Kamis, Agustus 14, 2014

Sulut Kembangkan Bahan Bakar dari Pohon Seho

MANADO BISNIS  – Lagi Sulut fokus mengembangkan bahan bakar dari pohon seho atau pohon nira  yakni bioetanol, yang banyak tumbuh di propinsi nyiur melambai ini.
Pohon seho

Dikatakan Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)  Sulut  Benny Nongkan SE,  bioetanol ini bahan bakunya adalah nira aren  yang diambil dari pohon seho, kemudian diolah dengan teknologi penyulingan.  "Pengembangan bioetanol ini akan dilakukan di Kabupaten Minahasa Tenggara.  Dimulai  dengan memberikan sejumlah alat penyulingan kepada kelompok usaha di sana  agar bisa menghasilkan bioetanol dengan kualitas baik,"  ujarnya.
Dijelaskannya,  bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan. Bahan bakar tersebut dinilai memiliki keunggulan antara lain mampu menurunkan emisi karbondioksida (CO2) hingga 18 persen. Penyerahan alat penyulingan bioetanol ke kelompok usaha di Kabupaten Minahasa Tenggara itu merupakan yang pertama di Provinsi Sulut. "Dengan bantuan ini diharapkan bioetanol yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dengan volume lebih banyak," ungkap Nongkan.

Ia mengatakan Minahasa Tenggara memiliki lahan pohon aren yang cukup luas sehingga diharapkan dapat menghasilkan bioetanol yang nantinya bisa dijual ke industri untuk berbagai macam kebutuhan.  "Selama ini pohon aren hanya digunakan untuk membuat minuman cap tikus saja, padahal bisa dikembangkan untuk lainnya, yaitu bioetanol, yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," katanya.

Selain untuk industri, menurut Nongkan,  bioetanol juga bisa digunakan rumah tangga untuk memasak. Dengan berbagai keunggulannya dibandingkan dengan minyak tanah. “Minahasa Tenggara sendiri  berpeluang mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif sehubungan dengan kian terbatasnya bahan bakar minyak,” paparnya.

Ditambahkan Nongkan,  energi alternatif seperti bioetanol diharapkan dapat menjadi jawaban permasalahan kian terbatasnya sumber daya alam berupa minyak.Dirinya optimistis masyarakat akan merespon baik pengembangan bioetanol itu. "Semua harus berpikir dari sekarang bagaimana mencipatakan energi alternatif. Tentunya DPRD dan pemerintah harus mendukung sepenuhnya dari sisi regulasi, investasi serta segi pembangunan dan infrastruktur,"  harap Nongkan. (yg/mtr)

IKM Sulut Minim Gunakan BBM Bersubsidi

MANADO BISNIS -  Ternyata Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang ada di Sulut sangat kurang menggunakan BBM bersubsidi  terkait dengan produksinya. Itulah sebabnya bila pemerintah  membatasi penjualan BBM bersubsidi di Sulut belum akan berpengaruh pada pendapatan IKM yang ada.
Salah satu produk IKM

Hal ini diakui  Kepala Bidang Fasilitasi dan Pengembangan IKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan  (Disperindag) Sulut, Alwy Pontoh.  "Memang kebijakan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan secara langsung memberikan dampak besar ke IKM," ujarnya.

Kebijakan tersebut, menurut Pontoh, untuk tahap awal baru akan diberlakukan di beberapa provinsi namun tidak menutup kemungkinan, nantinya akan di Sulut sendiri. “IKM di Sulut tidak langsung berhubungan dengan BBM, mungkin nantinya yang akan berdampak pada biaya transportasi,” ungkapnya.
Meski demikian,  kata Pontoh, kenaikan ongkos transportasi tersebut tidak akan menyebabkan kenaikan harga karena masih lebih kecil dari keuntungan yang diperoleh dari produk-produk IKM.

Dia  menjelaskan memang ada IKM yang paling terkena pengaruh pembatasan penjualan solar subsidi karena keuntungan tidak besar. Meski demikian, dengan strategi pemasaran yang baik, pelaku sektor industri tertentu tetap dapat bertahan.

"Mereka bisa berkompromi dengan mengurangi ukuran atau menaikkan sedikit harga jual. Pasar itu kalau sudah ketergantungan dengan suatu produk, harga naik sedikit tidak masalah, pasar bisa memahami," katanya, seraya mengingatkan,  para pelaku IKM agar terus memperluas pasar mereka sehingga usahanya lebih stabil dan kuat. (yg/mtr)

Rabu, Mei 07, 2014

Sulut Kembali Genjot Pengembangan Klaster Kelapa

MANADO BISNIS- Pengembangan  klaster kelapa kembali digenjot Propinsi Sulut. Kali ini melalui kegiatan workshop yang digelar di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Selasa (06/05).

Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut ini dengan menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, Ellen Pakasi, Kadis Perkebunan Jenny Karouw dan Kadis Perindag Olvie Atteng, dengan peserta  instansi terkait,  pelaku usaha dan kalangan petani.

Salah satu pembicara Ellen Pakasi mengatakan, masih banyak klaster kelapa di Sulut yang belum dimanfaatkan petani, karena Sulut sendiri kaya dengan kelapa. "Seperti kopra putih, lebih mahal harganya dibandingkan kopra biasa, tapi kurang dimanfaatkan karena kendala teknologinya. Itulah sebabnya pemerintah akan berupaya pengadaan tungku atau tempat mengola kopra putih," ujarnya.
Dengan hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sulut, menurut Pakasi,  maka industri kelapa ini harus lebih dikembangkan lagi. "Nantinya ada Pokja KEK yang akan mesosialisasi industri kecil ini, termasuk di dalamnya industri kelapa," ungkapnya.

Sementara Kepala Disperindag Sulut Olvie Atteng mengatakan, pengembangan  klaster kelapa di Sulut  harus ditunjang dengan dana, teknologi dan sumber daya manusia. "Artinya walaupun kita memiliki dana dan teknologi, tapi tidak memiliki SDM maka tidak ada gunanya,"ungkapnya.

Itulah sebabnya menurut Atteng, produk kelapa ini harus memiliki daya tarik agar dibeli konsumen. Kemasannya paling utama harus disentuh  dengan teknologi dan SDM. "Disperindag Sulut sendiri akan bersedia mendanai kemasannya, karena di Sulut sendiri akan segera hadir rumah kemasan,"ungkap Atteng.
Ditambahkan Kabid Industri Disperindag Sulut Benny Nongkan, klaster kelapa sudah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu, namun harus diakui belum berkembang sebagaimana diharapkan, karena itu dilakukan pengembangan melalui workshop seperti ini. “Satu sasaran kita, yakni kelapa menjadi produk kehidupan masyarakat di Sulut, karena itu pengembangan klaster industri kelapa akan terus didorong serta terbentuknya industri kelapa terpadu,”paparnya. [yg]mtr]

Kesejahteraan Petani Sulut Naik Tipis

MANADO BISNIS - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mencatat, kesejahteraan petani Sulut naik tipis ditandai dengan peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,12 persen di bulan April 2014 dibanding bulan sebelumnya.
Aktivitas petani 

"NTP di bulan April tercatat sebesar 99,60 naik 0,12 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya hanya 99,48," kata Kepala BPS Sulut Faizal Anwar.

Faizal mengatakan NTP Sulut tersebut ditandai dengan indeks yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,80 persen, relatif lebih besar jika dibandingkan kenaikan harga dibayar petani meningkat 0,67 persen. "Di bulan April 2014, indeks yang diterima petani sebesar 110.76 dan indeks dibayar petani 111.20," katanya.

NTP Sulut sebesar 99.60 di April 2014, menurut Faizal, masih berada di bawah nilai nasional mencapai 101.80. "Meskipun NTP Sulut masih di bawah angka 100, namun terus mengalami peningkatan setiap bulannya," jelas Faizal.

Pergerakan indeks yang diterima petani dan dibayar tidak lepas dari kondisi perubahan harga komoditi dikonsumsi rumah tangga dan harga komoditi digunakan petani dalam melakukan usaha pertaniannya. "Di bulan April 2014, indeks harga untuk komoditi konsumsi rumah tangga petani mengalami peningkatan sebesar 1,49 persen sedangkan yang digunakan petani berupa biaya produksi dan penambahan barang modal juga mengalami peningkatan 0,18 persen," papar Faizal. [yg/mtr]

Senin, Desember 30, 2013

Perdagangan Kelapa di Sulut, tak Sebanding Kesejahteraan Petani

MANADO BISNIS - Tak dapat dipungkiri perdagangan kelapa dan turunannya di Sulut terus meningkat. Namun hal itu tak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan petani,  karena yang benar-benar sejahtera hanya pedagangnya.

James Mangkei, petani kelapa asal Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) mengaku sangat merasakan kesenjangan kesejahteraan petani dan pelaku usaha atau pedagang. "Di Minsel ada banyak perusahaan yang mengolah kelapa, seperti halnya tepung kelapa dan minyak kelapa. Harga kopra yang kami jual sangat murah hanya di kisaran Rp6.000-an per kilogramnya, Namun ketika sudah diolah oleh perusahaan langsung melambung harganya," ujarnya. 

Hal ini, ditambahkan Petrus Langi, petani kelapa lainnya, pemerintah harus membantu mencarikan solusi agar petani dan pedagang sama-sama sejahtera. "Mana peran pemerintah. Kami harapkan di tahun 2014 yang tinggal beberapa hari lagi, pemerintah harus tunjukkan keberpihakan pada petani,"pintanya.
Catatan harian ini, beberapa komoditi kelapa dan turunannya berhasil diekspor  pada bulan Desember ini. Diantaranya,
tuan rumah penyelenggara piala dunia 2014 Brazil, berhasilmembeli tepung kalapa Sulut. "Negera Brazil ini membeli 51 ton tepung kelapa, dengan nilai US$81.260. Pengiriman tepung kelapa ke Brazil dua kali dilakukan,” jelas Kepala Disperindag Sulut Olvie Atteng.

Dikatakannya, ekspor tepung kelapa ke Brazil menambah jumlah negara non tradisional yang menjadi peminat komoditas yang saat ini menjadi salah satu andalan ekspor Sulut. "Brazil merupakan negara potensial yang akan terus digenjot hingga tahun-tahun mendatang,"ungkapnya.

Komoditas lainnya, Crude Coconut Oil  (CCO) atau minyak kelapa kasar berhasil diekspor sebanyak 2000 ton ke Amerika Serikat (AS). "Pembelian CCO Sulut ini menghasilkan devisa untuk daerah sebesar 1.730.506 dolar Amerika," ujar Atteng.
Dikatakannya,  realisasi ekspor produk turunan kelapa tersebut, semakin memperkuat eksistensi komoditas andalan Sulut tersebut di pasar negara maju itu.

Minyak kelapa kasar selama ini merupakan komoditas yang paling diandalkan Sulut dalam meraup devisa, terbukti selama tahun 2012 lalu berdasarkan data Badan Pusat Statistik(BPS) Sulut, mampu mendatangkan devisa sebesar 689 juta dolar AS. "Capaian 689 juta dolar AS tersebut, mampu mendominasi 76 persen dari total ekspor hingga November yang tercatat sudah mencapai 904 juta dolar AS," paparnya.

Ada juga kopra yang diekspor ke Korea. "Kopra yang diekspor ke Korea sebanyak 5.500 ton dan mampu menghasilkan devisa bagi daerah sebesar US$1.210.000," ungkap Atteng. [yg/mtr]

Jelang Pisah Tahun, Terminal di Manado Padat

MANADO BISNIS  - H-1 perpisahan tahun 2013 ke 2014 di Sulut, sejumlah terminal penumpang di Kota Manado semakin padat dengan aktivitasnya.
Terminal Karombasan Manado

Seperti terpantau di terminal Karombasan berbeda dengan hari biasa. Terminal yang melayani angkutan Kawangkoan, Tombatu, Tareran, Tondano, Tomohon, Langowan, Ratahan, Kakas, Remboken ini makin sibuk. Calon penumpang berjubel menaiki bus yang akan ditumpangi.

Kepala Terminal Karombasan, Marten Belung menegaskan menjelang tahun baru Terminal Karombasan tetap mengantisipasi lonjakan penumpang. "Setiap atau sesudah Natal banyak kendaraan tertumpuk di Terminal Karombasan, Kami tidak takut mengatasi lonjakan penumpang untuk menggunakan jasa angkutan," ujar Marten. Ia yakin meski lonjakan tinggi, Terminal Karombasan bisa mengatasi dan sudah menyiapkan armada untuk masyarakat.

Ia menengarai, biasanya melonjaknya menggunakan jasa angkutan H-1 tahun baru. "Kami jamin setiap penumpang dan calon penumpang bisa teratasi untuk ke tempat tujuan," janjinya.
Menurut Marten bila dibandingkan dengan hari biasa, sejak Natal dan memasuki tahun baru, jasa angkutan mengalami kenaikan 30 persen.

Ia  mengimbau kepada pengemudi, sebelum berangkat terlebih dahulu harus siapkan kendaraan, mengecek mobil mulai dari onderdil, ban dalam kondisi kendaraan agar berfungsi dengan baik. "Terutama musim penghujan wiper dan lampu harus berfungsi supaya penumpang merasa nyaman dan bisa sampai di tempat tujuan dengan baik," tambahnya. [yg/mtr]

Jumat, November 08, 2013

Sulut Masih Koleksi 67,7 Ribu Pengangguran

MANADO BISNIS - Sulut ternyata masih mengoleksi 67,7 ribu pengangguran, sebagaimana data Agustus 2013 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut. Angka penganggurannya pun yang saat ini 6,68 persen di atas nasional yang hanya 6,25 persen.  


Demikian dikatakan Kepala BPS Sulut Faizal Anwar. "Secara relatif angka pengangguran Sulut menunjukkan penurunan dari 7,19 persen pada Februari 2013 menjadi 6,68 persen pada Agustus 2013," terangnya.

Walaupun ada perbaikan, lanjut Anwar, angka pengangguran Sulut masih di atas angka pengangguran nasional. Karena Pada Agustus 2013 lalu tingkat pengangguran terbuka nasional hanya 6,25 persen. "Jadi meski pengangguran Sulut turun, dibandingkan nasional masih tinggi," paparnya.

Sementara jumlah pengangguran Agustus 2013, menurut Anwar, sebesar 67,7 ribu orang. Hal ini mengalami penurunan sebanyak 13,1 ribu orang dari bulan Agustus 2012. Begitu pula dibandingkan dengan keadaan Februari 2013 turun sebanyak 10,5 ribu orang. "Sedangkan tingkat pengangguran terbuka selama tiga tahun terakhir turun 8,62 persen (Agustus 2011), turun menjadi 7,79 persen (Agustus 2012) dan menjadi 6,68 persen (Agustus 2013). Dibandingkan nasional 6,25 persen TPK Sulut tinggi," ungkap  Anwar.  

Lebih lanjut dijelaskannya, dilihat perbandingan desa dan kota di Sulut, tingkat pengangguran lebih tinggi terjadi di wilayah perkotaan capai 8,17 persen sebagai penganggur terbuka atau setara dengan 38,2 ribu orang. Sedangkan di perdesaan tingkat pengangguran 5,40 persen atau 29,5 ribu orang. "Dibandingkan Februari 2013 di perkotaan terjadi penurunan tingkat dan jumlah pengangguran, sedangkan di perdesaan malah  meningkat sebesar 1,5 persen," papar Anwar. [yg/mtr]