulan di ajang PLKA, berhasil membukukan transaksi sebesar Rp500 juta, menyusul volume penjualan sebanyak 35  ton pada PLKA  ke empat di tahun 2013  lalu," kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Sulut,  Hanny Wajong.

Dikatakannya,  ikan betutu hasil panen di danau Tondano, Kabupaten Minahasa, mampu diperdagangkan di harga Rp25  ribu per kilogram(Kg). Tampilnya kembali ikan betutu  ini menjadi salah satu komoditas andalan di PLKA,  sehingga kembali  membuka peluang produk perikanan danau tersebut untuk menjadi andalan ekspor Sulut ke depan. "Ketika tampil diperdagangkan pertama kali di PLKA beberapa tahun silam, ikan betutu langsung mencipta ekspor ke beberapa negara Asia, diharapkan pula dengan mulai hadirnya kembali di ajang perdagangan  ini, produk ini dapat kembali mendatangkan devisa bagi Sulut," ungkap Wajong.
Salah satu pelaku usaha ikan betutu Buang N  mengatakan,  potensi pasar di Malaysia, Singapura,

Hongkong dan negara Asia lainnya, sangat baik. "Mudah-mudahan dengan hadirnya kembali ikan betutu di PLKA, akan membangkitkan pasar perikanan ini sehingga semakin meluas," pungkasnya.  [yg/mtr]

SDA Sulut Melimpah di Bidang Perikanan


MANADO BISNIS – Sulut memiliki  sumber daya alam  (SDA)  yang relatif melimpah terutama dari sektor perikanan.  Sumber daya manusia berkualitas juga diperkirakan akan semakin banyak tersedia seiring semakin berkembangnya sektor pendidikan khususnya untuk jenjang pendidikan tinggi.
Kepala BI  Sulut Suhaedi

Hal ini dikatakan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut Suhaedi  belum lama ini,  terkait pengembangan blue economy atau ekonomi biru di Sulut. “Ini dikarenakan Sulut memiliki letak yang strategis di bibir wilayah pasifik,” terang Suhaedi.

Dikatakannya, bibir pasifik sangat prospektif dalam jalur perdagangan dunia, khususnya dengan negara di kawasan asia pasifik seperti Jepang, China, Korea, hingga Amerika Serikat dan Amerika latin baik sebagai mitra dagang maupun sumber investasi.

Terkait pengembangan konsep  blue economy  itu, menurut Suhaedi, akan menjadi jawaban tepat untuk upaya mengembangkan potensi yang ada di Sulut, guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. "Konsep tersebut dinilai juga bisa menjawab beberapa permasalahan antara lain laju peningkatan penduduk yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan pangan serta masalah kerusakan lingkungan," ungkapnya.

Jika dilihat shere dalam struktur perkonomian Sulut, menurut Suhaedi, sub sektor perikanan merupakan sub sektor dengan shere terbesar ketiga dalam perhitungan PDRB  yang pada teriwulan II tahun 2013 mencapai 24,o1 persen. Cukup tingginya shere sub sektor tersebut juga tercermin dari jumlah produksi perikanan tangkap laut dan budidaya perikanan yang cukup besar di Sulut. "Jumlah produksi ikan secara total tahun 2002 lalu, sebesar 495 ribu ton atau  naik 23 persen dari tahun 2011 yang tercatat sebesar 401 ribu ton," tandas Suhaedi.

Ditambahkannya, perbankan di Sulut juga sangat mendukung program di sektor perikanan. Ini dibuktikan total kredit yang disalurkan di sektor perikanan sudah mencapai Rp258 miliar, tumbuh 37,34 persen dibandingkan Juni 2012. "Sementara jumlah debitur sektor perikanan pada Juni 2013 sebanyak 2438 rekening, meningkat dibandingkan Juni 2012 yang terctat 962 rekening," papar Suhaedi. [yg/mtr]

Ekspor Turunan Kelapa Sulut Tetap Didorong


MANADO BISNIS – Meski setiap pekan terjadi realisasi ekspor turunan kelapa di Sulut. Namun sejumlah komoditas penghasil devisa ini tetap didorong agar lebih meningkatkan pemasarannya keluar negeri.
     
“Komoditas turunan kelapa di Sulut banyak, termasuk arang tempurung yang bahan bakunya tempurung kelapa, banyak tersebar di Sulut. Kami tetap mendorong eksportir lebih banyak melakukan ekspor,” ujar

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulut  Feby Karambut.
Seperti belum lama ini, lanjut dia,   arang tempurung berhasil dikirim  ke negeri China sebanyak 165,8 ton, dengan  devisa sebesar 489.610 dolar Amerika. "Ekspor tempurung ke China itu dilakukan oleh PT Carbon Teg, dari Minahasa Selatan, melalui pintu keluar Bitung," tandasnya.

Ia menjelaskan arang tempurung tersebut banyak gunanya, karena itu sangat diminati oleh negara-negara luar, bahkan sangat menguntungkan untuk berbagai keperluan, terutama bahan bakar. "Arang tempurung banyak dipilih, karena memiliki enegeri 7.340 kalori, sehingga menghasilkan panas lebih tinggi dari arang biasa," ungkap  Karambut.

Dia mengatakan pemerintah terus memotivasi petani kelapa, agar tidak hanya memanfaatkan daging kelapa, tetapi juga batok kelapanya untuk dijadikan sebagai produk bermanfaat yang bisa mendatangkan keuntungan.

Menurut dia, China dan Amerika adalah pasar yang baik untuk ekspor arang tempurung, karena itu peluang itu harus dimanfaatkan oleh para petani maupun eksportir di Sulawesi Utara untuk meningkatkan perekonomian dan meraih keuntungan sebesar-besarnya dari komoditas andalan Sulut tersebut.

Saat ini, arang tempurung kelapa sudah menembus Prancis, Belgia, Belanda, Inggris, Austria, Italia, Jerman, Swedia, Denmark, dan Timur Tengah (Lebanon dan Suriah), sedangkan untuk kawasan Asia sudah menembus pasar Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. "Kegunaan arang tempurung dapat digunakan aplikasi berbagai produk seperti industrial respirators untuk adsorpsi kandungan organik, termasuk pada rokok digunakan sebagai filter dan masih banyak lagin," ungkap tandas Karambut.[yg/mtr]