![]() |
| Kantor Pertamina Manado (foto : ist) |
"Harus diakui masyarakat pengguna minyak tanah masih cukup banyak, karena itu menjelang hari besar agama bahan bakar minyak tanah ini supaya tetap tersedia," kata Ketua YLKI Sulut, Aldy Lumingkewas.
Dikatakannya, berkurangnya minyak tanah di pasaran akan berdampak buruk, sebab selain penggunaan elpiji masih kurang maksimal, juga masih cukup banyak warga yang belum menerima peralatan konversi tersebut. “Saat ini saja sudah mulai terlihat dampak negatif dari kebijakan pembatasan minyak tanah oleh Pertamina, dimana warga mengantre membeli di lokasi pangkalan minyak tanah,” ujar Lumingkewas.
Soal sosialisasi penggunaan peralatan elpiji, lanjut dia, diminta jangan putus di tengah jalan, tetapi harus terus dilakukan, sehingga masyarakat menjadi paham benar bagaimana menggunakan kompor elpiji dengan aman. "Pemberitaan yang dibesar-besarkan bila terjadi kebakaran disebabkan elpiji, menjadi salah satu penyebab sehingga masyarakat belum optimal gunakan bahan bakar pengganti minyak tanah tersebut, elpiji,” tandasnya.
Sementara itu, Sales Area Manager BBM Retail Pertamina Manado, Irwansyah mengatakan, kebijakan pembatasan penyaluran minyak tanah bukan dari pihaknya, tetapi dari pemerintah pusat. "Penurunan distribusi minyak tanah ke masyarakat, karena alokasi subsidi yang diputuskan DPR dalam APBN perubahaan sudah mengalami pengurangan," paparnya.
Pertamina sendiri, menurut Irwansyah, hanya menjadi penyalur minyak tanah, sementara yang menentukan apakah alokasi diturunkan atau dinaikkan, adalah pemerintah pusat. (yg/mtr)








































