Minggu, Oktober 30, 2011

Pertamina Diminta 'Hormati' Natal, Jatah MT Jangan Dikurangi


Kantor Pertamina Manado (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Umat kristiani di Sulut tidak lama lagi akan merayakan Natal dan Tahun Baru. Terkait itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulut minta Pertamina jangan dulu mengurangi minyak tanah (MT)  yang dipasok ke masyarakat jelang Natal dan Tahun Baru.

"Harus diakui masyarakat pengguna minyak tanah masih cukup banyak, karena itu menjelang hari besar agama bahan bakar minyak tanah ini supaya tetap tersedia," kata Ketua YLKI Sulut, Aldy Lumingkewas.

Dikatakannya,  berkurangnya minyak tanah di pasaran akan berdampak buruk, sebab selain penggunaan elpiji masih kurang maksimal, juga masih cukup banyak warga yang belum menerima peralatan konversi tersebut. “Saat ini saja sudah mulai terlihat dampak negatif dari kebijakan pembatasan minyak tanah oleh Pertamina, dimana warga mengantre membeli di lokasi pangkalan minyak tanah,” ujar Lumingkewas.

Soal sosialisasi penggunaan peralatan elpiji, lanjut dia,  diminta  jangan putus di tengah jalan, tetapi harus terus dilakukan, sehingga masyarakat menjadi paham benar bagaimana menggunakan kompor elpiji dengan aman. "Pemberitaan yang dibesar-besarkan bila terjadi kebakaran disebabkan elpiji, menjadi salah satu penyebab sehingga masyarakat belum optimal gunakan bahan bakar pengganti minyak tanah tersebut, elpiji,” tandasnya.

Sementara itu,  Sales Area Manager BBM Retail Pertamina Manado, Irwansyah mengatakan, kebijakan pembatasan penyaluran minyak tanah bukan dari pihaknya, tetapi dari pemerintah pusat. "Penurunan distribusi minyak tanah ke masyarakat, karena alokasi subsidi yang diputuskan DPR dalam APBN perubahaan sudah mengalami pengurangan," paparnya.

Pertamina sendiri, menurut Irwansyah,  hanya menjadi penyalur minyak tanah, sementara yang menentukan apakah alokasi diturunkan atau dinaikkan, adalah pemerintah pusat. (yg/mtr)

Hutang, Penyebab Penyaluran Raskin Terhambat


Raskin untuk masyarakat miskin (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Ternyata  hutang  beras miskis (raskin) kabupaten/kota di Sulut,  ke  Divisi Regional (Divre) Bulog  telah  mencapai Rp15 miliar.

Itulah sebabnya  penyaluran raskin sering kali terhambat, karena salah satu penyebab hutang tersebut.
 Hal ini dikatakan  Kepala Divre Bulog Sulawesi Utara, Muhammad Hasyim. “Tunggakannya memang cukup besar yakni mencapai Rp15 miliar. Ini untuk tunggakan sepanjang tahun ini,” ujarnya

Dia mengatakan, tunggakan sebesar ini terjadi di kota/kabupaten yang ada di Sulut. Namun dia optimis, tunggakan ini akan diselesaikan masing-masing kota/kabupaten sebelum tahun 2011 berakhir. “Tahun 2010, tunggakan yang tersisa masih sebesar Rp100 juta. Padahal sudah seharusnya dilunasi. Kami harapkan tunggakan tahun ini sedapat mungkin dilunasi sebelum natalan,” harapnya.

Dia mengakui, seharusnya untuk distribusi raskin mengenal “cash and carry”, hanya saja cara seperti ini tidak bisa diberlakukan di Propinsi Sulut  dengan berbagai pertimbangan. “Akibatnya seperti ini. Tapi yang terpenting uang itu tidak berada di aparat tapi di masyarakat,” katanya.

Karena itu, dikatakan Hasyim, kantong-kantong yang menunggak setoran raskin akan dikunjungi sehingga setiap hari ada peningkatan pelunasannya. “Mudah-mudahan ada perkembangan setiap waktu sehingga angka Rp15 miliar berangsur-angsur dikurangi,”  ungkapnya.

Sementara soal penggunaan kartu raskin, menurut Hasyim,  tidak efektif. Sebab  saat ini  bulog melakukan program door to door. "Jadi kami kunjungi daerah mana yang masih ada piutang," katanya.

Ditambahkan  Kepala Divisi Penyaluran Bulog Pusat Ir Putri Lenggogeni, jika utang menjadi satu di antara faktor penyebab terhambatnya penyaluran raskin. "Memang masih banyak yang belum lunas. Tapi kami berharap mudah-mudahan dalam waktu dekat ini bisa lunas," tandasnya.(yg/mtr)

BI Manado Luncurkan Uang Kertas Desain Baru


MANADO BISNIS  - BI Manado meluncurkan uang kertas desain baru pecahan Rp 20.000,  Rp 50.000  dan Rp100.000,  guna menambah pengaman sehingga mempersulit pemalsuan uang.

Hal ini dikatakan Pemimpin BI Manado, Ramlan Ginting saat launching uang desain baru tersebut di Kantor BI Manado, pekan lalu.  “Ketiga jenis uang tersebut paling banyak dipalsukan karena itu BI menambah desain baru dengan tambahan rainbow, bulatan kecil dan cetakan khusus untuk tunatera,” ujarnya.

Pecahan uang dengan desain baru tersebut,  menurut Ginting, yakni pecahan Rp 20.000  tahun emisi 2004, pecahan Rp50.000  tahun emisi 2005, dan pecahan Rp100.000 tahun emisi 2004.  “Uang desain baru tersebut mulai diedarkan ke masyarakat pada 31 Oktober 2011,” tandasnya.

Diutarakan Ginting,  uang desain baru  terdapat latar belakang pengamanan untuk mempersulit pemalsuan uang berupa rainbow, sedangkan titik sebelah kiri ada tambahan kode tertentu terdiri dua buah lingkaran yang akan terasa kasar apabila diraba. Fitur pengaman yang ditambahkan, pada sebelah kanan gambar utama terdapat rainbow painting dan cetakan plano. Selain itu,  untuk semua jenis uang tersebut berbentuk segi empat yang akan berubah warna apabila dilihat dari sudut pandang berbeda, atau warna pelangi, sedangkan pada uang lama tidak ada. “Pada sebelah kanan gambar utama, terdapat elemen desain berbentuk lingkaran kecil yang letaknya tersebar, tanda tersebut tidak ada pada uang lama,” papar Ginting.

Uang desain baru ini,  lanjut Ginting, disesuaikan dengan kebutuhan seluruh masyarakat termasuk para tunanetra agar dapat mengenali uang rupiah. Langkah ditempuh BI ini bukan pengedaran uang kertas baru dan bukan mencabut uang kertas yang berlaku saat ini, tetapi lebih merupakan langkah  menyempurnakan pecahan uang yang ada,  sehingga lebih sempurna. “ Stok uang desain baru  ini di BI Manado yang sudah tersedia saat ini, pecahan Rrp 100.000 sebanyak Rp 100 miliar, pecahan Rp50.000  dengan stok Rp125 miliar,  dan pecahan Rp 20,000  dengan stok di khasanah BI Manado Rp 4 miliar,” ungkap Ginting. (yg/mtr)

Rabu, Oktober 26, 2011

Trans Studio Manado Diseriusi Para Grup


Pemimpin Para Grup Chairul Tanjung (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Pembangunan Trans Studio di Kota Manado, yang oleh sejumlah kalangan menyatakan masih sebatas wacana, dibantah oleh pihak para grup. Menurut salah satu pimpinan anak perusahaan Para Grup di Manado, pihak para grup sangat serius untuk membangun  Trans Studio di Kota Manado.

“Siapa bilang bos kami (maksudnya Chairul Tanjung, pemilik Para Grup)  tidak serius membangun Trans Studio di Manado. Dia sangat serius, total investasinya pun sekitar Rp 1 triliun,” ujar sumber resmi ini, namun  meminta namanya jangan disebut karena  mengaku bukan kapasitasnya menjelaskan, dan  tidak  ditunjung Para Grup. 

Menurut dia, yang menjadi kendala saat ini soal legalitas lahan. Sebab lahan yang akan dibangun Trans Studio itu, di  kawasan Gedung Koni Sulut, saat ini masih berdiri bangunan pemerintah, seperti Kantor DPRD dan gedung kesenian. “Jadi Kantor DPRD, Gedung Koni dan Gedung Kesenian harus  pindah dulu, baru  rencana pembangunan Trans Studio itu  terealisasi,” jelasnya.

Adapun lahan yang harus disediakan, lanjut sumber, sekitar tiga hektar karena di dalamnya akan juga dibangun hotel serta mall, disamping Trans Studia sebagai pusat sarana rekreasi dan hiburan. “Direncanakan proses pembangunan Trans Studio itu mulai tahun 2012. Namun itu juga tergantung Pemprop Sulut apakah menyambut dengan baik investasi yang masuk ,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakannya, sebenarnya Chairul Tanjung akan membeli Boulevard Mall yang sudah lama terdiam pembangunannya dan akan dijadikan Trans  Studio. Namun karena dianggapnya terlalu kecil, sehingga membatalkannya. “Bos kami menganggap itu (Boulevard Mall) terlalu kecil, sehingga membatalkannya untuk membeli. Selain itu kensep pembangunannya tidak mau kalau di kawasan Trans Studio berjejer ruko-ruko,” ungkapnya.

Sebelumnya,  Pemimpin Grup Para Chairul Tanjung merencanakan pembangunan 20 pusat hiburan terpadu, “Trans Studio Theme Park” dengan total investasi sekitar Rp40 triliun hingga 2020. “Kami akan bangun 20 Trans Studio lagi,” katanya di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) Asia Timur di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Chairul, pembangunan 20 Trans Studio tersebut di luar Makassar, Bandung, dan Jakarta. “Saat ini, pusat hiburan yang berada di ruang tertutup (indoor)  harus banyak dibangun di Indonesia,” paparnya. (yg/mtr)

BI Dorong Setiap Kecamatan Miliki Produk Unggulan


MANADO BISNIS  -  Diskusi tentang Komoditi Produk Jenis Unggulan (KPJU) Usaha Mikro Kecil dan Menangah (UMKM) kembali dilaksanakan Bank Indonesia  (BI) Manado. Kali ini memilih lokasi Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel)

"Diskusi guna mengetahui dari para narasumber dalam rangka pengumpulan informasi dan penyempurnaan penyusunan penelitian nantinya.Sehingga tujuannya memetakan masing-masing kecamatan mempunyai produk unggulan sehingga menjadi informasi yang valid," kata Pemimpin BI Manado, Ramlan Ginting,melalui Peneliti Ekonomi Madya BI Manado, Eko Siswantoro.

Dijelaskannya,  dengan adanya mapping di Minsel sehingga perlu adanya koordinasi dengan para SKPD.  Sebab hal ini menjadi daya tarik investor dalam melakukan pendanaan termasuk perbankan. “Dampak ikutannya akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat .Untuk memperoleh informasi yang valid maka tim peneliti dari Unsrat dan BI melakukan kunjungan langsung ke masing-masing kecamatan dan kabupaten sehingga datanya menjadi valid dengan kondisi tersebut,” papar Siswantoro.

Penelitian tersebut, lanjut dia,  dilakukan di 15 Kabupatan sebanyak 130 kecamatan dengan melibatkan langsung dari penilitian Unsrat.  Rencananya pada akhir tahun 2011, para peneliti sudah menghasilkan lima komoditi KPJU yang unggulan. "Tim ini telah melakukan survei sejak bulan Juni kemarin dan berakhir 13 Desember 2011.Kita nanti akan melakukan fokus group discussion di tingkat kecamatan, lalu kabupaten dan kemudian di tingkat provinsi," ucap Siswantoro.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Sekretaris Daerah Minsel, Drs M C Kairupan, Analis Muda Senior BI Manado, Dicky Ch Kolanus, dan beberapa pejabat daerah Minsel lainnya. Siswantoro berharap, penelitian tersebut bisa menjadi baik di level pemda dan perbankan. (yg/mtr)

2014, Sulut Berpeluang Krisis Ikan


Nelayan harus diberdayakan lagi (foto : ist)
MANADO BISNIS  -  Krisis ikan konsumsi mengancam Indonesia, termasuk di dalamnya Sulut pada tahun  Tahun 2014.  Diperkirakan akan terjadi kekurangan ketersediaan ikan sebanyak 11,15 juta ton. Ini akibat meningkatnya konsumsi ikan, tetapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan produksi dan perlindungan pasar dalam negeri.

Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana di Jakarta mengimbau agar pemerintah serius mengantisipasi ancaman ini. “Rencana strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010-2014 memproyeksikan, produksi ikan nasional, tangkap ataupun budidaya, pada 2014 mencapai 22,54 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan ikan nasional 33,68 juta ton, dengan asumsi konsumsi ikan 38,67 kilogram per kapita per tahun sehingga ada defisit ikan 11,15 juta ton,” jelasnya.

Diperkirakan Suhana,  pada tahun 2014 ada 18 provinsi yang defisit pasokan ikan. Jawa Barat, misalnya, produksi ikannya 1,63 juta ton, kebutuhannya 4,06 juta ton sehingga defisit 2,43 juta ton ikan. Sebanyak 15 propinsi kelebihan produksi ikan. Provinsi tersebut NTT, Sulawesi Tenggara, NTB, Sulsel, Sulteng, Sulut, Gorontalo, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Maluku, Sulbar, Sumatera Selatan, Maluku Utara, Sumatera Barat, dan Papua Barat. Kekurangan pasokan ikan untuk konsumsi dalam negeri, menurut Suhana, akan kian parah karena orientasi produksi perikanan untuk ekspor. Padahal, impor perikanan terus naik.

Di Sulut sendiri, menurut Kepala DKP Happy Korah, usaha mina pedesaan merupakan kelompok basis produksi perikanan yang potensial, karena itu pemerintah mengalokasikan dana cukup besar kepada mereka. “Pemerintah Provinsi Sulut mendorong target pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen ikan terbesar tahun 2014, karena itu program mina pedesaan ini terus dioptimalkan,” kata Korah.

Ia menjelaskan, program pemberdayaan produksi perikanan Sulut ada dua program utama, selain usaha mina pedesaan ini, yang sama pentingnya yakni pengembangan minapolitan perikanan. “Di Sulut ada delapan kawasan akan dikembangkan menjadi kawasan terpadu program perikanan atau minapolitan,” jelasnya.

Guna menyukseskan program minapolitan tersebut, maka pemerintah membantu sarana dan prasarana kawasan yang akan jadi minapolitan. “Yang baru saja menjadi bantuan infrastruktur dari Kementerian Pekerjaan Umum yakni Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara dan Sangihe,” papar Korah (yg/mtr)

Selasa, Oktober 25, 2011

Sejumlah Buyers Incar Komoditas Sulut


Salah satu komoditas Sulut (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Komoditas Sulawesi Utara yang dipamerkan di Trade Expo Indonesia (TEI) di Jakarta baru-baru ini, menghasilkan sejumlah peluang bisnis. Hal ini dikarenakan ada belasan buyers (pembeli) dari luar negeri dan dalam negeri menawarkan kerja sama,  untuk membeli sejumlah komoditas tersebut.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut  Sanny Parengkuan, keikutsertaan Sulut ke TEI sangat positif untuk  pengembangan ekspor. “Pada kegiatan itu, sekitar sepuluh lebih buyers datang berkunjung ke stand Sulut untuk  mencari sejumlah komoditas, yang kebanyakan adalah produk turunan kelapa, ikan  dan pala,” ujarnya.

Para buyers ini, kata Parengkuan, kebanyakan  berasal dari luar negeri, seperi Taiwan, China, Jepang dan Belanda, bahkan ada juga yang dari dalam negeri. Pihak Disperindag Sulut sendiri,  langsung melayaninya dengan memberikan penjelasan-penjelasan soal mutu dari berbagai komoditas yang dicari tersebut. “Kelihatannya para buyers ini sangat serius untuk mendapatkan komoditas-komoditas yang mereka cari,” ungkapnya.

Yang paling dicari, menurut  Parengkuan, adalah tepung kelapa, bungkil kelapa, ikan kayu, ikan kaleng dan pala. Di antara  para buyers ini pun,  langsung memimta alamat dan telepon  eksportir Sulut yang bisa mereka  dihubungi. “Disperinindag siap memfasilitasi para buyers ini dengan dunia usaha yang ada di Sulut,” tandasnya.

Lebih lanjut  dijelaskan  Parengkuan, dalam beberapa hari ke depan ini, pihaknya akan memanggil para dunia usaha di Sulut, untuk memberikan penjelasan soal komoditas-komoditas yang dicari para  buyers tersebut di  TEI. “Ini namanya peluang bisnis yang harus kita dapat dan tingkatkan,” paparnya.

Sekedar diketahui, tujuan ekspor Sulut saat ini sudah merambah di semua benua yang ada. 10 besar Negara yang banyak meminta komoditas Sulut tersebut, masing-masing, Belanda, Amerika Serikat, Cina, Korea Selatan, Jepang, Jerman, Meksiko, Mesir, Saudi Arabia dan Yaman. (yg/mtr) 

Sulut Kembali Ekspor Pala dan Cakalang Beku


MANADO BISNIS  -  Ekspor  ikan cakalang beku kembali bergairah di Sulut. Ini menyusul dikirimnya  ikan tersebut ke Jepang, pada pekan lalu.

“Negara Jepang, kembali meminta ekspor ikan cakalang beku. Dan pada pekan lalu pun berhasil diekspor sebanyak 25 ton, dengan nilai Rp 3,5 juta yen,” ujar Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut,  Hanny Wajong.

Ikan cakalang beku, lanjut dia, sangat digemari masyarakat yang ada di Jepang, karena selain memiliki protein yang tinggi,  ikan cakalang beku ini akan juga diolah menjadi makanan kas Jepang. Dengan begitu, permintaan ekspor ikan cakalang beku ini hampir setiap bulan ada. “Perusahaan yang mengekspornya, sebagian besar  berkedudukan di Kota Bitung,”  ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Wajong, pada pekan berjalan lalu, Sulut juga berhasil mengekspor komoditas turunan pala ke Italia. Diketahui  sebanyak 45 ton biji pala sudah berhasil diekspor dengan tiga kali pengiriman. “Dari ekspor pala biji ini mendatang devisa untuk daerah, masing-masing, 360.000  dolar AS, 277.000  dolar AS dan 375.000  dolar AS,” ujarnya.

Selain itu,  juga telah mengekspor  bunga pala sebanyak 15 ton ke Italia.  Nilainya pun mencapai 375.000 dolar AS.   “Khusus Negara Italia ini sangat dominan meminta komoditas pala dan turunannya. Setiap bulan sekitar 100 sampai 200 ton diekpor ke negara tersebut,” papar Wajong.  

Sebelumnya, berkaitan dengan ekspor pala ke Italia tersebut, pihak  Balai Pengawasan Mutu Barang (BPMB)  Disperindag Sulut telah  melakukan uji mutu komoditas pala. “Kita sudah beberapa kali melakukan uji mutu pala yang akan diekspor ke Italia karena sudah memiliki peralatan laboratorium memadai dan mampu memenuhi kualitas sesuai keinginan pembeli Italia,” kata  Kepala BPMB  Disperindag Sulut Aneke Mandagi.

Dijelaskannya,  pengujian yang dilakukan BPMB sebagai salah satu surveyer yang sudah mendapat pengakuan Komite Akreditasi Nasional-Badan Standardisasi Nasional (KAN-BSN), telah memenuhi standar internasional. Karena itu, pelaku ekspor daerah ini agar memanfaatkan wadah pengujian milik pemerintah daerah.(yg/mtr)

Senin, Oktober 24, 2011

Pedagang Ayam Sulut Diminta Tetap Waspada Flu Burung


Ayam yang kena flu burung dimusnahkan (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Meski dua bulan lagi perayaan Natal, dan dipastikan permintaan daging ayam akan meningkat, pemerintah tetap meminta pedagang mewaspadai virus flu burung. Itulah sebabnya surat keterangan bebas AI harus tetap diperhatikan pedagang.

Hal ini ditegaskan Kepala  Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)
Sulut Sanny Parengkuan.  “Kami  mewarning dan minta pedagang produk ayam untuk tetap waspada terhadap virus avian influenza (flu burung) menyusul permintaan daging ayam biasanya mengalami kenaikan jelang natal,” ujarnya.

Dikatakan Parengkuan,  di Kota Manado hingga saat ini memang belum ditemui serangan virus tersebut terhadap ternak ayam dan unggas, namun pedagang harus tetap mewaspadai dengan mengikuti prosedur perdagangan sebagaimana diatur selama ini.  Prosedur perdagangan ayam dan unggas yang berasal dari luar daerah, harus memenuhi ketentuan diantaranya surat keterangan bebas AI (avian influenza) dari dinas peternakan setempat dan yang lainnya.

"Surat keterangan bebas AI harus dibawa selama dalam perjalanan pengangkutan produk ayam dari luar daerah, karena dengan dasar itulah akan mudah diawasi apakah produk ayam tersebut bisa masuk ke suatu daerah atau tidak,"  jelasnya.

Termasuk yang masuk dalam pengawasan bebas AI itu,  menurut Parengkuan, perdagangan telur ayam. "Telur ayam yang masuk ke Kota Manado, sebagian besar dari daerah lain seperti Makassar dan beberapa daerah di pulau Jawa, karena itu persyaratan bebas AI dan lainnya, wajib ditaati," ungkapnya.

Propinsi Sulut sendiri, lanjut  Parengkuan,  membutuhkan sekitar 15 juta butir selama bulan Desember, karena produk tersebut menjadi bahan baku utama untuk pembuatan kue Natal. "Jelang Natal sebagian besar masyarakat yang rayakan Natal akan menyiapkan berbagai jenis kue, ini akan mendorong permintaan terhadap telur ayam cukup tinggi,” paparnya.

Sementara Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Sulut, Ria Dunggio mengatakan, masyarakat Sulut tidak perlu khawatir karena pemerintah daerah melakukan pengawasan secara ketat terhadap produk ayam dan telur yang masuk ke daerah ini.(yg/mtr)

Pemadaman Listrik Resahkan Warga Manado


Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan (foto : ist)
MANADO BISNIS  - Pemadaman listrik pada dua pekan terakhir telah meresahkan warga Kota Manado. Menyikapi ini pun, Pemkot Manado  mendesak PT PLN  mengklarifikasi atau menjelaskan kepada masyarakat terkait pemadaman listrik tersebut.

Menurut Wakil Walikota Manado Harley AB Mangindaan SE MSM, jika memang ada kerusakan atau perbaikan, pemerintah harus diberitahu. “Kalau kita diberitahu pastinya kami bisa ikut membantu menjelasakan kepada masyarakat sebagai konsumen PLN yang merasa dirugikan dengan pemadaman ini,” kata Mangindaan.

Kalau alasan pemadamannya adalah untuk pemeliharaan atau peningkatan pelayanan, lanjut dia,  tentu pemerintah akan mendukung dan ikut melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sebab nantinya yang akan merasakan dampaknya adalah warga Manado juga.

Sementara itu,  Kepala Bagian Humas PLN Suluttenggo Lefrand Maleke menjelaskan, pemadaman listrik yang terjadi dalam dua pekan ini bukan kesengajaan, tetapi karena sedang melakukan perbaikan jaringan di seluruh wilayah Manado. “Dalam kurun waktu sampai tiga pekan ini, kami melakukan pemeliharaan jaringan mulai dari memperbaiki yang sudah aus serta merapikan pohon-pohon di jalan, agar tidak merusak jaringan listrik. Sehingga listrik harus dipadamkan sementara waktu, untuk mencegah jangan sampai ada kecelakaan kerja,” kata Maleke.

Lebih jauh dikatakan Maleke perbaikan dan pemeliharaan jaringan ini dilakukan di seluruh wilayah Manado. Jadi semua ranting berkumpul sehingga tidak ada yang dipadamkan dan lainnya dibiarkan menyala, semuanya dipadamkan supaya pekerjaan lancar dan cepat selesai. “Saya menegaskan di sini tidak ada pemadaman listrik bergilir, begitu perbaikan dan pemeliharaan jaringan ini selesai, maka seluruh listrik di Manado akan tersalur kepada para pelanggan dengan baik,” janjinya. (yg/mtr)

Sulut 'Kebanjiran' Bahan Baku Ikan untuk Pabrikan


MANADO BISNIS  –  Sulut sudah dua  bulan belakangan ini kebanjiran bahan baku ikan untuk diolah dipabrikan. Itulah sebabnya,   Unit Pengelola (UP) hasil tangkapan ikan harus putar otak dengan menjual ikan ke luar daerah dan luar negeri agar tidak merugi.
Nalayan sedang memperbaiki jaringnya (foto : ist)
                             
“Saat ini hasil tangkapan Ikan mencapai 700 ton per hari, sementara Perusahaan yang ada di Kota Bitung hanya mampu membeli hingga 300-400, ton, jadi sisanya terpaksa harus di jual ke luar,” ujar Kepala Asosiasi Kapal Perikanan Nasional (AKPN) Bitung Rudy Walukow SH MH.

Dikatakannya, sejumlah daerah di Indonesia yang dituju   adalah Jakarta, Surabaya, dan beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan untuk luar negeri yang paling banyak dituju adalah Jepang dan Thailand. “Karena Perusahaan tidak mampu mengcover, usaha Perikanan Tangkap terpaksa menjual ke luar daerah dan luar Negeri. Dan ini sudah berlangsung hampir sebulan,”  terangnya.

Meski begitu  dua berkeyakinan harga saat ini per Kg-nya tidak akan turun drastis dibawah sepuluh ribu seperti beberapa tahun lalu yang mencapai hingga Rp 6 Ribu. “Untuk harga saat ini kemungkinan akan tetap stabil pada kisaran 10-13 Ribu,”  ungkapnya.

Sementara itu, berkaitan dengan ikan dijual di luar negeri itu, diakui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulut Happy Korah, sangat optimistis komoditas ikan produksi nelayan daerah ini tetap laku di pasar Eropa kendati negara di kawasan tersebut sedang dilanda krisis keuangan.

Menurutnya, pemberdayaan yang terus dilakukan pemerintah terhadap nelayan ternyata berbuah baik dimana nelayan mampu menghasilkan komoditas yang berkualitas baik, ini memudahkan industri perikanan memproses ikan untuk diekspor. “Perlu diketahui,  realisasi perikanan budidaya nelayan Sulut hingga bulan Juli 2011, sudah mencapai 69.978 ton atau 50,31 persen dari target tahunan sebesar 139.090 ton. Produksi perikanan Sulut terbanyak di Kabupaten Minahasa Utara(Minut) 35.183,25 ton, atau lebih separuh dari total produksi ikan provinsi ini hingga Juli sebesar 69.978 ton,” papar Korah. (yg/mtr)

Penyaluran Dana PKH Bitung Capai 74 Persen


MANADO BISNIS  - Penyaluran dana Program Keluarga Harapan (PKH)  untuk Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM)  tahap ketiga tahun 2011  masih tetap berjalan  di Sulut. Dan khusus  Kota Bitung,  mencapai sekitar 74 persen.

Humas PT Pos Indonesia Manado Jhon Tampaty,  pada sejumlah wartawan akhir poekan lalu  mengatakan,  pelaksanaan penyaluran dana program keluarga harapan (PKH) di daerah ini masih berjalan. "Sejak penyaluran pekan lalu sampai saat ini telah terealisasi sekitar 74 persen," kata Tampaty juga Supervisor PKH Sulut.

Dikatakannya,   alokasi dana PKH tahap ketiga di Bitung sekitar Rp977,350 juta untuk 3.242  RTSM . Dari jumlah tersebut telah terealisasi sekitar Rp695,450 juta untuk 2.286 RTSM. "Diperkirakan hingga batas penyaluran dana tersebut realisasinya akan mengalami peningkatan," ujar Tampaty.

Menurut dia, dibandingkan tiga daerah lainnya di Sulut yakni Kota Manado, Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Minahasa Selatan, penyaluran dana tahap ketiga di Bitung agak terlambat. Ketiga daerah tersebut lebih dulu melaksanakannya, baru kemudian kota Bitung. Terlambatnya penyaluran tersebut antara lain hasil "closing" verifikasi penerima yang masuk ke pusat juga mengalami keterlambatan. “Dengan kondisi ini pelaksanaan penyalurannya baru dilaksanakan pekan lalu,” ungkapnya.

Kantor Pos Manado sebelumnya telah menyalurkan dana PKH tahap pertama untuk RTSM yang berada di Manado, Minahasa dan Minahasa Selatan. "Di Kota Manado alokasinya sekitar Rp986 juta untuk 3.324 RTSM yang tersebar di Kecamatan Bunaken, Mapanget, Tikala, Malalayang, Tuminting dan Wanea,"  paparnya.

Akan  halnya  Kabupaten Minahasa, menurut Tampaty,  sekitar Rp1,05 miliar untuk 3.541 RTSM yang tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Eris, Remboken, Kakas, Kawangkoan, Langowan Barat, Langowan Timur, Pineleng, Tombulu, Tombariri, Tompaso, Tondano Barat dan Tondano Timur. "Sedangkan di Kabupaten Minahasa Selatan sekitar Rp893,750 juta kepada 2.779 RTSM di Kecamatan Tenga, Kumelembuai, Motoling, Modoinding, Tompaso Baru, Ranoyapo, Sinonsayang dan Tumpaan," jelasnya. (yg/mtr)

Minggu, Oktober 23, 2011

Sulut Pacu Ekspor Pasar Non Tradisional


Ikan salah satu komoditas ekspor Sulut (foto : MANADO BISNIS)
MANADO BISNIS – Kawasan Eropa Timur yang sedang dilanda krisis keuangan saat ini, sangat  potensial untuk pengembangan ekspor pasar non tradisional oleh Propinsi Sulut. Itulah sebabnya akan dioptimalkan peluang tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Sanny Parengkuan. “Pemerintah Propinsi Sulut dipimpin Gubernur Sulut melakukan terobosan membuka akses pasar ke Eropa Timur di antaranya Rusia, ini yang akan kami tindaklanjuti,”  ujarnya.

Dikatakan Parengkuan,  sebagian negara di Eropa Timur membutuhkan komoditas yang ada di Sulut, peluang yang tercipta ini akan dioptimalkan sebaik-baiknya. “Krisis keuangan yang melanda kawasan Eropa dan Amerika membuat negara tersebut mengalami kesulitan dalam mengimpor bahan kebutuhan masyarakat, karena itu pasar non-tradisional menjadi pilihan untuk pemasaran komoditas unggulan daerah,”  tandasnya.

Kementerian Perdagangan,  kata  Parengkuan, sudah memberi peringatan tentang dampak krisis keuangan di Eropa dan Amerika terhadap ekspor dan dampaknya akan mulai terasa pada 2012. “Karena itu, pemerintah propinsi sudah mempersiapkan beberapa alternatif pasar yang dapat dioptimalkan dalam upaya mempertahankan ekspor tetap tumbuh baik,”  ungkapnya.

Pemerintah  Propinsi  Sulut sendiri, menurut Parengkuan,  terus mendorong ekspor dengan meningkatkan penetrasi pasar non-tradisional, atau pasar yang selama ini belum dioptimalkan dengan baik. Data ekspor Sulut menunjukkan segmen pasar Eropa cukup dominan, dengan negara tujuan utama seperti Belanda, Jerman, Italia, Inggris, Spanyol dan lainnya. “Komoditas paling mendominasi ke pasar Eropa,  terutama minyak kelapa mentah (crude coconut oil/CCO), pala dan fuli, tepung kelapa, minyak goreng, dan berbagai produk perikanan,” paparnya. (yg/mtr)

NPL Perbankan Sulut Masih Aman


Salah satu aktivitas perbankan Sulut (foto : MANADO BISNIS)
MANADO BISNIS  -  Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah perbankan di Propinsi Sulawesi Utara (Sulut) masih di bawah batas maksimal ketentuan Bank Indonesia lima persen. Dengan begitu masih dikategorikan aman.

Pemimpin Bank Indonesia (BI) Manado, Ramlan Ginting mengatakan NPL perbankan Sulut per posisi Agustus 2011 sebesar 3,76 persen, jumlah tersebut relatif stabil dibandingkan posisi NPL Agustus tahun lalu yang sebesar 3,70 persen. Bertahannya rasio NPL di angka rendah tersebut,   pertanda kesadaran debitur Sulut membayar hutangnya cukup baik. “Sebagian besar masyarakat Sulut yang punya hutang di bank mengembalikan pinjamannya tepat waktu,"kata Ginting.

Selain faktor kesadaran debitur makin baik,  lanjut dia,  kebijakan kredit perbankan yang memberi pinjaman secara selektif, serta program penagihan cukup baik, menjadi faktor yang menentukan sehingga rasio kredit bermasalah mampu dipertahankan pada prosentase yang rendah. Bulan sebelumnya (Juli 2011), NPL perbankan Sulut masih di posisi 3,79 persen, tetapi di bulan Agustus tahun ini menurun 0,09 persen menjadi 3,70 persen, penurunan tersebut merupakan dampak positif  sisi debitur maupun bank pelaksana.

"BI berharap rasio NPL perbankan tetap dipertahankan di bawah angka lima persen, kalau perlu nol persen, sebab efeknya sangat positif mendorong ekspansi kredit lebih besar lagi," paparnya.

Diketahui, ekspansi kredit perbankan Sulut pada Agustus 2011 mencapai pertumbuhan 22,4 persen ke posisi Rp14,37 triliun, dibandingkan realisasi kredit Agustus tahun lalu Rp11,73 triliun.(yg/mtr)

"Pertanian Sulut Harus Terus Didorong"


Salah satu sektor pertanian Sulut (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Pertanian,  memberi sumbangsih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, karena itu perlu terus didorong, dan perbankan diharapkan mempunyai peranannya.

Hal ini dikatakan Pemimpin Bank Indonesia (BI) Manado Ramlan Ginting.  Menurutnya, saat ini memang  kredit pertanian  Sulut,  mengalami kenaikan tajam, posisi Agustus 2011 sebesar 93  persen  dibanding Agustus tahun lalu.

“Agustus 2011 kredit pertanian naik hingga mencapai Rp322,97 miliar, jauh lebih tinggi ketimbang bulan sama tahun lalu hanya Rp167,33 miliar,” kata Pemimpin BI Manado, Ramlan Ginting.

Dikatakannya,  pertumbuhan kredit pertanian yang tinggi mencerminkan sektor perbankan tetap menaruh perhatian serius terhadap petani. “Kami terus menghimbau perbankan di daerah ini, supaya tetap memberi porsi yang besar terhadap sektor pertanian,”  ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Goan Palenewen mengatakan,  kendati sektor pertanian menunjukkan peningkatan, tetapi jumlah yang tersalur masih relatif kecil. “Petani sudah membuktikan diri sebagai penyumbang besar terhadap perekonomian daerah, karena itu bank supaya tidak ragu menyalurkan kredit,” kata Palenewen pada sejumlah wartawan.

Bahkan di antara para petani,  lanjut  Palenewen, mampu mengembangkan usaha mereka lebih baik, dengan tingkat produksi terus bertambah.

Sekadar diketahui,  kredit pertanian Sulut sebesar Rp322,97 miliar tersebut, pangsa pasarnya hanya 2,24 persen  dari total kredit Agustus 2011 yang mencapai Rp14,37 triliun. (yg/mtr)

PLN Pangkas Pohon, Disesalkan Pemkot


MANADO BISNIS   - Pemangkasan pohon trambesi di sejumlah ruas jalan Kota Manado  oleh PLN  Wilayah Suluttenggo,  dinilai telah ‘melecehkan’ Pemkot  setempat. Pasalnya, tahap koordinasi yang dilakukan menyangkut waktu dan metode pemangkasan tidak dilaksanakan dengan baik.

“Pihak PLN memang pernah berkoordinasi untuk melakukan pemangkasan pohon trambesi karena cabangnya sudah mengganggu kabel. Pada waktu itu kami bertemu dengan pak Asisten II untuk membicarakan hal tersebut,” kata BLH Kota Manado, Ir Joshua Pangkerego MAP.

Namun yang disesalkan, katanya, disaat pemangkasan tidak ada pemberitahuan lebih lanjut di mana lokasi dan waktunya. “Lokasi dan waktu pemangkasan seharusnya di informasikan, sebab metode pekerjaaan harus rapi (bentuk pangkasan,red) sehingga nilai estetikanya tidak hilang,”  ujarnya.

Selain itu, kata Pangkerego, tenaga kerja yang dipakai pihak PLN kelihatan tidak profesional karena cara pemangkasan kurang serta rumput tidak dibersihkan. “Ini sangat mengganggu keindahan Kota. Apalagi Kota Manado sudah beberapa kali merebut Adipura pertanda  kota bersih,” sesalnya.

Sementara itu, Deputi Manager Komunikasi dan Hukum PLN Sulutenggo, Lefrand Maleke saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Pemkot Manado. “Kami sudah melakukan koordinasi, lihat saja untuk mengangkut sampah kami gunakan mobil dari dinas kebersihan,”  bebernya. (yg/mtr)

Putri Minahasa Wakili BNI Duta BUMN


Kantor BNI Manado (foto : ist)
MANADO BISNIS - REGINA Caeli Karundeng, Putri Minahasa kelahiran Tondano 06 Mei 1988 ini setelah lolos seleksi internal di Bank BNI terpilih mewakili Bank BNI dalam ajang nasional pemilihan Duta BUMN tahun 2011.

Ajang ini diikuti oleh sekitar 50 BUMN dari 141 BUMN yang ada. Dalam pemilihan, Regina dan Dimas pasangannya (dari BNI Wilayah Denpasar) berhasil terpilih sebagai 5 besar pasangan Duta BUMN atau tepatnya ranking 4 dari 12 Finalis yang ada.

Sedangkan rangking 1 adalah Duta Pertamina, Rangking 2 adalah Duta Bank Mandiri, Rangking 3 adalah Duta PLN dan Ranking 5 adalah Duta PT Pelabuhan II. Pada grand final di gedung Kantor Pusat PLN Jakarta, tanggal 14 Oktober 2011 yang lalu, Regina tampak tampil begitu anggun mengenakan pakaian adat minahasa berwarna putih yang melambangkan kecantikan dan kesucian gadis-gadis Minahasa. Lenggak lenggok tubuhnya begitu gemulai berjalan di atas panggung final dengan potongan tari maengket dari Minahasa. Gemuruh tepuk tangan penonton pun begitu meriah menyambut penampilannya yang terlihat smart dan charming.

Regina saat ini di Bank BNI bekerja sebagai Public Relations di Kantor Wilayah Manado sejak awal Januari tahun 2011. Sebelum terpilih sebagai 5 besar Duta BUMN tahun 2011, banyak karya dan prestasi dibidang seni yang telah diraihnya. Selain pandai menari, gadis manis ini juga pandai menyanyi dan bahkan telah memiliki album pop manado yang beredar sejak tahun 2005. Regina juga pernah terpilih sebagai Wulan Minahasa fotogenik dalam pemilihan Wulan-Waraney pada tahun 2008.

Menurut Regina, pemilihan Duta BUMN merupakan ajang bergengsi bagi putra-putri terbaik BUMN yang mengedepankan intelijensi, kinerja, penampilan, serta perilaku untuk mempromosikan profil dari Bank BNI sebagai BUMN yang diwakilinya sehingga dapat memberikan citra yang positif di mata publik.

Sambil tersenyum manis, gadis minahasa yang dijuluki sebagai Miss Smiley oleh Panitia dan Juri Pemilihan ini juga mengungkapkan bahwa maksud dan tujuan penyelenggaraan pemilihan Duta BUMN sebenarnya lebih luas lagi yaitu (1) Menciptakan Duta BUMN pada kegiatan-kegiatan bertaraf nasional & internasional dan ikut serta memajukan serta meningkatkan citra BUMN yang positif di mata publik, (2) Meningkatkan peran positif generasi muda yang dapat menjadi panutan serta pendorong kemajuan generasi muda dalam berbagai bidang, (3) Sarana menjaring dan mengoptimalkan bakat yang dimiliki oleh pegawai BUMN dengan mengedepankan intelligence, performance dan behaviour sebagai Duta

BUMN yang bersih, cerdas dan aktif, (4) Pemenang Duta BUMN dapat dioptimalkan sebagai MC acara BUMN, usher, protokol, maupun juru penerang.

Dalam ajang ini, kriteria dan lingkup umum penilaian adalah intelligence, performance dan behaviour yang seimbang. Di mana penilaian dilakukan sebagai berikut: (1) Pengetahuan umum (bobot 40%) meliputi : wawasan terhadap lingkungan hidup dan kepedulian sosial, wawasan terhadap proses bisnis instansi terkait, wawasan terhadap IPTEK, wawasan terhadap kebijakan Pemerintah, serta bakat/minat khusus, penguasaan bahasa asing (sebagai nilai tambah), (2) Kepribadian (bobot 30%) meliputi : pemahaman terhadap agama, kepercayaan diri, keramahan, kecerdasan, kematangan dan kemampuan berkomunikasi, (3) Penampilan keseluruhan (bobot 30%) meliputi kesehatan diri, penampilan diri, keserasian dan tata rias wajah, postur tubuh dan berat badan ideal.

Dalam ajang ini, Regina mengikuti proses pemilihan begitu ketat dilakukan sejak tanggal 26 September sampai 14 Oktober 2011 yang lalu di Jakarta. Di mana masing-masing BUMN mengirim satu pasang Duta Perusahaannya. Selain terpilih dalam seleksi di BNI, Regina dan Dimas pasangannya juga diwajibkan masing-masing membuat 1 (satu) buah Karya Tulis Jurnalistik dengan gaya bahasa populer yang berthema : Budaya Unggul BUMN  yang harus di presentasikannya. Regina memilih judul Kepedulian Lingkungan Hidup dan Sosial sebagai Wujud Budaya Unggul BUMN, Suatu Pengalaman dan Aplikasi di Bank BNI. (yg/mtr)

Jumat, Oktober 21, 2011

Gula Merah Mulai Dicari Pelaku Usaha Swalayan


MANADO BISNIS  – Menjelang Natal tahun ini, permintaan gula merah oleh pasar swalayan di Manado mulai menunjukkan peningkatan. Hal ini seperti terlihat pada Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA) yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, semua komoditas ini laku terjual. Bahkan meminta tambahan pasokan.
Kadis Indag Sulut Sanny Parengkuan (foto : ist)
                           
“Jenis gula merah yang dicari pasar terdiri atas gula batu, gula semut, dan gula merah cair,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan.

Dikatakannya,  kecenderungan permintaan komoditas gula terus meningkat dalam bulan terakhir ini dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada awal Desember 2011. “Gula merah merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan kue yang banyak diminta kalangan masyarakat menjelang hari besar keagamaan Natal dan Tahun Baru,”  ujarnya.

Gula merah sendiri, lanjut Parengkuan,  diproduksi industri rumah tangga Sulut yang diolah dari dua jenis bahan utama, yakni air nira dari pohon enau dan kelapa. Permintaan gula merah yang tinggi di Sulut karena beberapa jenis kue yang diolah para ibu rumah tangga hanya cocok menggunakan bahan baku gula tersebut. “Ada beberapa jenis kue khas Manado menggunakan bahan baku gula merah sehingga tak heran bila permintaan terhadap produk tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun,”  ungkapnya.

Harga gula merah di PLKA  yang berlangsung di Hotel Sahid Teling, untuk gula batu seharga Rp6000-Rp7.500 per buah (sekitar 0,8 hingga 1 kilogram), sedangkan gula semut berkisar Rp10 ribu per bungkus 0,5 kilogram. Semua komoditas ini diborong oleh pihak pasar  modern atau pasar swalayan di Sulut. (yg/mtr)

Pelayanan Western Union BPR Prisma Dana Maningkat


Kantor Pusat BPR Prisma Dana (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Prisma  Dana, yang sudah hampir tujuh bulan melayani western union  (Jasa pengiriman uang dari dan ke berbagai negara di dunia) menunjukkan peningkatan.

Hal ini diakui Direktur BPR Prisma Dana Johanis Untu pada sejumlah wartawan, Kamis (20/10) kemarin). “Setiap bulannya jasa pengiriman uang ini meningkat, terlebih untuk kantor cabang di Airmadidi dan Tomohon,” ujarnya.
BPR Prisma Dana sendiri, menurut Untu, dalam melakukan transaksi western union tersebut tidak menarik biaya  administrasi, ataupun jenis biaya lainnya. “Jadi jika yang dikirim misalnya Rp 100 juta, maka yang diterima adalah juga Rp 100 juta. Kami tidak menarik biaya  apa pun,” tandas Untu.

Selain itu, lanjut direksi ini, pelayanan pembayaran rekening listrik juga menunjukkan peningkatan. Hampir di semua kantor cabang dan kantor kas yang tersebar di Sulut terjadi peningkatan signifikan. “Ini artinya masyarakat sangat percaya dengan BPR Prisma Dana. Dan kami sendiri terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Sulut,” ungkapnya.

Sementara itu terkait dengan kinerja bank,  menurut Untu, secara resmi Kantor Cabang Amurang   mulai beroperasi 8 September lalu, ditandai dengan Grand Opening sekaligus penarikan undian tabungan Simapan. Khusus undian ini, semua cabang menyediakan satu unit sepeda motor sebagai hadiah utama, kemudian kulkas dan televisi, sebagai hadiah kedua dan ketiga. “Jadi ada enam hadiah utama sepeda motor yang disediakan waktu itu, sesuai dengan jumlah kantor cabang BPR Prisma Dana,” papar Untu.

Hal ini dilakukan, kata Untu, agar penerima hadiah terhadap undian Simapan tersebut semua cabang yang ada terwakili.  Dan ini mendapat sambutan antusias dari semua nasabah BPR Prisma Dana, dengan cara meningkatkan tabungannya. “Setiap tahun kami melakukan undian seperti itu,” pungkas Untu. (yg/mtr)

Pertamax Belum Diminati Warga Sulut


SPBU yang menyediakan pertamax (foto : ist)
MANADO BISNIS  -  Sebagian besar masyarakat di Sulut yang memiliki kendaraan bermotor, masih enggan menggunakan bahan bakarnya jenis pertamax. Padahal hampir semua SPBU di Sulut sudah melayani penjualan jenis BBM tersebut. “Pertamax mahal, kalo mo isi  Rp 100 ribu, Cuma mo dapa 10 liter lebih. Lebe bae tetap pake  bensin,” aku Andi, salah satu pengemudi mobil plat hitam ketika bertemu di SPBU.

Pihak pertamina sendiri,  terus  mendorong penjualan pertamax  dari waktu ke waktu. “Guna penghematan anggaran subsidi dari hasil menjual premium kepada masyarakat, maka warga yang membeli pertamax  ada  hadiah menarik  yang disediakan,” ujar  Sales Area Manager BBM Retail Pertamina Manado, Irwansyah.

Dikatakannya,  penjualan pertamax akan terus  didorong dengan memberikan tawaran hadiah menarik kepada masyarakat yang setia membeli BBM non subsidi tersebut, kendati kelihatan masih banyak masyarakat enggan menggunakan pertamax. Karena itu,  maka Pertamina menggelar beberapa promo guna menarik lebih banyak masyarakat Sulut membeli pertamax. “Pertamax, selain kita perkenalkan sebagai BBM berkualitas baik karena tingkat oktannya lebih tinggi, juga kita dorong melalui promo sebagai perangsang lebih banyak pembeli pertamax,” tandasnya.

Program promosi Pertamax yang dilakukan Pertamina, menurut Irwansyah,  berupa pemberian hadian langsung atau program tour pertamax, pitstop pertamax dimana pembeli bahan bakar ini dimanjakan sebagaimana layaknya pelayanan pada balapan F1, serta bazaar pertamax dimana pembeli mendapatkan kupon undian berbelanja di salah satu pusat belanja terkenal di Manado, Hypermart.

Pertamina juga  membuka cafe pertamax, yang diharapkan sebagai tukar menukar informasi tentang kelebihan menggunakan pertamax. “Penjualan pertamax di Sulut sendiri,  mengalami penurunan menjadi hanya sekitar lima hingga tujuh kiloliter (Kl) per hari dibandingkan kondisi sebelum lebaran yang ketika itu sempat mencapai 10-12 Kl per hari,” paparnya. (yg/mtr)

Pangsa Kredit UMKM ke Arah Perbaikan


MANADO BISNIS - Pemimpin Bank Indonesia(BI) Manado, Ramlan Ginting mengatakan,  pangsa kredit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Propinsi Sulut menunjukkan perbaikan signifikan . Dimana posisi Agustus 2011 mencapai 85,57 persen, meningkat dibanding tahun lalu 82,75 persen.
Salah satu produk UMKM (foto : ist)
                      
“Tercatat penyaluran kredit  UMKM  oleh perbankan Sulut hingga posisi bulan Agustus 2011  pun mencapai Rp12,29 triliun.  Atau tersalur  85,57 persen dari total kredit tersalur pada debitur mencapai sampai bulan tersebut sebesar Rp14,37 triliun,"  tandas Ginting.

Pada Agustus tahun lalu,  menurut dia, dari total kredit sebesar Rp11,73 triliun, yang tersalur ke sektor UMKM sebesar Rp9,71 triliun atau pangsanya 82,75 persen. Peningkatan pangsa kredit UMKM ini, sebagai bukti bahwa perbankan Sulut semakin peduli terhadap UMKM yang notabene penggerak sektor riil paling tinggi. "Kendati pangsa kredit ke sektor UMKM terus menunjukkan peningkatan, tetapi BI terus menghimbau perbankan di daerah ini untuk lebih memperbesar pangsa kreditnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut diutarakan Ginting, Sektor UMKM perlu terus didorong dengan pendanaan perbankan, karena justru salah satu masalah yang dihadapi pelaku di sektor ini yakni soal pendanaan. "Perbankan diharapkan terus memberi perhatian terhadap sektor UMKM, terutama yan memperlihatkan prospek usaha yang terus bertumbuh dan memiliki potensi ke depan,” papar Ginting.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Sanny Parengkuan mengatakan, banyak UMKM yang terkendala permodalan, untuk itu perbankan supaya lebih meningkatkan ekspansinya. "Perbankan memiliki berbagai program kredit yang diperuntukkan untuk pengembangan sektor UMKM, ini agar terus dioptimalkan,” tuturnya. (yg/mtr)

Desember, Permintaan Kebutuhan Pokok akan Naik 100 Persen


Jelang natal, kebutuhan pokok seperti ini akan naik (foto : ist)
MANADO BISNIS – Memasuki bulan Desember,  atau menjelang perayaan Natal, Pemerintah Sulawesi Utara (Sulut) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut  memperkirakan kebutuhan pokok masyarakat jelang Natal  akan naik hingga 100 persen.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Sulut, Ria Dunggio mengatakan,  peningkatan permintaan hingga 100 persen, diperkirakan terjadi untuk komoditas gula, minyak goreng, tepung terigu, susu dan bahan pokok lainnya. Perinciannya, kebutuhan gula pada Desember diperkirakan mencapai 8.000 ton, lebih tinggi dibanding perkiraan kebutuhan bulan Oktober ini hanya 4.000 ton.

"Gula terutama banyak dicari masyarakat jelang Natal, terutama untuk membuat berbagai jenis kue yang akan disajikan saat rayakan hari besar agama tersebut,” ujarnya.

Sementara minyak goreng, lanjut dia,  diprediksi meningkat hingga 5.000 ton, jauh lebih tinggi ketimbang permintaan normal sebesar 2.500 ton, permintaan produk ini baik menjelang Natal maupun selama hari besar, sebab penggunaanya baik untuk kue maupun membeli produk pangan. Kondisi sama terjadi juga untuk tepung terigu, dari kebutuhan normal 2.000 ton, maka pada Desember 2011 diperkirakan meningkat 4.000 ton, dan susu dari kebutuhan normal 900 ton, maka akhir tahun naik menjadi 1.800 ton.

"Koordinasi secara kontinu dilakukan dengan distributor dan pelaku usaha, memberi jaminanan stok akan cukup sesuai kebutuhan masyarakat,"  jamin Dunggio.

Ditambahkannya,  pelaku usaha produk perdagangan tersebut, jauh hari sebelumnya sudah mengajukan permintaan tambahan stok untuk kebutuhan selama bulan Desember. (yg/mtr)

Kamis, Oktober 20, 2011

Transaksi Jagung di PLKA Capai Rp 8,55 Miliar


MANADO BISNIS  – Jagung tampaknya kian diminati eksportir di Sulut. Buktinya pada  Pasar  Lelang Komoditi Agro (PLKA)  Sulut  periode ke-8  yang digelar, Rabu (19/10) kemarin, jagung kuasai lebih dari setengah dari total transaksi. Komoditi ini rencananya akan diekspor ke sejumlah Negara tetangga.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan, total hasil transaksi PLKA yang digelar di Hotel Sahid Teling Manado,  berhasil menciptakan transaksi sebesar Rp14,87 miliar. “Transaksi tertinggi, yakni komoditas jagung mampu hasilkan omzet Rp8,55 miliar, atau pangsa  57,49 persen. Jagung  banyak dicari eksportir saat ini dalam jumlah yang besar,” ujarnya.

Selain jagung, lanjut Parengkuan, komoditi   kentang donate capai transaksi  Rp5 miliar (33,62 persen),  kemudian pala biji dan fuli Rp400 juta (3,23 persen). “Jumlah komoditas yang berhasil ditransaksikan dalam ajang PLKA kali ini sebanyak 16 jenis, sebagian besar diantaranya merupakan produk unggulan Sulut,” terangnya.

Khusus  hasil transaksi  jagung sebesar Rp8,55 miliar, kata Parengkuan, diperoleh dari hasil penjualan sistem forward sebanyak 3.000 ton dengan harga satuan Rp2.850 per kilogram (Kg).   Sedangkan komoditas kentang donata mampu ditransaksikan sebanyak 1.000 ton dengan harga Rp5.000 per Kg, dan pala yang terdiri pala biji tiga ton seharga Rp55 ribu per Kg, dan pala fuli (bunga) 1.500 ton seharga Rp210 ribu per Kg.

Yang menarik dari pelaksanaan PLKA kali ini,  menurut Parengkuan,  munculnya dua komoditas baru, yang dapat menjadi andalan baru di kemudian hari. Komoditas  baru ini berupa kedelai dan ubi jalar yang  langsung menciptakan  transaksi. “Kedelai produksi lokal,  mampu ditransaksikan sebanyak enam ton dengan harga satuan Rp6.000 per Kg, sementara ubi jalar putih berhasil diperdagangkan tujuh ton, dengan harga satuan Rp2000 per Kg,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Parengkuan,    pelaksanaan PLKA selama ini telah mampu menciptakan alternatif pasar bagi petani, industri rumah tangga dan industri kecil. "Selain mampu menjadi pasar alternatif, PLKA mampu memperpendek jalur distribusi pemasaran produk pertanian dan hasil produksi industri kecil,” paparnya. (yg/mtr)

Dodol Salak Kian Dikembangkan Warga Mitra


Buah salah banyak terdapat di Mitra (foto : ist)
MANADO BISNIS -  Petani korban letusan gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) kembangkan dodol salak sebagai sumber penghasilan, sebagai alternatif buah salak kualitas rendah.

"Akibat letusan gunung Soputan, kualitas buah salak tidak layak dijual sejajar dengan buah lainnya, karena itu terpaksa diolah menjadi makanan ringan dodol," kata Lady Pontonuwu, petani salak desa Pangu Kabupaten Mitra saat mengikuti pasar lelang komoditi agro (PLKA) periode ke-8.

Dikatakannya,  akibat abu gunung Soputan, ukuran buah salak menjadi sangat kecil, sehingga kalau dijual di pasar tidak laku, karena itu harus dicari jalan keluar, dan dodol salak merupakan alternatif terbaik.

Sementara itu,  Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Sulut, Ria Dunggio mengatakan, kualitas dodol salak hasil olahan tanaman dari sekitar gunung Soputan ternyata sangat diminati pasar. "Dalam PLKA periode ke-8, dodol salak mampu mencipta transaksi jutaan rupiah, jumlah tersebut mampu memberi penghidupan bagi petani pengolah buah salak menjadi dodol di kawasan gunung Soputan," kata Ria.

Komoditas dodol salak, lanjut dia,  sudah hadir beberapa kali di ajang PLKA, dan setiap kali produk tersebut diikutsertakan dalam kegiatan perdagangan ini, selalu mencipta transaksi dalam jumlah cukup besar. “Dodol salak menjadi salah satu bahan makanan yang mulai banyak dibeli masyarakat di pasar swalayan, terbukti permintaan mereka lewat PLKA terus bertambah,” ungkapnya.

Ditambahkannya,   pemerintah daerah akan terus memberdayakan petani salak yang tinggal di kawasan gunung Soputan, sehingga tingkat kesejahteraan mereka dapat meningkat di tahun-tahun mendatang. (yg/mtr)

Distribusi Raskin Sulut Dioptimalkan


Raskin sangat dibutuhkan masyarakat miskin (foto : ist)
MANADO BISNIS  - Perum Bulog Divisi Regional (Divre)  Sulut mengoptimalkan 1.559 titik guna mendistribusikan 1.736,9 ton beras masyarakat miskin(raskin) hingga daerah terpencil. "Titik distribusi tersebut mulai dari desa, kelurahan hingga lingkungan, yang diadakan dalam upaya memperlancar penyaluran raskin kepada kelompok sasaran," kata Kepala Bulog Divre Sulut, Muhammad Hasyim di Manado

Dikatakannya,  titik distribusi raskin tersebut tersebar di 149 kecamatan yang ada di Propinsi Sulut. “Sampai saat ini 1.559 titik distribusi tersebut cukup efektif, karena terbukti raskin tersalur ke kelompok sasaran sesuai target waktu yang ditentukan," tandasnya.

Bulog, lanjut dia,  setiap bulan menyalurkan raskin kepada 115.795 rumah tangga sasaran tersebar di 149 kecamatan yang ada di Sulut. Alokasi raskin kepada 115.795 rumah tangga sasaran tersebut, setiap bulan mencapai 1.736.925 kilogram (Kg) atau 1.736,9 ton.  Realisasi   raskin ini,  dalam dua bulan terakhir ini,  berlangsung dengan baik, untuk bulan September 2011 terealisasi 100 persen, sementara Oktober ini masih sementara berlangsung. 

“Khusus bulan Oktober tinggal Kabupaten Talaud dan Siau Tagulandang Biaro(Sitaro) yang belum terealisasi hingga pertengahan bulan ini, namun diharapkan distribusinya rampung akhir bulan ini,”  Hasyim.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog, Divre Sulut, Noldy Tumigolung, mengatakan, realisasi raskin Oktober 2011 sebesar 849.435 Kg atau baru mencapai 49 persen dari alokasi bulanan. “Bulog akan mengupayakan agar distribusi raskin mampu tercapai 100 persen, sebab peran beras ini terbukti cukup luas termasuk diantaranya mampu berperan sebagai stabilisasi harga beras di pasaran,” ungkapnya. (yg/mtr)

Rabu, Oktober 19, 2011

Penyaluran BBM di Sulut Dikurangi Pertamina


Mobil tanky pertamina saat menyuplai BBM (foto : ist)
MANADO BISNIS – Pertamina akhirnya  mengakui sengaja membatasi penyaluran Bahan Bakar Minyak(BBM) pada bulan Oktober di Kota Manado, guna menjaga pagu BBM bersubsidi tercukupi hingga jelang Natal dan Tahun Baru.

“Pada bulan Desember bisa diperkirakan terjadi peningkatan permintaan BBM bersubsidi lima hingga 10 persen, karena itu saat ini sedikit dibatasi,"kata Sales Area Manager BBM Retail Pertamina Manado, Irwansyah.

Dikatakannya,   distribusi BBM bersubsidi untuk premium,  saat ini digelontorkan hanya sekitar 690 kilo liter (Kl), diturunkan sekitar 20 Kl dari angka tertinggi kondisi normal berkisar 710 Kl. “Sedangkan pada bulan Desember, Pertamina memperkirakan akan terjadi peningkatan permintaan berkisar 730 hingga 750 Kl, jumlah tersebut lebih tinggi dari rata-rata pagu alokasi harian yang ditetapkan pemerintah,” jelasnya.

Untuk menjaga agar jumlah rata-rata harian tetap tercukupi sebagaimana alokasi yang ditetapkan dalam APBN perubahan, lanjut  Irwansyah, maka Pertamina mengatur pasokan pada bulan Oktober ini. “Tren tahun sebelumnya, permintaan BBM Oktober relatif lebih rendah ketimbang November ataupun Desember, karena itu Pertamina mengambil kebijakan sedikit mengurangi distribusi ke stasiun pengisian bahan bakar umum(SPBU),” ungkapnya.

Abner, salah satu sopir angkutan kota di Manado, jurusan Pusat Kota-Malalayang mengatakan, harus antre sekitar 30 menit hingga satu jam untuk membeli premium di SPBU, karena berkurangnya pasokan minyak di SPBU di Manado. “So brapa hari ini, memang torang musti antri dapat bensin di SPBU,” akunya.

Sementara pantauan harian ini, hampir semua SPBU di Kota Manado, antrean kendaraan terus terlihat menyusul terbatasnya suplai BBM bersubsidi khususnya premium dan solar. Seperti yang nampak di SPBU Malalayang, Sario dan Baulevard. Akibat antrian kendaraan di SPBU ini membuat arus lalulintas terganggu.

Sekadar diketahui,  berdasarkan data APBN perubahan BBM bersubsidi Sulut dalam tahun 2011 sebanyak 478.239 kiloliter, terdiri premium 272.640 Kl, solar 84.234 Kl , dan minyak tanah 121.365 Kl. Data APBN perubahan tersebut sudah dinaikkan menyesuaikan kenaikan permintaan masyarakat sehingga solar ditambah 10 persen, premium dinaikkan 7,4 persen dibandingkan pagu awal, sedangkan minyak tanah dikurangi sebesar 16 persen karena terkait program konversi minyak tanah ke elpiji yang saat ini hampir rampung berjalan di Sulut. (yg/mtr)

UMKM di Sulut, Pengembangannya Dipacu


MANADO BISNIS  – Bank Indonesia (BI) Manado, kembali melaksanakan kegiatan berkaitan dengan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).  Kali ini membidik Kota Tomohon, dengan menggelar diskusi bertajuk  Komoditas Produk Jenis usaha Unggulan (KPJU) dalam UMKM.
Sejumlah produk yang dihasilkan UMKM Sulut (foto : ist)
                                                
Menurut Pemimpin BI  Manado Ramlan Ginting,  tujuan pelaksanaan kegiatan yaitu untuk mengkompilasi, mendiskusikan dan menetapkan komoditas/produk/jenis  usaha unggulan tahun 2011. Dengan begitu,  peranan dan kontribusi Bank Indonesia dan perbankan lainnya sangat penting bagi kemajuan pembangunan usaha UMKM di Kota Tomohon.

“Kegiatan ini sengaja kami lakukan untuk mencari komoditas unggulan di Kota Tomohon untuk dikembangkan melalui bantuan Perbankan,’’ kata Ginting.

Salah satu kebijakan Bank Indonesia, lanjut dia,  dalam rangka pengembangan UMKM,  berupa pemberian Bantuan Teknis (Bantek) dalam bentuk penelitian dan penyediaan informasi yang dapat digunakan oleh stakeholders. Dengan pelaksanaan kegiatan ini maka pemahaman akan profil daerah, produk UMKM termasuk faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam pengembangan UMKM dapat dimengerti dan dipahami.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh seluruh perwakilan Perbankan yang ada di Kota Tomohon seperti Bank Sulut, Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI dan Bank Danamon. Sedangkan pejabat yang hadir adalah Asisten II Pemkot Tomohon, Staf ahli Perekonomian dan  Keuangan, para kepala dinas terkait seperti Kadis Pertanian, Kadis Koperasi, Kadis Perindag, Kadis Perhubungan, Kadis Pariwisata dan Kabag Perekonomian, PDE, Pembangunan dan undangan lainnya. (yg/mtr)

LIPI Beber Kualitas Naker Indonesia di Manado


MANADO BISNIS -Deputi Bidang Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Aswatini, mengatakan, Indonesia masih mengirimkan tenaga kerja dengan kualitas rendah.

“Kalau pemerintah Indonesia dengan kualitas penduduk yang demikian rendah tidak bisa menyediakan kesempatan kerja, Indonesia akan menjadi pengirim tenaga kerja dengan kualitas rendah ke negara-negara tetangga,” katanya dalam keterangan pers usai pembukaan The 19th Biennial General Conference Assosiation of Asian Social Science Councils (AASSREC), di Hotel Aryaduta, Manado.

Bila melihat ke masa lalu, ujar Aswatini, pendidikan menjadi hal penting dan harus disiapkan dengan baik sehingga menciptakan kualitas tenaga kerja yang diekspor.  “Bila pendidikan disiapkan baik maka potensi besar tenaga kerja dengan kualitas lebih baik bisa disiapkan, meskipun Indonesia berada dalam kondisi globaliasai dimana pasar kerja terbuka,” ujarnya.

Dia menjelaskan sensus penduduk 2010 menyebut penduduk Indonesia mencapai 230 juta lebih. Dalam kondisi kependudukan saat ini memunculkan penduduk usia produktif yang sangat besar, hanya saja, umur produktif yang besar ini akan menjadi bencana apabila usia produktif 15-50 tahun tidak memiliki kualitas baik. “Umur-umur seperti ini akan menjadi beban karena mereka tidak bisa memaksimalkan potensi yang ada,” paparnya. (yg/mtr)

Selasa, Oktober 18, 2011

Kebijakan Swasembada Beras, Masih Diragukan


Padi dongkrak swasembada beras (foto : ist)
MANADO BISNIS  -  Program swasembada beras yang mencapai 700 ton, sebagai salah satu sasaran kebijakan pembangunan Propinsi Sulut tahun 2012 mendatang, ternyata masih mengundang tanda tanya kalangan petani di daerah ini.

Menurut  Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Sulut   Lexie BM Solang,  mempertanyakan kebijakan pertanian yang tidak dilaksanakan hingga ke instansi teknis, dengan sebutan ‘Ekor tidak mengikuti Kepala’, sehingga petani belum maksimal menunjang diversifikasi pertanian, terutama beras.

“Seharusnya kebijakan yang ada,  dilaksanakan oleh instansi terkait atau SKPD yang bertanggung jawab untuk pertanian. Namun kenyataan yang ada, selama ini instansi terkait hanya bergelut dengan hal-hal yang rutin, tanpa terobosan yang berarti,” kata Solang.

Selain itu, lanjut dia,  dibutuhkan langkah proaktif SKPD terkait, karena dunia pertanian Sulut sangat membutuhkan pembenahan infrastruktur, penyediaan bibit padi unggul serta kebijakan pemanfaatan lahan kering untuk ditanami padi.

“Kami berharap terobosan pemerintah dibidang pertanian, sehingga target produksi beras 700 ton tahun depan, menjadi kenyataan. Dan kita jangan hanya bertumpu pada produksi padi sawah, sementara lahan-lahan kering yang dapat ditanami padi selama ini tidak tersentuh kebijakan,” tandas Solang. (yg/mtr)

Sulut Kembali Promosi Komoditas Andalan


MANADO BISNIS – Sejumlah komoditas andalan Sulut kembali akan dipromosikan, pada ajang pameran nasional terbesar di Indonesia. Kegiatan ini berupa Trade Expo Indonesia(TEI) pada 19-23 Oktober dan Pameran Produksi Ekspor Daerah (PPED) berlangsung 20-25 Oktober.
Vanili salah satu komoditas andalan Sulut (foto : ist)
                     
Demikian dikatakan  Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan.  “TEI yang akan berlangsung di PRJ Jakarta dan PPED di Yogyakarta merupakan ajang potensial mendorong ekspor, sebab diperkirakan banyak buyers luar negeri datang di kedua kegiatan promosi tersebut, karena itu disiapkan sekitar 20 sampel komoditas untuk diperkenalkan,” ujar Parengkuan.

Dikatakannya,   ke-20 produk komoditas tersebut, diantaranya minyak kelapa kasar (CCO), tepung kelapa, arang tempurung, biji pala dan fuli, ikan kayu, ikan kaleng dan lainnya. “Sebagian komoditas tersebut memang sudah mampu menjangkau ekspor di beberapa negara, tetapi kita akan tetap berupaya mempertahankan pasar dengan gencar mempromosikan, dengan harapan negara pembeli makin banyak,” tandasnya.

Sementara itu,  Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Sulut, Hanny Wajong mengatakan, salah satu yang menarik pada keikutsertaan Sulut di kedua ajang ini, yakni dipamerkannya secara khusus komoditas cengkih. “Sampel komoditas cengkih yang dikenal dengan aroma yang sangat khas, akan diperkenalkan kepada pasar melalui kegiatan skala nasional dan internasional tersebut guna kemungkinan membuka pasar lebih luas," ungkapnya.

Pembeli cengkih selama ini, lanjut Wajong,  lebih didominasi pabrik rokok. Nah pemerintah daerah berkeinginan memperluas pasarnya hingga ke sektor lain maupun ekspansi ke pasar luar negeri, karena itu dibawa pada ajang pameran tahunan tersebut. “TEI maupun PPED cukup signifikan mendorong ekspor, sebab buktinya ada beberapa komoditas unggulan daerah ini mampu penetrasi pasar lebih luas karena mengikuti pameran ini,” paparnya. (yg/mtr)

Cengkih India Masuk, Harga Cengkih di Manado Turun


Add caption
MANADO BISNIS -  Penurunan harga cengkih yang terjadi dalam satu bulan terakhir ini  hingga mencapai 40 persen, merupakan dampak kebijakan pemerintah membolehkan impor cengkih dari beberapa negara, salah satunya dari India.

“Sekarang ada impor cengkih, salah satu yang cukup besar dari India, ini berdampak harga dalam negeri mengalami penurunan," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan.

Dikatakannya,  impor cengkih tersebut  terpaksa dilakukan guna mempertahankan industri pabrik kecil yang terancam gulung tikar akibat kekurangan bahan baku cengkih. "Harga cengkih dalam negeri yang sempat menyentuh Rp210 ribu per kilogram (kg) membuat industri kecil kesulitan memperoleh bahan baku cengkih, karena itu ada impor," tandas  Parengkuan.

Dalam kondisi saat ini, lanjut dia,  dimana tidak ada panen di daerah sentra. Kebijakan tersebut bisa dibenarkan, namun diharapkan disaat daerah sentra terjadi panen, maka pemerintah harus membatasi impor cengkih. “Sulut merupakan salah satu daerah sentra di Indonesia, karena volume produksi di saat panen raya bisa mencapai 20 hingga 30 persen dari total panen nasional,” ungkapnya.

Terakhir, menurut Parengkuan,  panen raya cengkih Sulut terjadi pada tahun 2010 lalu, dengan volume berkisar 12 ribu hingga 15 ribu ton. Cengkih  Sulut sendiri menjadi komoditas unggulan masyarakat, karena lebih 100 ribu rumah tangga di daerah ini mempunyai lahan pertanian cengkih, dengan luas areal pertanaman beragam.

"Harga cengkih tinggi di saat panen berlangsung, memberi dampak pada peningkatan ekonomi daerah, karena multiplier efect dimana bukan hanya petani yang menikmati hasilnya, tetapi juga dua hingga tiga kali lipat dari jumlah petani,” paparnya. (yg/mtr)

Senin, Oktober 17, 2011

Kayu, Jadi Pilihan Masyarakat Untuk Bahan Bakar Memasak


MANADO BISNIS– Sebagian besar masyarakat pedesaan di Sulut, masih memilih kayu bakar sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak. Hal ini dikarenakan, mereka masih takut  untuk menggunakan gas elpiji. Kecuali itu,  minyak tanah bersubsidi yang masih beredar saat ini,  sangat sulit didapat lagi.
Kadis Indag Sulut, Sanny Parengkuan (foto : ist)
                                    
“Menggunakan kayu bakar lebih murah ketimbang gunakan elpiji ataupun minyak tanah,” ujar  James Lagi, warga di Kecamatan Tenga, Kabupaten Minsel.

Dikatakannya,  bahan bakar kayu tidak butuh biaya, cukup pergi ke kebun sudah memperoleh bahan tersebut, karena itu lebih memilih kayu bakar. “Apalagi kan saat ini miyak tanah akan ditarik,  dan sebagai pengganti gas elpiji.Kami takut menggunakan elpiji tersebut, karena banyak terjadi kebakaran,” bebernya.

Rengku Rasuh, petani lainnya di Kabupaten Minahasa, mengatakan, kondisi ekonomi masyarakat petani saat ini dalam kondisi yang kurang baik. “Harga cengkih memang naik, tetapi kenaikan harga tersebut terjadi setelah stok petani habis, jadi meski harga tinggi hingga mencapai Rp200 ribu per kilogram, tetapi tidak memberi manfaat lagi, karena itu sulit membeli elpiji,” ungkapnya.

Beberapa daerah di Sulut, seperti Kabupaten Minahasa dan daerah lainnya, menurut warga ini,  mempunyai stok kayu bakar cukup banyak, karena adanya tanaman perkebunan seperti cengkih, kelapa dan lainnya. “Tanaman perkebunan berusia tua dan tidak produktif lagi kebanyakan ditebang petani untuk jadi bahan bakar,” paparnya.

Sementara itu,  Sales Representative elpiji Pertamina Rayon Sulut Gorontalo, Mahfud Nadyo, mengatakan, penggunaan bahan bakar oleh petani, bukan menjadi masalah untuk program konversi elpiji.  “Program konversi elpiji dimunculkan guna menghemat dana subsidi yang cukup besar dengan menggunakan minyak tanah, karena itu kalaupun masyarakat tetap gunakan kayu bakar tidak masalah," kata Mahfud.

Pemerintah, lanjut dia,  menargetkan membagi 409.881 tabung elpiji beserta peralatannya di sembilan/kabupaten kota dari 15 di daerah tingkat dua yang ada di Sulut. Sampai akhir September 2011, peralatan elpiji tersalur ke masyarakat sudah sebanyak 390.150 tabung atau realisasinya mencapai 95 persen.

"Target kita Desember 2011 program konversi elpiji sudah rampung 100 persen di sembilan kabupaten/kota tersebut, dan bila ini sudah selesai akan diikuti penarikan bahan bakar minyak tanah karena sudah ada elpiji,"  papar Mahfud. (yg/mtr)

Empat Kabupaten Potensi Penghasil Rumput Laut


Petani saat panen rumput laut (foto : ist)
MANADO BISNIS  -  Empat kabupaten di Sulut,  masing-masing, Minahasa Utara(Minut,) Bolaang  Mongondow  Utara (Bolmut), Talaud dan Minahasa Selatan (Minsel), merupakan daerah  terbanyak penghasil rumput.

Hal ini dikatakan  Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulut, Happy Korah. “Dari seluruh daerah yang ada, Sulut  memproduksi rumput laut sebanyak 43.814,3 ton sampai dengan Juli dari target 100 ribu ton pada akhir 2011. Rumput laut itu dihasilkan pembudi daya di 11 kabupaten/kota di Sulut, dengan hasil terbanyak Kabupaten Minahasa Utara yakni lebih dari setengah dari total produksi Sulut,” ujarnya.

Dikatakan Korah,  pembudi daya rumput laut di Kabupaten Minut selama periode Januari hingga Juli 2011 mampu memanen sebanyak 29.720 ton atau dengan pangsa 67,8 persen dari produksi Provinsi Sulut. "Pemerintah Kabupaten Minut memberi perhatian cukup optimal kepada pembudi daya di daerah tersebut, hasilnya produksi mereka meningkat,” tandasnya.

Selain Minahasa Utara, daerah lain yang cukup optimal mengembangkan rumput laut yakni Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dengan produksi mencapai 5.630 ton, kabupatan Kepulauan Talaud 4.920 ton dan Kabupaten Minahasa Selatan 2.744 ton. “Kalau dilihat dari 11 kabupaten/kota yang mengembangkan rumput laut, yang masuk kategori daerah potensial hingga saat ini yakni keempat daerah tersebut,” papar Korah.

Produksi rumput laut kabupaten/kota lainnya, menurut Korah,  yakni Kabupaten Minahasa Tenggara 426 ton, Minahasa 350 ton, Bolaang Mongondow Selatan 18,2 ton, Bolaang Mongondow Timur dua ton, Kepulauan Sangihe 1,7 ton, Kota Bitung satu ton, dan Kabupaten Kepulauah Siau Tagulandang dan Biaro (Sitaro) 0,5 ton. “Produksi rumput laut ini ditargetkan mencapai sebanyak 100 ribu ton pada 2011,” ungkap Korah.

Sebagai bentuk perhatian terhadap pemberdayaan pembudi daya rumput laut,  lanjut Korah, pemerintah mengalokasikan dana cukup besar tahun ini. "Bantuan permodalan kepada pembudi daya diharapkan dapat mendorong produksi rumput laut paling tidak mampu mencapai target 100 ribu ton sampai akhir 2011," jelas Kadis DKP Sulut ini. (yg/mtr)

Pertamina Sulut Jaga Pagu Distribusi BBM


Kantor Pertamina Sulut (foto : ist)
MANADO BISNIS - Pertamina menjaga pagu distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Propinsi Sulawesi Utara (Sulut) tercukupi hingga akhir tahun nanti. Hal ini pun untuk mengendalikan penggunaan BBM tersebut.

“Kami akan menjaga agar pagu yang sudah ditetapkan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat sampai akhir tahun nanti," kata Sales Area Manager BBM Retail Pertamina Manado, Irwansyah.

Dikatakannya,  imbas kebijakan menjaga pagu BBM tersebut, maka Pertamina akan mengatur distribusi BBM supaya sesuai kebutuhan masyarakat. "Di hari-hari tertentu, yang kami perkirakan terjadi kenaikan penggunaan BBM, maka suplai akan kami sedikit lepas, sebaliknya di saat kondisi normal atau sepi, distribusi dikendalikan sesuai kebutuhan," ujarnya.

Pengendalian penyaluran BBM bersubsidi,  lanjut  Irwansyah, harus dilakukan, sebab angka yang sudah disetujui, sesuai dengan alokasi dana subsidi yang sudah diketuk DPR dalam anggaran APBN. “Pertamina sudah mengusahakan menambah alokasi untuk Sulut khususnya untuk jenis premium dan solar, guna menyesuaikan dengan kebutuhan riil, dan itu sudah disahkan dalam APBN perubahan, ini tidak mungkin ditambah lagi, karena itu jalan keluarnya pengendalian distribusi dilakukan,” ungkapnya.

Sesuai angka dalam APBN perubahaan, menurut Irwansyah,  Sulut mendapat alokasi BBM bersubsidi sebanyak 478.239 kiloliter untuk tahun 2011. "Pagu BBM bersubsidi tersebut, terdiri premium sebanyak 272.640 Kl, solar 84.234 Kl , dan minyak tanah 121.365 Kl," paparnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, dari data alokasi APBN perubahan tersebut, untuk solar mengalami kenaikan 10 persen,  premium naik 7,4 persen dibandingkan pagu awal, sedangkan minyak tanah dikurangi sebesar 16 persen, menyukseskan program konversi minyak tanah ke elpiji yang saat ini hampir rampung berjalan di Sulut. “Realisasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Sulut hingga Agustus 2011 sudah mencapai 312.144 Kl atau 65 persen dari alokasi APBN perubahan sebanyak 478.239 Kl,” tukas Irwansyah. (yg/mtr)

Enam Komoditas, Jadi Unggulan Produksi Perikanan


Ikan nila, salah satu komoditas perikanan (foto : ist)
MANADO BISNIS  - Enam komoditas perikanan Sulut, masing-masing, udang windu, rumput laut, ikan kerapu, ikan bandeng, ikan nila, dan ikan mas, jadi unggulan daerah ini.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulut Happy Korah mengatakan,  Sulut menargetkan produksi perikanan budi daya meningkat 75 persen pada 2011,ketimbang 2010 yang hanya 79.140 ton.  “Target Rumput laut  mencapai produksi 100 ribu ton, ikan nila  25 ribu ton, ikan mas 6.500 ton, ikan kerapu dan bandeng masing-masing 180 ton, dan udang windu 170 ton, sementara 7.060 ton lainnya dari produksi perikanan lainnya,”  tandasnya.

Guna mencapai target pertumbuhan produksi tersebut, menurut Korah,  pemerintah daerah melaksanakan dua program pendorong yakni pengembangan usaha minapolitan dan pengembangan kawasan minapolitan perikanan “Pemerintah mengucurkan dana untuk pengembangan dua program pengembangan perikanan tersebut, dan hingga kini hasilnya cukup optimal dalam memberi dorongan terhadap peningkatan produksi," kata Korah

Realisasi produksi beberapa jenis perikanan unggulan Sulut per Juli 2011 yakni rumput laut 71.305 ton, ikan nila 16.271,15 ton, ikan mas 6.114,02 ton, ikan bandeng 343,60 ton, udang windu 215,5 ton, kerapu 169,40 ton.  “Dari 15 kabupaten/kota di Sulut produksi perikanan tertinggi hingga pertengahan tahun ini terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebanyak 77.024 ton, disusul Minahasa 9.963 ton,” ungkapnya.

Pemerintah daerah berharap produksi perikanan Sulut mampu mencapai target yang diharapkan, dengan demikian Sulut ikut menyukseskan program pemerintah Indonesia dengan target menjadi produsen perikanan dunia pada 2014.(yg/mtr)

Minggu, Oktober 16, 2011

Krisis Bahan Baku, Pabrikan Migor bakal PHK Karyawan


MANADO BISNIS  – Pabrikan minyak kelapa  di Sulut, kian merasa sulit untuk memenuhi kebutuhan stok bahan baku kelapa. Itulah sebabnya, untuk  tetap  eksis berproduksi,  pabrikan mengancam mengurangi karyawan agar  kebangkrutan terhindar.  
Pabrikan Migor di Sulut kekurangan bahan baku  kelapa. (foto : ist)
                                
Seperti halnya yang diungkapkan General Manager PT Ivomas Pratama (Bimoli Group), Stevanus Prasethio pada sejumlah wartawan,  meminta  pemerintah memberikan proteksi bahan baku agar tidak semakin berkurang,  seperti yang mulai terjadi saat ini.

“Bahan baku kelapa khususnya kopra yang diproduksi petani Sulut, banyak yang lari ke daerah lain, akibatnya industri perkelapaan di daerah ini mulai terganggu operasionalnya,” kata General Manager PT Ivomas Pratama (Bimoli Group), Stevanus Prasethio.

Dikatakannya,  PT Ivomas selama ini membeli produk turunan kelapa petani dalam bentuk kopra kemudian mengolahnya menjadi minyak kelapa kasar dan minyak goreng, namun dalam beberapa bulan belakangan produksinya semakin berkurang, karena kesulitan bahan baku akibat dikirim ke daerah lain ataupun di ekspor dalam bentuk bahan mentah.

“Pemerintah harus membuat proteksi terhadap industri di suatu daerah diutamakan dalam hal ketersediaan bahan baku dari daerah tersebut, sebab kalau ini dibiarkan mengalir ke daerah lain, maka dampaknya industri daerah akan tutup,” ungkapnya.

Akibat kekurangan bahan baku kelapa khususnya kopra,  lanjut Stevanus, perusahaan penghasil minyak kelapa kasar atau “crude coconut oil” dan minyak goreng tersebut, terpaksa menurunkan produksi lebih separuh dari produksi normal. “Semula produksi Ivomas Pratama mencapai 10.000 ton setiap bulan, tetapi sekarang hanya mampu mencapai 4000 hingga 4500 ton setiap bulan, ini terjadi karena bahan baku semakin sulit didapat,” ujarnya.

Dikhawatirkan, menurut dia,  bila penurunan produksi berlangsung dalam jangka panjang, maka mau tak mau perusahaan harus melakukan pengurangan pekerja yang bekerja di pabrik. “PHK karyawan, dampaknya akan memperlemah ekonomi daerah, karena itu, pemerintah perlu membuat kebijakan proteksi khusus,” katanya.

Selain itu, pihaknya meminta agar beberapa regulasi perdagangan yang menghambat daya saing sektor perkelapaan agar ditinjau kembali, sebab dampaknya semakin memberatkan industri beroperasi di daerah. (yg/mtr)

Petani Hortikultura-Perikanan Sulut Belum Sejahtera


Budidaya perikanan air tawar, harus dikembangkan lagi (foto : ist)
MANADO BISNIS  – Petani hortikultura dan perikanan  Sulut,  pada September 2011 lalu, masih menunjukkan belum sejahtera. Hal ini terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS)  setempat  di bawah  angka 100.

Menurut Kepala BPS Sulut Dantes Simbolon, khusus tanaman hortikultura  pada Sepetember 2011 lalu mengalami kontraksi  bila dibandingkan Agustus 2011. “Pada bulan Agustus sektor ini mengalami penurunan sebesar 0,50 persen,” ujarnya.

Akan tetapi memasuki  bulan September, menurut Simbolon, memang tanaman hortikultura meningkat  0,35 persen. Dari 98,39  di bulan Agustus meningkat menjadi 98,73 di bulan September 2011. “Hal ini disebabkan karena indeks yang diterima petani (It) meningkat sebesar 0,54 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani (Ib) meningkat sebesar 0,19 persen,” papar Simbolan.

Dengan kata lain, diutarakanya , peningkatan Ib dari 129,12 di bulan Agustus menjadi 131,48 di bulan September 2011.  Peningkatannya  tak terlepas dari  konsumsi rumah tangga pada bulan September sebesar 0,22 persen.  “Namun  kondisi yang sama di Agustus terjadi juga di September bahwa NTP sektor hortikultura ini masih berada di bawah  100 yang mengindikasikan kondisi secara umum petani hortikultura masih belum sejahtera,” papar Simbolon.

Lebih  lanjut dijelaskan Simbolon, untuk sektor perikanan  NTP di bulan September 96,44, sedangkan Agustus 2011 96,90, yang berarti terjadi penurunan NTP sebesar 0,47 persen.  “Penyebabnya menurunnya It sebesar 0,50 persen, dari 123,97 menjadi 123,35 dan sedikit menurunnya Ib sebesar 0,03 persen, dari 127,94 menjadi 127,90,” terangnya.

Menurunnya besaran indeks yang dikeluarkan petani,  kata Simbolon, disebabkan menurunnya pengeluaran rumah tangga petani pada konsumsi rumah tangga sebesar  0,04 persen dan statisnya nilai pengeluaran BPPBM  pada sektor  ini. “Walaupun  NTP perikanan ini  mengalami relatif  kenaikan, akan tetap NTP-nya masih saja berada di bawah 100, yang mengindikasikan kondisi secara umum petani di sektor perikanan masih belum sejahtera,” pungkas Simbolon. (yg/mtr)

Soal Produksi Kopra Putih, Sulut Minta Perhatian Kemenperin


MANADO BISNIS  – Pengembangan kopra putih di Sulut,  masih bermasalah  pada cara memproduksinya.  Itulah sebabnya melalui instansi terkait Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, mengharapkan bantuan Kementerian Perindustrian  (Kemenperin) untuk pengembangan pengolahan kopra putih di daerah ini.
Kopra putih (foto : ist)
                             
Hal tersebut dikatakan Kepala Disperindag Sulut Sanny Parengkuan.  Menurutnya, harapan bantuan tersebut, berupa dana untuk pengadanaan tungku, sebab saat ini para petani di Sulut, terkendala alat tersebut untuk mengelolah kopra putih. Padahal, salah satu produk turunan kelapa tersebut, merupakan salah satu cara yang menarik dikembangkan, disaat krisis pangan melanda dunia saat ini. “Kami sangat berharap ada bantuan Kementerian Perindustrian, untuk pengelolahan kopra putih di daerah ini,“ ujar Parengkuan.

Lanjutnya, saat ini menjadi penilaian Disprerindag Sulut, ribuan tungku kopra putih sangat dibutuhkan. Sebab, jumlah tungku kopra putih di Sulut, belum sampai seratus. “Kopra putih itu sangat baik untuk dikembangkan. Salah satu hasilnya, yakni dapat menjadi bahan baku produk pangan,“ ungkapnya.

Sebelumnya dikatakan Parengkuan,  kopra putih menjadi salah satu produk turunan kelapa andalan.  “Kalau diolah menjadi kopra asapan, hasilnya berupa minyak kelapa kasar, dimana penggunaannya selain bahan baku produk pangan juga untuk bahan bakar alternatif,” tandasnya.

Tetapi untuk kopra putih,  lanjut Parengkuan, murni sebagai bahan baku pangan sebagaimana yang sudah banyak diujicobakan selama ini. “Kopra putih dapat diolah menjadi berbagai jenis produk pangan, yang sangat dibutuhkan masyarakat, karena itu menjadi cita-cita pemerintah daerah ke depan dapat memproduksi komoditas ini lebih banyak,” paparnya.

Ditambahkan  Kepala Bidang Industri Disperindag Sulut Benny Nongkan, mengolah buah kelapa menjadi kopra putih lebih menguntungkan petani, karena harganya jauh lebih mahal ketimbang kopra asapan. “Kondisi saat ini, sebagian besar petani kelapa hanya menghasilkan kopra asapan, tak heran bila banyak petani mengeluh tingkat kesejahteraan rendah, bila kopra putih berhasil dikembangkan maka optimis pendapatan petani akan lebih tinggi,” paparnya. (yg/mtr)