This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, Januari 09, 2015

Cina-Korsel Berminat Kelola KEK Bitung

MANADO, BISNIS  – Ini perkembangan terbaru pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. Akan ada dua raksasa Asia, Cina dan Korea Selatan (Korsel) berminat untuk mengelola KEK tersebut.

Hal ini diakui  Anggota Tim Ahli Kelompok Kerja (Pokja) KEK Bitung Dr Joubert B Maramis SE MSi "Saat ini dua negara yang berminat untuk membangun dan mengelola KEK Bitung, Cina dan Korea Selatan. Justru saat ini Korea Selatan sudah bersedia membangun master plan," ujarnya.

Dikatakan Maramis,  kedua negara tersebut berminat, karena KEK Bitung memiliki konektivitas dengan pelabuhan di Indonesia. "Selain itu, posisinya yang berada di Asia-Pasifik  sehingga mereka merasa  cukup berkepentingan," tandas Maramis.

Dari hasil rapat yang baru saja selesai, menurut dia,  KEK Bitung pada tahap pertama akan dibangun 92 hektare terlebih dahulu dari 534 hektare yang direncanakan. Selain itu, ada bantuan dari Kementerian Perindustrian untuk membangun infrastruktur Rp 200 miliar. Bantuan tersebut termasuk untuk membangun kantor administrasi dan dewan kawasan. "Intinya bahwa Kementerian Perindustrian ingin KEK Bitung cepat beroperasi," tuturnya.

Untuk itu dalam waktu dekat, aku Maramis,  tim akan melakukan peninjauan ke Kawasan Jababeka untuk melihat pengelolaan water treatment, sebab hal itu diperlukan untuk KEK Bitung jika nantinya sudah berjalan. Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) sudah menganggarkan Rp 5 miliar untuk infrastruktur jalan masuk. Namun demikian untuk jalan masuk tersebut tidak melewati Tanjung Merah, melainkan wilayah lain yang tidak banyak pemukiman. "Dari jalan raya sekitar dua kilometer masuknya," ungkapnya.

Jalan tersebut, menurut Maramis,  akan dikerjakan pada tahun 2015, yang tertata di APBD. Namun demikian jika tidak masuk, akan dimasukan kedalam anggaran dari Kementerian Perindustrian. "Intinya untuk bangun KEK Bitung butuh semua pihak," ungkapnya. (yg/mtr)

Neraca Perdagangan Sulut Surplus US$ 72,35 Juta

MANADO, BISNIS -  Data yang dibeberkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut ekspor Sulut masih tetap lebih besar ketimbang  impor, sehinggga selalu neraca perdagangan Sulut mengalami surplus. 
Peta Sulut

Kepala BPS Sulut Faizal Anwar mengatakan, neraca perdagangan setempat mengalami surplus 72,35 juta dolar Amerika Serikat pada November 2014.
“Pada November 2014, nilai ekspor Sulut sebesar 84,49 juta dolar AS dan nilai impor tercatat 12,14 juta dolar AS, sehingga neraca perdagangan mengalami surplus 72,35 juta dolar AS,” ujarnya. 

Ia mengatakan, dengan tingginya nilai ekspor Sulut, maka hampir setiap bulan daerah ini mengalami surplus. Hingga November 2014, kinerja ekspor Sulut mencapai 84,49 juta dolar AS, yakni tumbuh 29,92 persen jika dibandingkan bulan Oktober 2014 hanya 65,03 juta dolar AS.

Dia mengatakan, lemak dan minyak hewan atau nabati merupakan komoditas ekspor terbesar di Sulut, pada November 2014 mencapai sebesar 54,63 juta dolar AS atau 64,66 persen dari total ekspor. “Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor Sulut paling besar pada bulan November 2014, katanya, dengan nilai 24,79 juta dolar AS, atau sebesar 29,34 persen dari keseluruhan ekspor provinsi ini pada bulan tersebut,” paparnya. 

Lebih lanjut dikatakan Faizal,  sepanjang bulan November 2014, pintu ekspor terbesar produk Sulut adalah Pelabuhan Bitung dengan nilai 58,92 juta dolar AS atau 90,60 persen terhadap total nilai ekspor Sulut.  “Sedangkan  nilai impor pada November 2014 mencapai 12,14 juta dolar Amerika Serikat, naik 126,49 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 5,36 juta dolar AS,” ungkapnya. 

Faizal mengatakan pada November 2014, impor menurut golongan barang utama yang mengalami peningkatan adalah mesin-mesin, pesawat mekanik meningkat menjadi 4,30 juta dolar AS dari 1,34 juta dolar AS. “Meskipun nilai impor pada November 2014 mengalami peningkatan, tapi masih lebih tinggi nilai ekspor pada bulan tersebut, sehingga terjadi surplus,” pungkasnya. (yg/mtr)

2015, Tepung Kelapa Andalan Sulut di Pasar Internasional

MANADO, BISNIS  – Di tahun 2015 ini, komoditas tepung kelapa tetap menjadi andalan Sulut sebagai produk potensial  diekspor ke seluruh penjuru dunia. “Seperti tahun-tahun sebelumnya, tepung kelapa tetap diandalkan di 2015 ini sebagai produk paling banyak menembus pasar internasional,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Jenny Karouw.
Kelapa biji menghasilkan tepung kelapa

Hal ini terlihat, menurut dia, tak henti-hentinya permintaan ekspor dari negara-negara yang sudah menjalin kontrak dengan para eksportir Sulut. Seperti baru-baru ini terealisasi ekspot tepung kelapa ke Tiongkok, menyusul permintaan dari negara tersebut cukup tinggi. "Tiongkok membeli tepung kelapa asal Sulut sebanyak 25,8 ton dengan sumbangan devisa sebesar 51.710 dolar AS," tandasnya.
Dikatakannya,  Tiongkok merupakan pasar potensial tujuan ekspor berbagai komoditas Sulut termasuk tepung kelapa yang hampir setiap pekan terjadi pengiriman dalam jumlah yang besar "Hampir setiap pekan, Sulut mengekspor tepung kelapa ke Tiongkok," kata  Jenny,
Dijelaskan pula, tepung kelapa merupakan produk unggulan Sulut yang selain merambah pasar Asia, Eropa, Afrika maupun Amerika Serikat.Tepung kelapa Sulut makin diminati karena kualitasnya memenuhi standar dan harapan konsumen di negara tujuan tersebut. "Proses produksi tepung kelapa di Sulut mengikuti standar internasional, karena itu permintaan dari negara lain terus meningkat,"ungkapnya.
Ditambahkan Jenny, komoditas tepung kelapa merupakan salah satu produk turunan kelapa yang saat ini menjadi andalan Sulut untuk memperoleh devisa.
"Produk tepung ini banyak dibutuhkan sebagai bahan baku membuat roti dan makanan lainnya dan juga banyak digunakan untuk campuran dalam industri makanan kecil seperti permen atau gula-gula, kue, puding dan lain-lain. Pemerintah pun  akan terus berusaha memberikan yang terbaik dengan memfasilitasi agar para pengekspor di Sulut mendapatkan pasar baru lebih banyak,” papar Jenny. (yg/mtr)

Kamis, Agustus 14, 2014

Sulut Kembangkan Bahan Bakar dari Pohon Seho

MANADO BISNIS  – Lagi Sulut fokus mengembangkan bahan bakar dari pohon seho atau pohon nira  yakni bioetanol, yang banyak tumbuh di propinsi nyiur melambai ini.
Pohon seho

Dikatakan Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)  Sulut  Benny Nongkan SE,  bioetanol ini bahan bakunya adalah nira aren  yang diambil dari pohon seho, kemudian diolah dengan teknologi penyulingan.  "Pengembangan bioetanol ini akan dilakukan di Kabupaten Minahasa Tenggara.  Dimulai  dengan memberikan sejumlah alat penyulingan kepada kelompok usaha di sana  agar bisa menghasilkan bioetanol dengan kualitas baik,"  ujarnya.
Dijelaskannya,  bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan. Bahan bakar tersebut dinilai memiliki keunggulan antara lain mampu menurunkan emisi karbondioksida (CO2) hingga 18 persen. Penyerahan alat penyulingan bioetanol ke kelompok usaha di Kabupaten Minahasa Tenggara itu merupakan yang pertama di Provinsi Sulut. "Dengan bantuan ini diharapkan bioetanol yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dengan volume lebih banyak," ungkap Nongkan.

Ia mengatakan Minahasa Tenggara memiliki lahan pohon aren yang cukup luas sehingga diharapkan dapat menghasilkan bioetanol yang nantinya bisa dijual ke industri untuk berbagai macam kebutuhan.  "Selama ini pohon aren hanya digunakan untuk membuat minuman cap tikus saja, padahal bisa dikembangkan untuk lainnya, yaitu bioetanol, yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," katanya.

Selain untuk industri, menurut Nongkan,  bioetanol juga bisa digunakan rumah tangga untuk memasak. Dengan berbagai keunggulannya dibandingkan dengan minyak tanah. “Minahasa Tenggara sendiri  berpeluang mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif sehubungan dengan kian terbatasnya bahan bakar minyak,” paparnya.

Ditambahkan Nongkan,  energi alternatif seperti bioetanol diharapkan dapat menjadi jawaban permasalahan kian terbatasnya sumber daya alam berupa minyak.Dirinya optimistis masyarakat akan merespon baik pengembangan bioetanol itu. "Semua harus berpikir dari sekarang bagaimana mencipatakan energi alternatif. Tentunya DPRD dan pemerintah harus mendukung sepenuhnya dari sisi regulasi, investasi serta segi pembangunan dan infrastruktur,"  harap Nongkan. (yg/mtr)

IKM Sulut Minim Gunakan BBM Bersubsidi

MANADO BISNIS -  Ternyata Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang ada di Sulut sangat kurang menggunakan BBM bersubsidi  terkait dengan produksinya. Itulah sebabnya bila pemerintah  membatasi penjualan BBM bersubsidi di Sulut belum akan berpengaruh pada pendapatan IKM yang ada.
Salah satu produk IKM

Hal ini diakui  Kepala Bidang Fasilitasi dan Pengembangan IKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan  (Disperindag) Sulut, Alwy Pontoh.  "Memang kebijakan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan secara langsung memberikan dampak besar ke IKM," ujarnya.

Kebijakan tersebut, menurut Pontoh, untuk tahap awal baru akan diberlakukan di beberapa provinsi namun tidak menutup kemungkinan, nantinya akan di Sulut sendiri. “IKM di Sulut tidak langsung berhubungan dengan BBM, mungkin nantinya yang akan berdampak pada biaya transportasi,” ungkapnya.
Meski demikian,  kata Pontoh, kenaikan ongkos transportasi tersebut tidak akan menyebabkan kenaikan harga karena masih lebih kecil dari keuntungan yang diperoleh dari produk-produk IKM.

Dia  menjelaskan memang ada IKM yang paling terkena pengaruh pembatasan penjualan solar subsidi karena keuntungan tidak besar. Meski demikian, dengan strategi pemasaran yang baik, pelaku sektor industri tertentu tetap dapat bertahan.

"Mereka bisa berkompromi dengan mengurangi ukuran atau menaikkan sedikit harga jual. Pasar itu kalau sudah ketergantungan dengan suatu produk, harga naik sedikit tidak masalah, pasar bisa memahami," katanya, seraya mengingatkan,  para pelaku IKM agar terus memperluas pasar mereka sehingga usahanya lebih stabil dan kuat. (yg/mtr)

Rabu, Mei 07, 2014

Sulut Kembali Genjot Pengembangan Klaster Kelapa

MANADO BISNIS- Pengembangan  klaster kelapa kembali digenjot Propinsi Sulut. Kali ini melalui kegiatan workshop yang digelar di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Selasa (06/05).

Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut ini dengan menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, Ellen Pakasi, Kadis Perkebunan Jenny Karouw dan Kadis Perindag Olvie Atteng, dengan peserta  instansi terkait,  pelaku usaha dan kalangan petani.

Salah satu pembicara Ellen Pakasi mengatakan, masih banyak klaster kelapa di Sulut yang belum dimanfaatkan petani, karena Sulut sendiri kaya dengan kelapa. "Seperti kopra putih, lebih mahal harganya dibandingkan kopra biasa, tapi kurang dimanfaatkan karena kendala teknologinya. Itulah sebabnya pemerintah akan berupaya pengadaan tungku atau tempat mengola kopra putih," ujarnya.
Dengan hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sulut, menurut Pakasi,  maka industri kelapa ini harus lebih dikembangkan lagi. "Nantinya ada Pokja KEK yang akan mesosialisasi industri kecil ini, termasuk di dalamnya industri kelapa," ungkapnya.

Sementara Kepala Disperindag Sulut Olvie Atteng mengatakan, pengembangan  klaster kelapa di Sulut  harus ditunjang dengan dana, teknologi dan sumber daya manusia. "Artinya walaupun kita memiliki dana dan teknologi, tapi tidak memiliki SDM maka tidak ada gunanya,"ungkapnya.

Itulah sebabnya menurut Atteng, produk kelapa ini harus memiliki daya tarik agar dibeli konsumen. Kemasannya paling utama harus disentuh  dengan teknologi dan SDM. "Disperindag Sulut sendiri akan bersedia mendanai kemasannya, karena di Sulut sendiri akan segera hadir rumah kemasan,"ungkap Atteng.
Ditambahkan Kabid Industri Disperindag Sulut Benny Nongkan, klaster kelapa sudah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu, namun harus diakui belum berkembang sebagaimana diharapkan, karena itu dilakukan pengembangan melalui workshop seperti ini. “Satu sasaran kita, yakni kelapa menjadi produk kehidupan masyarakat di Sulut, karena itu pengembangan klaster industri kelapa akan terus didorong serta terbentuknya industri kelapa terpadu,”paparnya. [yg]mtr]

Kesejahteraan Petani Sulut Naik Tipis

MANADO BISNIS - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mencatat, kesejahteraan petani Sulut naik tipis ditandai dengan peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,12 persen di bulan April 2014 dibanding bulan sebelumnya.
Aktivitas petani 

"NTP di bulan April tercatat sebesar 99,60 naik 0,12 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya hanya 99,48," kata Kepala BPS Sulut Faizal Anwar.

Faizal mengatakan NTP Sulut tersebut ditandai dengan indeks yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,80 persen, relatif lebih besar jika dibandingkan kenaikan harga dibayar petani meningkat 0,67 persen. "Di bulan April 2014, indeks yang diterima petani sebesar 110.76 dan indeks dibayar petani 111.20," katanya.

NTP Sulut sebesar 99.60 di April 2014, menurut Faizal, masih berada di bawah nilai nasional mencapai 101.80. "Meskipun NTP Sulut masih di bawah angka 100, namun terus mengalami peningkatan setiap bulannya," jelas Faizal.

Pergerakan indeks yang diterima petani dan dibayar tidak lepas dari kondisi perubahan harga komoditi dikonsumsi rumah tangga dan harga komoditi digunakan petani dalam melakukan usaha pertaniannya. "Di bulan April 2014, indeks harga untuk komoditi konsumsi rumah tangga petani mengalami peningkatan sebesar 1,49 persen sedangkan yang digunakan petani berupa biaya produksi dan penambahan barang modal juga mengalami peningkatan 0,18 persen," papar Faizal. [yg/mtr]