Minggu, September 30, 2012

Salilo-Koagow, Wajah Baru di Jajaran Direksi Bank Sulut



MANADO BISNIS – Seperti sudah diberitakan  awal, bahwa pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB)  PT Bank Sulut, bakal ada wajah baru, akhirnya terbukti. Adalah  Jeffry Salilo  dan Judy Koagow dipilih oleh pemegang saham menjabat direksi,  pada RUPS-LB  tersebut, Jumat (28/09).
Pelayanan di Bank Sulut (foto MANADO BISNIS)

Diketahui Salilo merupakan pejabat karir di PT  Bank Sulut, yang saat ini masih  menjabat sebagai  kepala divisi  Sumber Daya Manudia (SDM)  dan terpilih pada RUPS-LB sebagai Direktur Kepatuhan, menggantikan Jefferson Lungkang yang digeser menjabat komisaris.  

Sedangkan Koagow, adalah keterwakilan dari Para Grup yang adalah salah satu pemegang saham di PT Bank Sulut. Koagow sendiri saat ini masih menjabat Kepala Cabang Bank Mega Manado dan pada RUPS-LB terpilih sebagai Direktur Operasional, menggantikan Jantje Kaungan, yang diketahui tidak lulus pada fit and proper test (FPT).

Disamping itu, untuk jajaran komisaris juga terdapat wajah baru keterwalikan dari  Para Grup.  Dia adalah Mustamir Bakri, menggantikan Ali Gunawan juga dari Para Grup,  yang tidak lulus saat  FPT lalu.
Direktur Utama (Dirut) PT Bank Sulut Johanes Salibana, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pengisian direksi dan komisaris yang baru. “Jadi memang ada dua direksi yang baru, masing-masing Jeffry Salilo dan Judy Koagow. Begitu juga di jajaran komisaris ada dua yang baru, Jefferson Lungkang dan Mustamir Bakri,” ungkapnya.

Namun begitu, lanjut Salibana,  dua direksi dan dua komisaris yang baru tersebut,  harus lagi mengikuti FPT. “Dari PT Bank Sulut akan mengajukan  empat nama tersebut untuk mengikuti FPT di Bank Indonesia,”  tandasnya.

Sekedar diketahui,  posisi direksi  yang tak berubah adalah Dirut sendiri Johanis Salibana, Direktur Pemasaran Novie Kaligis dan Direktur Umum Felming Harun. Sedangkan di jajaran komisaris adalah  Komisaris Utama Robby Mamuaja dan Effendy Manopo.  [yg/mtr]

UMK di Sulut Didorong Kembangkan Komoditas Strategis



MANADO BISNIS – Bukan hanya kalangan pemerintahan yang mendorong Usaha Mikro Kecil (UMK) Sulut agar berkembang. Kali ini dari lembaga BUMN yakni PT Jamsosotek  mendorong  munculnya  UMK untuk mengembangkan komoditas strategis daerah ini.
Kelapa salah satu komoditas strategi Sulut

"Komoditas strategis yakni produk yang masuk dalam rencana pengembangan oleh pemerintah daerah sebagaimana tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah(RPJM)," kata Kepala Jamsostek Cabang Sulut, Arief Budiarto.

Dikatakannya,  usaha kecil yang berhasil mengembangkan produk unggulan strategis daerah ini, akan ditetapkan sebagai mitra binaan unggulan.

Ditambahkan  Kepala Bidang Pemasaran Jamsostek Sulut, Dewi Mulya Sari, sampai saat ini pihaknya belum mendapati mitra binaan yang layak masuk kategori unggulan."Jamsostek terus mendorong, sehingga muncul mitra binaan yang dapat dikatakan unggulan daerah, karena mampu mengembangkan komoditas yang menjadi kearifan lokal Sulut," kata Dewi.

UMK yang sudah jadi mitra binaan selama ini, serta calon mitra binaan Jamsostek,  lanjut Dewi,  diharapkan untuk lebih inovatif dalam mengembangkan usaha. "Mungkin ada yang hanya terfokus ke perdagangan, nah kita akan dorong supaya UMK ini mampu melakukan perluasan jenis usaha, terutama yang menjadi unggulan daerah," paparnya.

Pemberdayaan UMK, ditambahkannya,  akan menjadi salah satu program yang terus didorong dalam upaya menciptakan mitra binaan peduli terhadap komoditas unggulan daerah ini. [yg/mtr]

Jumat, September 28, 2012

Pemprop Sulut Pacu Budidaya Ikan Nila



MANADO BISNIS -  Potensi untuk budidaya ikan nila di Sulut sangat besar. Itulah sebabnya, pemerintah setempat  melalui dana bersumber dari anggaran pendapatan belanja daerah(APBD) dan anggaran pendapatan belanja negara(APBN) telah menyebar sekitar 800 benih nila gratis kepada petani pembudidaya air tawar di  Sulut.

"Sebanyak 800 ribu benih ikan nila gratis tersebut berdasarkan perhitungan data hingga akhir Agustus 2012," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan(DKP) Sulut, Joy Korah.

Dikatakannya,  pemerintah daerah  masih akan terus menambah bantuan benih kepada pembudidaya guna mendorong peningkatan produksi ikan air tawar daerah ini terus meningkat. "Tahun 2011 lalu, pemerintah menyalurkan satu juta benih, kita targetkan tahun ini lebih besar dari realisasi tahun lalu,"  ujarnya.

Bila rencana penyaluran benih nila tersebut rampung hingga 1 juta benih, lanjut Korah, maka  produksi ikan air tawar untuk sekali panen dapat bertambah sekitar 900 ribu kilogram(Kg). Bantuan yang diberikan pemerintah provinsi ini,  diharapkan menjadi stimulus agar semakin banyak masyarakat membudidayakan ikan nila. "Permintaan ikan nila sangat tinggi, baik dari masyarakat Manado dan sekitarnya, juga datang dari pelaku usaha rumah makan dan restoran yang menjadikan ikan nila sebagai salah satu lauk andalan," paparnya.

Pangsa lokal memang masih mendominasi pasar ikan nila, tetapi diharapkan bila produksinya terus bertambah dapat dipasarkan lebih luas ke daerah lain di Indonesia. "Tidak menutup kemungkinan pasar ekspor tercipta, karena ada beberapa negara yang berminat membeli produk ikan nila daerah ini,"  terangnya.

Ditambahkan Korah,  perluasan areal perikanan nila  memungkinkan dilaksanakan di daerah ini, karena tersedia lahan kolam yang cukup luas di daerah ini.[yg/mtr]

Jamsostek Sulut Naikkan Iuran JPK



MANADO BISNIS  - Dasar perhitungan iuran Jaminan Pemeliharaan Kerja (JPK) yang awalnya maksimal Rp1 juta dari upah sebulan, sekarang diubah menjadi paling tinggi 2 kali PTKP-K1. Pendapatan tidak kena pajak keluarga dengan anak satu) per bulan atau setara dengan Rp. 3.080.000 atau 2 kali Rp 1,540.000.
Kepala Jamsostek Sulut Ariaf Budiarto

Demikian dikatakan Kepala PT Jamsostek Sulut, Arief Budiarto pada  sosialisasi Peraturan Pemerintah No 53 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedelapan atas Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja kepada para perusahaan peserta Jamsostek,  di Hotel Granpuri  Manado. "Kami optimis dengan sosialisasi yang telah dilakukan, peserta jamsostek akan semakin merasakan manfaat layanan dan perlindungan program jamsostek," ujarnya.

Dalam sosialisasi tersebut, dihadiri sekitar 75 para pengurus perusahaan peserta Jamsostek dan 15 orang perwakilan dari provider mitra kerja PT. Jamsostek yang memberikan pelayanan kesehatan kepada para peserta Jamsostek yang lazim disebut PPK I dan PPK II. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua DPP APindo Sulut, Max Pangkey, mengatakan, sosialisasi sangat perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman lebih kepada pengusaha dan pekerja di Sulut mengenai informasi terbaru program Jamsostek.  "Dengan berbagai program jaminan sosial dan manfaatnya serta pelayanan optimal, diharapkan ke depan keberadaan Jamsostek benar-benar dirasakan oleh pekerja dan perusahaan." ucapnya.

Ditambahkan  Kepala PT Jamsostek Manado, Arief Budiarto,  peningkatan iuran JPK dapat mengimbangi peningkatan biaya pengobatan dan perawatan yang signifikan. Sebagai imbas dengan adanya kenaikan iuran JPK, pemerintah akan mengeluarkan kenaikan manfaat JPK dalam waktu yang tidak terlalu lama.
"Terdapat peningkatan manfaat JKM dari total Rp 16,8 juta menjadi Rp 21 juta dan santunan berkala yang tadinya hanya dapat dibayarkan secara berkala setiap bulan,"  paparnya. [yg/mtr]

Kemenperin Dorong Pertumbuhan Pangan Sulut



MANADO BISNIS - Kementrian Perindustrian (Kemenperin) RI terus mendorong upaya pertumbuhan pangan di daerah-daerah termasuk  Sulut. Dorongan ini guna meningkatkan daya saing dari kualitas hasil olahan industri pangan di Sulut sendiri.

Hal ini dikatakan  Kepala Seksi Program Direktorat Industri Minuman dan tembakau Kemenperin, Mogadishu Djati Ertanto, di Hotel Travello Manado.

"Kelemahan tidak semua industri itu sempurna karena memang mempunyai daya saing, kita sedang bekerja keras untuk meningkatkan daya saing tersebut dari sisi bahan baku, dari sisi proses pengolahan dan dari sisi pasarnya juga intensive yang juga diberikan," ujarnya.

Ertanto mengatakan,  procecing dalam industri tersebut telah diatur dalam Permenperin nomor 75 Tahun 2010 tentang cara pengolahan pangan yang baik. Apalagi di tahun 2015 nantinya, Indonesia akan masuk dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). "Tahun 2015 kan sudah masuk masyarakat ekonomi Asean, pada saat itu sudah ada produk-produk daerah yang sudah diperdagangkan secara bebas ditingkat Asean. Perdagangan bebas yakni dari ssi aliran barang bebas dan tidak ada lagi hambatan kualitas," paparnya.

Di pihak lain, Kemenperin menjelaskan  ada permasalahan yang dihadapi industri pangan dalam negeri,  seperti di makro industri makanan dan minuman yakni adanya ekonomi biaya yang tinggi, infrastruktur terbatas, kurangnya pasokan listrik serta suku bunga perbankan yang tinggi. "Di tingkat mikro, industri makanan dan minuman secara umum menghadapi permasalahan seperti produk primer yang masih banyak diekspor, teknologi pengolahan yang masih ketinggalan, ketidakpastian pasokan bahan baku darisisi jumlah mutu,issue negatif tentang bahan tambang pangan, peredaran produk impor illegal, persyaratan mutu dan teknis negara tujuan ekspor dan sebagainya,"  jelas Direktur Industri Minuman dan Tembakau Kemenperin, Enny Ratnaningtyas, pada kesempatan yang sama.  [yg/mtr]

Eropa Paling Banyak ‘Sedot’ CCO Sulut



MANADO BISNIS  - Crude coconut oil (CCO) atau minyak kelapa kasar yang dimiliki Sulut  ternyata paling banyak diekspor ke benua Eropa.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Sanny Parengkuan, selama triwulan I dan triwulan II 2012 ini,  komoditi minyak kelapa kasar yang paling banyak diekspor bila dibandingkan dengan komoditi lainnya ke Eropa. "Minyak kelapa kasar selama triwulan I dan triwulan II telah diekspor sebanyak 151,6 ribu ton dengan menghasilkan devisa sebanyak 192,25 juta Dollar Amerika," ujarnya.

Dikatakannya,  minyak kelapa kasar ini sangat berpotensi bagi kesejahteraan petani kelapa, apalagi pasar minyak kelapa kasar di luar negeri sangat banyak. Bukan itu saja, juga membuka peluang pasar baru. "Ekspor minyak kelapa kasar ini dilakukan dibeberapa negara. Ekspor terbesar memang masih ke daratan Eropa, akan tetapi beberapa tahun belakangan  ini mulai meluas hingga kekawasan Asia dan Amerika," ungkapnya.

Minyak Kelapa Kasar, lanjut Parengkuan,  merupakan salah satu produk turunan dari kelapa yang telah menjadi andalan ekspor Sulut hingga saat ini. Selain itu, komoditas tersebut juga mampu menguasai sekitar 60-70 persen dari total ekspor Sulut.

Sementara itu, menurut salah satu eksportir,  tahun ini minyak kelapa kasar  diarahkan ke pasar Korea, menyusul permintaan negara tersebut yang cenderung meningkat satu tahun belakangan ini. "Korea menjadi satu pasar potensial minyak kelapa kasar, ditandai permintaan negara tersebut yang menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu," kata General Manager PT Bimoli, Stevanus Prasethio.

Dia menjelaskan,  sebelumnya pasar minyak kelapa kasar masih dikuasai Belanda, dan Amerika Serikat, tetapi seiring permintaan masyarakat di negara tersebut yang terus meningkat maka pengiriman ke negara tersebut juga mengalami pertambahan tajam. [yg/mtr]

17 Negara akan Ikut ASEF di Manado



MANADO BISNIS  - Asian Solidarity Economy Forum (ASEF) di Manado,  pada 1-3 Oktober 2012 akan diikuti oleh sekitar 500 peserta dari 17 negara.
Kota Manado

"Sesuai dengan konfirmasi terakhir yang kami terima, peserta yang akan ikut sekitar 500 orang dari 17 negara," kata Direktur IBA Fakultas Ekonomi Universitas Samratulangi Manado, Peggy Mekel.
Mekel mengatakan peserta tersebut berasal dari kalangan pebisnis, ekonom maupun LSM yang peduli ekonomi dan perkembangan perekonomian dari Jepang, Filipina, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Nepal, Jepang, Korea, Australia, Kanada dan Jerman . "Pertemuan akan digelar mulai 1-3 Oktober 2012, yang diharapkan akan membawa perubahan besar bagi perkembangan perekonomian terutama untuk Indonesia dan Sulawesi Utara," kata Mekel.

 Mekel menambahkan ASEF ini adalah salah satu forum yang akan membahas banyak hal penting, yakni implementasi lima dimensi ekonomi solidaritas. Kelima hal tersebut adalah keterjaminan ekonomi, iklim dan lingkungan yang sehat, pengelolaan yang disertai tanggungjawab sosial, peningkatan kesejahteraan sosial, dan peningkatan nilai-nilai yang dianut di berbagai negara. "Pembicara yang akan hadir juga berasal berbagai negara, sehingga para peserta bisa mendapat ilmu dengan berbagai latarbelakang sosial," katanya.
 Mekel menjelaskan, latarbelakang yang dimaksud adalah "social entrepreneur", "microfinance" dan pendidikan, "global network". Jadi akan sangat bermafaat bagi para seluruh pelaku ekonomi mulai dari pebisnis hingga para akademisi.

 ASEF pertama kali dilaksanakan pada 2007 di Manila Filipina, kemudian 2009 di Tokyo Jepang, 2011 di Kualalumpur Malaysia dan 2012 di Manado. [yg/mtr]

Selasa, September 25, 2012

Soal Penjualan Solar, Pertamina Minta SPBU Taat Aturan



MANADO BISNIS - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di  Sulut dilarang sembarangan menjual solar bersubsidi, bagi yang tidak berhak menerimanya.
Kantor Pertamina Manado

Hal ini ditegaskan Pjs Sales Area Manager Pertamina Manado, Kristanto.  “Pertamina akan menindak tegas pengelola SPBU yang secara sembarangan menjual solar bersubsidi. SPBU tidak diperkenankan menjual solar bersubsidi untuk angkutan pertambangan dan pertanian, mereka harus membeli solar non subsidi pada titik penjual yang telah ditunjuk,"  tandas Kristanto.

Solar bersubsidi yang di SPBU sekarang, lanjutnya,  hanya diperuntukkan bagi angkutan umum dan pribadi atau angkutan lain yang tidak terkait dengan usaha sektor pertambangan dan pertanian. "Pengelola SPBU agar mentaati kebijakan yang telah diturunkan Pertamina, karena hal tersebut merupakan amanah undang undang yang tujuannya menghemat keuangan negara dengan mengurangi penjualan solar bersubsidi,"  jelasnya.

 Masyarakat di sekitar SPBU,  dimintakannya,  melaporkan ke pihaknya jika menemukan pengelola stasiun penjual BBM tersebut masih melayani kendaraan pertambangan dan pertanian. "Tindakan tegas mulai penghentian pasokan, hingga pencabutan perjanjian kerja sama, ini perlu dilakukan guna mengamankan subsidi pemerintah,"  ungkapnya.

Pengelola SPBU diminta tidak melayani kendaraan angkutan pertambangan dan pertanian. “Bila ada pembeli yang mencoba memaksa dengan kekerasan, SPBU agar melaporkan ke Pertamina,"  papar  Kristanto.
 Pertamina, ditambahkannya,  sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi(Pemrov) Sulut, BPH Migas, Polda serta DenPom guna pengamanan kebijakan pembatasan penjualan solar bersubsidi.  [yg/mtr]

BI Sulut Gandeng Kejati-Polda Tangani Pidana Perbankan



MANADO BISNIS  – Untuk menangani  tindak pidana perbankan di Sulut,  Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulut berkoordinasi dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Kepolisian Daerah (Polda),

Menurut Kepala BI Perwakilan Sulut Suhaedi, sosialisasi/diskusi  telah dilaksanakan  untuk memperoleh kesamaan pemahaman dalam koordinasi penanganan tindak pidana perbankan. "Tentang kerjasama penanganan tindak pidana perbankan dan petunjuk pelaksanaannya. Mempercepat, memperlancar, dugaan tindak pidana bidang perbankan," tandasnya.

Deputi Direktur, BI Sulut  Ferry Papera mengatakan pihaknya berharap kesepakatan ini akan memperlancar dan mengoptimalkan hingga ke pengadilan tindak pidana perbankan serta memberikan efek jerah yang belum menyadari.

Lanjut ia jelaskan, Bank Indonesia  dihadapkan pada kewajiban untuk menata sistem  perbankan dan sekaligus mengambil tindakan tegas terhadap permasalahan bank melalui berbagai  langkah pembinaan dan upaya penyehatan sesuai  dengan ketentuan yang berlaku. "Apabila langkah pembinaan tersebut belum cukup maka bank dapat diberikan sanksi administratif dan apabila ditemukan  adanya indikasi tindak pidana di bidang perbankan maka hal tersebut akan dilaporkan kepada penegak hukum,"  ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya,  dalam rangka membantu penegak hukum untuk mengetahui dan memahami modus operandi dan  membuktikan tindak pidana yang terjadi, dan dapat mengamankan dana masyarakat sehingga tidak  terjadi rush yang pada gilirannya dapat mengganggu  kelangsungan usaha bank dan sistem perbankan maka perlu dilakukan koordinasi penanganan dugaan tindak pidana di bidang perbankan. [yg/mtr]

Kemenhub akan Tutup Bandara di Talaud



MANADO BISNIS  - Kementerian perhubungan akan menutup operasional Bandara Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud. Keputusan ini dilakukan bila pemerintah daerah tidak menutup pemanfaatan Agen Premium, Minyak Solar (APMS) yang dibangun dekat dengan bandara.
Bandara di Talaud Propinsi Sulut

Kepastian ini dikatakan  Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Propinsi Sulawesi Utara, Parlindungan Tampubolon. “Tangki APMS dibangun dekat dengan bandara dan sangat membahayakan alur penerbangan yang menggunakan bandara ini,” kata Tampubolon.

Dia mengatakan, pemerintah daerah yang berkewajiban menutup tangki APMS dan mengalihkan ke tempat lain yang lebih aman. “Kepala daerah yang telah meresmikan tanda dimulainya pemanfaatan APMS tersebut. Dan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sudah menyuratinya agar pemerintah memindahkan APMS tersebut,” tandasnya.

Dia menjelaskan, sebelum beroperasinya tangki APMS tersebut, kementerian perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Daerah telah mengirimkan surat agar pengisian bahan bakar umum tersebut dapat dipindahkan . Namun menurut Tampubolon, surat yang disampaikan kementerian perhubungan sebanyak dua kali tersebut tidak diindahkan. “Sekarang tinggal pemerintah daerah yang harus menindaklanjutinya. Apalagi, peran bandara ini sangat dirasakan oleh semua pihak yang mempunyai kepentingan ke Kepulauan Talaud,”  paparnya.

Bila ijin operasional bandara dicabut, praktis transportasi menuju ke Kabupaten Talaud hanya menggunakan kapal laut dan butuh waktu belasan jam serta berhadapan dengan gelombang laut yang kerap berubah-ubah. “Terinformasi desakan dipindahkannya tangki APMS yang dibangun dekat bandara, karena tangki tersebut masuk dalam Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan,” ungkapnya. [yg/mtr]

Jumat, September 21, 2012

Bank Sulut Perkuat Layanan UMK



MANADO BISNIS  – PT Bank Sulut  membuka kantor jaringan di sejumlah sentra usaha mikro kecil(UMK) dalam upaya mendorong peningkatan ekonomi sektor riil yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dirut Bank Sulut Johanis Salibana

Demikian dikatakan Direktur Utama (Dirut) Bank Sulut  Johanis Salibana. "Selama September 2012 ini, Bank Sulut membuka kantor layanan setingkat kantor cabang pembantu(KCP) di Tuminting dan Pasar Segar Manado, Likupang Kabupaten Minahasa Utara, dan Tataaran Kabupaten Minahasa," tandasnya.

Yang sudah diresmikan dan dimulai operasionalnya, menurutnya,  yakni KCP Tuminting dan pada Selasa(18/9) KCP Likupang, Minahasa Utara sementara kawasan lainnya akan segera dibuka dalam waktu dekat ini.    Keempat kantor layanan tersebut, kata Salibana dikenal sebagai pusat berkumpulnya kegiatan UMK, karena itu menjadi target untuk pembukaan kantor layanan Bank Sulut. "Tujuan kita selain menggerakkan kegiatan bisnis di sentra UMK, juga mendekatkan pelayanan dengan masyarakat, karena itu terus melakukan ekspansi jaringan," ungkapnya.

Terutama yang dibidik, diutarakan Dirut, , pusat kecamatan yang dalam analisa punya kegiatan ekonomi produktif terutama sektor UMK yang cukup tinggi, akan diupayakan ada kantor layanan Bank Sulut. “Pada Oktober 2012 mendatang, Bank Sulut akan merambah ke Propinsi Gorontalo khususnya di Kabupaten Pohuwato dengan rencana membuka dua kantor layanan baru,” papar Salibana.

Ditambahkan  Direktur Pemasaran PT Bank Sulut, Novie Kaligis, pembukaan kantor layanan langsung diikuti dengan pengoperasioan jaringan online melalui kehadiran automatic teller machine (ATM)."Dengan sistem online tersebut maka masyarakat dapat memperoleh kemudahan dalam bertransaksi, dengan demikian dapat mendorong percepatan ekonomi di kawasan pedesaan," ucapnya. [yg/mtr]

Rumah Mini Sulut Diminati Belanda



MANADO BISNIS  – Produk rumah kayu Sulut pasarannya mulai merambah ke mancanegara. Kali ini jenis gazebo atau rumah mini diekspor  ke Belanda pada pertengahan September 2012.

"Memang hanya satu unit gazebo yang diekspor ke negara tersebut, tetapi ini merupakan hal yang baik, karena gazebo banyak diproduksi pengrajin rumah panggung di Sulut," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri  Dinas Perindustrian dan Perdagangan(Disperindag) Sulut, Hanny Wajong.

Dikatakannya, gazebo di Belanda 8.500 dolar AS atau seharga Rp81 juta, dua hingga tiga kali lebih tinggi ketimbang harga yang berlaku untuk jenis rumah tersebut di pasaran Manado dan sekitarnya. Gazebo itu sendiri merupakan produk rumah yang lebih cocok sebagai tempat santai dan rekreasi bagi keluarga, karena banyak dipesan menjadi salah satu infrastruktur di tempat wisata."Pemerintah daerah berharap terbukanya pasar Gazebo di Belanda tersebut akan merambah ke negara lainnya, dengan demikian produk ini dapat menjadi salah satu andalan Sulut ke depan,"  ungkapnua.

Gazebo tersebut, menurut Wajong,  diproduksi oleh pengrajin di Woloan Kota Tomohon, salah satu daerah yang menjadi sentra industri rumah kayu dan rumah panggung di Propinsi Sulut. Selain gazebo, rumah panggung juga kembali bangkit menjadi komoditas ekspor unggulan daerah ini, menyusul permintaan tinggi dari beberapa negara di Afrika. "Terakhir pengiriman ke Dubai, Uni Emirat Arab, sebanyak tiga unit wooden house atau rumah panggung, sebelumnya ada permintaan dari Zambia dan negara lainnya,"  pungkas Wajong. [yg/mtr]

PLKA Sulut Direncanakan Pakai Sistem On Line



MANADO BISNIS  – Sistem on line direncanakan akan  dipakai dalam pelaksanaan Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA) Sulut. Itulah sebabnya,
Komoditi kelapa banyak dijual di PLKA Sulut

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi  (Bappebti) memberdayakan PLKA  tersebut  melalui kegiatan simulasi kepada petugas perdagangan. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Sanny Parengkuan. "Sistem PLKA ada patokan yang berdasarkan Bappebti, diharapkan dengan imulasi ini secara bertahap pelaksanaannya berlangsung sebagaimana prosedur yang sebenarnya," ujarnya.

Parengkuan   mengatakan PLKA pada dua tiga tahun ke depan akan diarahkan pada satu sistem online, karena itu petugas didalamnya terus diberdayakan agar mampu menjalankan perdagangan ini dengan baik. "Salah satu arah PLKA, yakni bagaimana memotivasi agar semakin banyak peserta terlibat di dalamnya, dengan varian produk yang lebih beragam," ujarnya.

Pelaksanaan PLKA saat ini, lanjut dia,  sudah semakin baik, tetapi yang perlu terus dipacu bagaimana agar komoditas yang diperdagangkan dan tercipta transaksi lebih banyak. "Harapan dari PLKA bukan hanya transaksi yang meningkat, tetapi bagaimana komoditas unggulan daerah mampu diperdagangkan melalui kegiatan perdagang forward ini," tandasnya.

Lebih lanjut diutarakan Parengkuan, PLKA Sulut untuk periode bulan September 2012 ini akan berlangsung pada Kamis(20/9) hari ini,  akan menghadirkan para petani, industri kecil, produsen produk lainnya, dengan para pembeli terdiri pasar swalayan, pengekspor dan pabrik komoditi primer yang beroperasi di Sulut. “Sejak diluncurkan pertama kali pada April 2004 silam, PLKA Sulut sudah mampu menghimpun transaksi perdagangan lebih Rp500 miliar, dengan melibatkan lebih peserta terdiri baik pembeli dan penjual,” paparnya.

Beberapa komoditas yang menjadi andalan PLKA Sulut, ditambahkan Parengkuan,  diantaranya, jagung, kopra, kentang, beras, produk perikanan, pala dan fuli, dodol salak, dan sejumlah hasil produk IKM lainnya.  [yg/mtr]

DJP-Kejagung Sosialisasi MoU Pajak di Manado



MANADO BISNIS  - Direktorat Jenderal Pajak(DJP) Kementerian Keuangan dan Kejaksaan Agung RI mensosialisasikan memorandum of understanding(MoU) pengamanan penerimaan pajak.

"Ada tiga hal penting dalam kerja sama dengan DJP soal pajak dimulai dari  intelejen, penyelesaian perdata hingga ke pidana," kata Koordinator VI Perdata dan Tata Usaha Negara(Datun) Kejagung RI, J Tanak SH MH.

Kerja sama DJP dan Kejagung ditandai MoU antara kedua pihak pada  5 April 2012 yang lalu antara Menteri Keuangan RI, Agus Martowardojo dengan Jaksa Agung, Basrief Arief. Maksud adanya kerja sama ini, kata Tanak, untuk meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam melaksanakan tugas dan fungsi DJP-Kejaksaan bertujuan mewujudkan sinergi dan keterpaduan dalam pelaksanaan serta pencapaian tugas dan fungsi kedua instansi.

Sementara itu, Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Pajak DJP, Kementerian Keuangan, Dadang Suwarna mengatakan, ruang lingkup MoU ini adalah pengamanan penerimaan negara dan penyelematan aset negara. Kemudian penanganan tindak pidana perpajakan, tindak lanjut penyidikan, pemeriksanaan pegawai yang berindikasi tindak pidana, pemanggilan, permintaan keterangan dan pengumpulan bukti. “Ruang lingkup lainnya, penerangan dan penyuluhan hukum, bantuan dan pertimbangan hukum serta tindakan lainnya di bidang perdata dan tata usaha negara, pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia, serta dukungan kelancaran tugas dan fungsi pengelolaan kekayaan dan keuangan negara lainnya,” paparnya.

Akan halnya Kepala Kejaksaan Tinggi Sulut, Hindiyana SH mengatakan, selain tugas utamanya dalam hal perdata dan tata usaha negara(Datun) serta pidana, maka kejaksanaan juga sesuai arahan undang undang menjadi pengacara negara. "MoU DJP dan Kejagung RI ini diantaranya juga tugas pengacara negara, yang lebih banyak menyelesaikan persoalan secara non legitasi," paparnya. [yg/mtr]

Rabu, September 19, 2012

Sulut Kembangkan Pasar Perdagangan dan Pariwisata



MANADO BISNIS  – Pasar perdagangan dan pariwisata, tak lama lagi akan hadir di Sulut tepatnya di Kota Manado. Hal ini pun menyusul pengusulan anggaran Rp 24 miliar ke Kementrian Perdagangan  guna membangun pasar perdagangan dan pariwisata  tersebut.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan. "Kita tetapkan Pasar Bersehati untuk disulap menjadi pasar perdagangan dan pariwisata, dan itu membutuhkan dana sekitar Rp24 miliar," ujarnya.

Dikatakan Parengkuan, pembangunan pasar perdagangan dan pariwisata di Kota Manado, merupakan percontohan nasional. "Sebagaimana program pemerintah pusat, Pasar Bersehati Manado akan menjadi pilot project pengembangan pasar perdagangan yang dikombinasikan dengan pariwisata di seluruh Indonesia," tandasnya.

Penetapan Pasar Bersehati Manado, yang selama ini menjadi tempat berjualan para pedagang usaha kecil yang ada di daerah ini, menurutnya, karena lokasi pasar tersebut yang berada di tepi pantai Manado serta diapit Pelabuhan Manado dan sungai Tondano merupakan alur sungai terbesar melewati ibukota provinsi Sulut tersebut. "Selain strategis, Pasar Bersehati Manado menjadi pilihan utama, karena lokasi tersebut menjadi pelabuhan sejumlah kapal wisata untuk menuju taman laut terindah di dunia, Taman Laut Nasional Bunaken," ungkap Parengkuan.

Bila pembangunan pasar perdagangan dan pariwisata tersebut berhasil terwujud, maka fungsi pasar tersebut,  bukan hanya memberi kemudahan kepada masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok mereka melalui perdagangan barang dan jasa, tetapi juga sebagai salah satu kawasan menarik untuk dikunjungi wisatawan.  “Konsep pembangunan perdagangan dan pariwisata,  sangat tepat dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata melalui kunjungan wisatawan yang lebih banyak,” papar Parengkuan.

Ditambahkannya, Pasar Bersehati merupakan pasar tradisional terbesar di Kota Manado, dimana bersama dengan pasar Pinasungkulan Karombasan, menjadi titik perdagangan berbagai kebutuhan pokok masyarakat sejak dulu kala hingga kini. [yg/mtr]

Rawan Bencana, Stok Beras di Kepulauan Sulut Ditambah



MANADO BISNIS  – Guna memperkuat ketahanan pangan yang rawan bencana,
Perum Bulog Divisi Regional (Divre)  Sulut  menambah pasokan beras 1.000 ton bagi  masyarakat yang tinggal di kabupaten kepulauan meliputi Sangihe dan Talaud.

"Tambahan stok beras tersebut guna memperkuat ketahanan pangan masyarakat di kepulauan sehingga bisa tercukupi hingga Maret tahun depan," kata Kepala Perum Bulog Divre Sulut, Muhammad Hasyim.

Dikatakannya,  masyarakat yang tinggal di kepulauan apalagi wilayah terjauh seperti Kabupaten Talaud, harus dijamin kebutuhan pangan mereka, karena itu Bulog mengantisipasi dengan menambah stok ke daerah tersebut. Upaya memperbanyak stok beras ke kabupaten kepulauan tersebut,  juga sebagai antisipasi dampak musim kemarau yang bisa berdampak berkurangnya pasokan beras dari daerah sentra. "Beberapa daerah sentra di Indonesia masih terjadi kemarau, ini bisa berdampak stok pangan menipis, karena itu Bulog melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat stok beras yang ada," jelasnya.

Selain kekhawatiran dampak musim kemarau,menurut Hasyim,  masalah transportasi yang cukup sulit ke kabupaten perbatasan, menjadi pertimbangan juga, sehingga Bulog menambah pasokannya jauh dari jumlah rata-rata persediaan setiap hari.

Ditambahkan Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog Sulut, Noldy Tumigolung , tambahan pasokan tersebut juga disesuaikan dengan kapasitas gudang Bulog yang ada di kawasan tersebut. "Saat ini Bulog memiliki lima gudang beras untuk melayani masyarakat di tiga kabupaten kepulauan Talaud, Sangihe dan Sitaro, dimana tiga diantaranya berada di Talaud, yang merupakan wilayah kepulauan terjauh dari Kota Manado," papar Noldy.

Ketiga gudang di Kabupaten Kepulauan Talaud yakni GSP Melonguane, Lirung dan Beo dengan kapasitas tampung beras hingga 1.850 ton. [yg/mtr]

Manado Fokus Tiga Komoditi



MANADO BISNIS  -  Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Manado mengembangkan tiga komoditi unggulan mulai tahun ini.  "Ketiga komoditi unggulan tersebut adalah pepaya, pisang dan ubi," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Manado, Ricky Poli.
Pepaya akan dikebangkan Pemkot Manado

Dikatakannya,  tujuan pemerintah mengembangkan ketiga komoditi unggulan tersebut adalah untuk menunjang ketahanan pangan kota ini, supaya tetap baik. "Intinya pengembangan ketiga komiditi unggulan tersebut dilakukan, supaya bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Manado," tandasnya.

Ia menambahkan, dengan adanya keragaman pangan seperti ini, maka masyarakat tidak akan terlalu tergantung pada beras atau nasi, tetapi mau mengkonsumsi ubi atau pisang sebagai pengganti.

Poli mengatakan, untuk pengembangan ketiga komoditi unggulan tersebut, Manado sudah memiliki lahan yang luas di Kecamatan Mapanget, Bunaken dan Tikala.  "Di Kecamatan Mapanget, lahannya luas dan telah dimanfaatkan penduduk maupun kelompok tani untuk pengembangan komoditi unggulan tersebut," katanya.
Dia  menyebutkan, selain menjadi pangan alternatif, ubi, pisang dan pepaya nilai ekonomisnya tinggi, artinya akan sangat membantu masyarakat meningkatkan taraf ekonominya, karena bisa dijual dengan harga bersaing di pasaran. [yg/mtr]

Rumah Panggung Sulut Tembus Negara Arab


Rumah panggung Sulut

MANADO BISNIS– Rumah panggung Sulut atau rumah adat Minahasa, kembali bergairah ekspornya. Betapa tidak, pada pertengahan September 2012 ini, rumah panggung tersebut berhasil diekspor ke Dubai, Uni Emirat Arab.

Hal ini  pun diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan. "Sebanyak tiga unit rumat panggung yang diekspor ke Dubai, mendatangkan devisa sebesar 52.202  dolar AS, harga jualnya lebih tinggi ketimbang pasaran lokal, " ujarnya.

Terciptanya realisasi ekspor rumah panggung ke Dubai tersebut, kata Parengkuan,  semakin melengkapi kekayaan komoditas unggulan ekspor daerah ini untuk mampu merambah ke berbagai negara di dunia. "Rumah panggung merupakan salah satu kearifan lokal daerah ini, dimana ada beberapa daerah yang sebagian besar penduduknya menyandarkan hidup keluarga mereka dengan memproduksi rumah dengan berbagai corak dan bentuk menarik dan nyaman,"  tandasnya.

Di Sulut sendiri, menurut Parengkuan,  ada dua daerah yang telah ditetapkan sebagai sentra penghasil rumah panggung ataupun rumah kayu, yakni Woloan Kota Tomohon dan Mokobang Kabupaten Minahasa Selatan. “Kedua daerah tersebut saat ini, menjadi penyuplai terbesar kebutuhan rumah panggung bagi masyarakat Sulut, daerah lainnya di Indonesia serta sejumlah  mancanegara,” ungkapnya.

Dengan terbukanya pasar ekspor yang lebih luas, diharapkannya,  akan mendorong bertumbuhkembangnya pengrajin rumah panggung sehingga mereka mampu menghasilkan komoditas yang berkualitas dan diterima pasar secara internasional. “Sulut pada beberapa bulan lalu, diketahui mengekspor rumah panggung yang sudah dimodifikasi, ke Zambia, salah satu negara di Afrika.

Sedangkan di tahun silam, rumah pangung adat Minahasa tersebut pernah merambah sejumlah negara seperti Spanyol, Jerman, Argentina, India dan dan negara lainnya,” papar Parengkuan. [yg/mtr]

Tarik Investor Mancanegara, KEK Bitung akan Dipromosikan



MANADO BISNIS  – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung akan dipromosikan, dengan cara melaksanakan workshop untuk investor dari beberapa negara yang diketahui punya minat berinvestasi di kawasan tersebut.
Sanny Parengkuan

“Kita rencanakan Oktober 2012, akan melaksanakan workshop di Jakarta guna pembahasan lebih mendalam tentang kelembagaan, infrastruktur dan kebijakan operasional lainnya,” kata Ketua Kelompok Kerja(Pokja) KEK Bitung, Sanny Parengkuan.

Dikatakannya,  ada beberapa negara yang sudah masuk dalam daftar undangan, diantaranya dari negara Asia yakni Korea, Jepang dan China. “Korea, Jepang dan China merupakan tiga negara yang punya minat besar berinvestasi di KEK Bitung, karena itu kita undang guna membahas berbagai hal tentang kawasan ekonomi ini,” ujarnya.

Pemerintah Sulut,  lanjut dia,  sudah merancang berbagai pembangunan infrastruktur sebagai bentuk dukungan sepenuhnya agar KEK Bitung tersebut segera terwujud. Beberapa pembangunan sarana telah disiapkan pemerintah daerah, yakni areal pembangunan KEK lebih 500 Hektare, pembangunan jalan Tol Manado-Bitung, pembangunan bendungan Sawangan guna menyuplai ketersediaan air di kawasan tersebut, serta program pembangunan lainnya.

“Agenda pembangunan infrastruktur akan dipaparkan secara lugas kepada investor, dengan demikian mereka diharapkan bukan hanya tertarik saja, tetapi merealisasikan investasi di KEK,”  paparnya.
Penetapan oleh pemerintah,  manurut dia, memang masih ditunggu, tetapi Pemprop  Sulut sangat serius mempersiapkan berbagai hal terkait KEK Bitung.  [yg/mtr]

Kemarau, Stok Pangan di Sulut Berpeluang Menipis



MANADO BISNIS  – Musim kemarau yang melanda beberapa daerah di Indonesia, termasuk Sulut berpeluang menipisnya stok pangan yang ada, seperti beras. Mengantisipasi hal ini, institusi terkait yakni   Perum Bulog Divisi Regional(Divre) Sulut  memperkuat stok agar  mampu bertahan hingga Maret 2013. Hal ini sebagai antisipasi dampak kemarau terhadap ketersediaan pangan.

"Kita akan memperkuat stok beras di gudang minimal mampu penuhi kebutuhan hingga Maret 2013 atau tambahannya sekitar 5.000 ton dari stok yang ada sekarang sekitar 8.700 ton," kata Kepala Perum Bulog Divre Sulut, Muhammad Hasyim.

Dikatakannya,  tambahan stok tersebut diadakan di semua gudang Bulog termasuk Sulut, tujuannya sebagai stok antisipasi musim kemarau. "Dikhawatirkan musim kemarau bila berlangsung lama, akan berpengaruh pada stok pangan menipis, karena itu jauh hari sebelumnya Bulog melakukan langkah antisipatif," ungkapnya.

Tambahan stok beras tersebut sudah diusulkan ke Perum Bulog pusat, dan saat ini tinggal menunggu pengiriman. "Musim kemarau diperkirakan akan berlangsung beberapa bulan, dan ini terjadi termasuk di daerah sentra beras, bila prediksi ini jadi kenyataan, maka produksi beras akan menyusut, karena itu sebelum itu terjadi Bulog sudah mempersiapkan stok beras cukup banyak," jelas Hasyim.

Ketersediaan beras cukup banyak di gudang Bulog tersebut, menurut dia,  selain untuk menjaga ketahanan pangan bagi masyarakat, juga secara langsung akan menjadi salah satu alat untuk stabilisasi harga beras. "Bila produksi beras berkurang, maka dampaknya harga bahan kebutuhan pokok tersebut bisa terdongkrak naik, namun bila stok Bulog tersedia cukup banyak maka gerakan kenaikan harga dapat tertekan," papar Hasyim. [yg/mtr]

Investasi PMA Sulut Dioptimalkan



MANADO BISNIS  - Penanaman Modal Asing (PMA) di Sulut akan dioptimalkan agar memperoleh investasi yang tinggi.

Hal ini dikatakan Kepala  Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Sulut  Tonny Korah. “BKPM merencanakan, peroleh nilai investasi pada  PMA  sebesar 181,3 USD tahun 2012 ini. Nilai investasi sebesar ini menyebar pada lima paket proyek,"  ujarnya.

Dia mengatakan, rencana investasi PMA pada tahun ini belum terealisasi karena beberapa faktor, antara lain izin prinsip investor diberikan waktu selama lima tahun, sehingga realisasi nilai investasi belum terlihat. "Akan lebih baik apabila sudah ada realisasinya. Meskipun setiap investor sebagaimana perjanjian atau ijin prinsip diberikan kesempatan selama lima tahun," ungkapnya.

BKPM Sulut  mencatat, di tahun 2010, investasi PMA direncanakan 69,2 juta USD pada tujuh proyek, namun yang terealisasi hanya 19,4 juta USD sebanyak dua proyek. Sementara pada investasi PMDN di tahun yang sama, direncanakan bernilai investasi sebesar Rp90,7 miliar pada dua proyek, terealisasi seratus persen. Di tahun 2011, rencana investasi PMA senilai 654 juta USD pada yang tersebar pada 27 proyek, belum terealisasi. Sedangkan investasi PMDN yang direncanakan bernilai Rp1,8 triliun pada 14 proyek, terealisasi Rp466,1 miliar yang tersebar pada tujuh proyek.

"Investasi-investasi yang ditanamkan sesuai dengan izin prinsip bergerak pada bidang perikanan, pertanian, perkebunan, jasa dan pedagangan serta pariwisata. Namun sekali nilai investasi yang direncanakan belum semua direalisasikan,"  paparnya. [yg/mtr]

Kamis, September 13, 2012

Naikkan Tarif, Sopir Angkot Manado Diwarning



MANADO BISNIS  – Belakangan ini kerap terjadi sopir angkutan kota (angkot) jenis mikrolet dalam Kota Manado, menaikkan tarif secara sepihak. Terlebih untuk trayek Pusat Kota – Malalayang. Para penumpang pun mengeluh persoalan tersebut.
Mikrolet Angkutan Kota di Manado

“Kami minta instansi terkait menindak tegas ulah sopir yang menaikkan tarif sepihak. Masa untuk jurusan Pusat  Kota-Malalayang dorang ja minta sampe Rp 5.000/orang. Ini kan jelas sudah melanggar aturan. Sebab tarif yang ditetapkan Rp 2.000,” keluh Adri, seorang PNS di Pemkot Manado.

Terkait hal ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Manado berjani akan  menindak sopir-sopir angkutan kota  yang menaikkan tarif  tersebut."Kami sudah menegaskan hal tersebut, dan melarang siapapun oknum sopir angkot, terutama trayek Malalayang menaikkan tarif sendiri," kata Kepala Dishub Manado, Yohanis Waworuntu.

Dia mengatakan, tindakan yang diambil oleh Dishub adalah dengan membekukan izin trayek angkot tersebut, karena merugikan penumpang. "Jika terus dilakukan, maka kami akan mencabut izinnya sehingga tak lagi bisa mengangkut penumpang secara permanen, karena melanggar aturan yang ditetapkan pemerintah," kata Waworuntu.

Selain membekukan dan mencabut izin trayek, Dishub Manado juga akan berkoordinasi dengan direktorat lantas Polda Sulawesi Utara dan Samsat sebagai pemberitahuan. Waworuntu menyebutkan, tidak boleh ada sopir yang seenaknya menaikan tarif angkutan kota, karena saat ditetapkan, pemerintah sudah melakukan hitung-hitungan dan artinya keuntungan dan kerugian juga dimasukan, jadi tak ada alasan bagi oknum sopir melakukan hal tersebut. "Supaya jelas dan masyarakat tahu dengan pasti, untuk tarif angkutan dalam kota di Manado, Rp2.000, kecuali untuk sejumlah lokasi yang jauh," paparnya.

Lokasi jauh yang dimaksudkan Waworuntu adalah lapangan, politeknik, Molas, Tongkaina, Meras, Pandu, Buha dan Bengkol yang ditetapkan sendiri, karena memang jaraknya yang jauh.

Sebagaimana diketahui,  ada oknum-oknum sopir trayek Malalayang Pusat Kota Manado, yang tak mau mengangkut penumpang Malalayang sampai ke terminal, dengan alasan terlalu jauh, dan hanya sampai ke depan Mantos. Jika sampai ke Malalayang terutama terminal, oknum sopir nakal tersebut akan menaikkan tarif sepihak sampai Rp5.000, dengan alasan jauh. [yg/mtr]

15 Ton Pala Sulut Diekspor ke Italia



MANADO BISNIS  – Pekan pertama September 2012 ini, Sulut  kembali mengekspor  pala ke Italia dalam bentuk ‘dried nutmeg’ sebanyak 15 ton menghasilkan devisa sebanyak US$52.500.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Sulut, Hanny Wajong mengatakan  terus berlanjutnya ekspor pala ke Italia karena permintaan masyarakat di negara itu yang terus meningkat. “Komoditas pala menjadi salah satu produk bumbu yang semakin disukai pasar Italia, tak heran bila permintaannya terus meningkat,”  ujar Wajong.

Pasar Italia, lanjut dia,  merupakan salah satu pasar paling potensial satu tahun belakangan ini. "Permintaan Italia yang sangat tinggi, menjadikan negara tersebut mendominasi sebagai pembelian komoditas pala Sulut saat ini," ungkapnya.

Dari sekian negara pembeli pala Sulut, menurut Wajong,  Italia termasuk yang paling kontinu. Permintaan yang tinggi di negara tersebut berdampak positif pada harga pala yang terus berada pada kisaran yang cukup tinggi. "Harga ekspor pala ke Italia berkisar 22,5 dolar per kilogram(Kg) mampu mempertahankan harga yang menguntungkan di tingkat petani.

Pala, diutarakan Wajong, saat ini diolah menjadi berbagai produk bumbu makanan. Sulut selama ini dikenal sebagai produsen pala terbesar di Indonesia bahkan dunia, dengan perkiraan produksi berkisar 5 ribu ton per tahun, dalam bentuk pala biji. Daerah sentra tanaman pala di Sulut terdapat di Kabupaten Minahasa Tenggara, Minahasa dan Kabupaten Siau, Tagulandang dan Biaro(Sitaro), Sangihe dan Talaud. “Tanaman pala menjadi salah satu andalan masyarakat Sulut selain cenkih dan pala, yang terbukti mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ungkapnya. [yg/mtr]

Jamsostek Sulut Bantu Perusahaan Jasa Konstruksi



MANADO BISNIS  – Perusahaan jasa konstruksi di Kota Manado mendapat bantuan berupa  peralatan Kelengkapan Keselamatan Kerja(K3)
Kepala Jamsostek Sulut Arief Budiarto

Penyerahan  peralatan yang diperuntukkan untuk perlindungan diri tenaga kerja konstruksi tersebut diserahkan Kepala Jamsostek Sulut, Arief Budiarto dan diterima Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Kota Manado, Edmy Kairupan di kantor Jamsostek Sulut.

 Kepala Jamsostek Cabang Sulut, Arief  Budiarto mengatakan, peralatan K3 diserahkan kepada 10 kontraktor yang sedang mengerjakan proyek pemerintah di Kota Manado. “Peralatan K3 yang diserahkan terdiri atas 1.800 paket, yang diperuntukkan bagi 278 proyek yang sedang dikerjakan di Kota Manado saat ini,” ujarnya.

Bantuan peralatan alat pelindung diri tersebut, diutarakan Budiarto,  terdiri helm pengamanan, sarung tangan, sepatu boot dan lainnya,  diberikan kepada perusahaan jasa kontruksi yang sedang melakukan pembangunan proyek baik APBD maupun APBN di Manado.

Sementara itu,  Sekretaris  Dinas PU Kota Manado, Edmy Kairupan menyambut positif  bantuan peralatan K3 yang diberikan Jamsostek, karena hal ini akan sangat membantu meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja. "Pengerjaan proyek harus diupayakan zero accident, karena itu kelengkapan peralatan K3 sangat penting harus ada dalam setiap pembangunan proyek pemerintah," ungkapnya.

Akan halnya  Gapensi berharap bantuan Jamsostek bukan hanya dilaksanakan tahun ini, tetapi terus dilanjutkan di tahun mendatang, dengan demikian selain pembangunan yang ada dapat berlangsung dengan baik sebagaimana rencana, juga tingkat kecelakaan dapat diminimalisir. [yg/mtr]

Konsumsi BBM Subsidi akan Dibatasi di Manado



MANADO BISNIS  – Sebentar lagi,  Pemerintah Kota (Pemkot) Manado akan mengeluarkan larangan resmi pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi kendaraan-kendaraan industri dan plat merah.
"Kami tinggal menunggu surat dari Pertamina Manado, kemudian mengeluarkan edaran secara resmi ke seluruh Satuan Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Manado," kata Kepala Bagian Perekonomian Pemkot Manado Pingkan Sinjal.

Dikatakannya,   ini merupakan bagian dari gerakan penghematan BBM yang dicanangkan oleh Presiden RI sehingga harus dipatuhi oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama para pejabat.

Sebenarnya menurut Sinjal, faktanya di sejumlah SPBU sudah tak lagi melayani plat merah, kecuali truk dan itulah yang akan ditegaskan pemerintah melalui edaran nanti. Sinjal menjelaskan larangan tersebut dikeluarkan, karena truk-truk usaha seperti pengangkut tanah galian serta dumb-dumb truk di Manado, itu masuk kategori swasta dan wajib menggunakan BBM non subsidi. "Sedangkan untuk plat merah dilarang menggunakan BBM bersubsidi, sebab itu kan hanya diperuntukan bagi kalangan ekonomi lemah, dan kami pun berharap mobil-mobil plat hitam mematuhi hal ini," ungkapnya.

Ia menambahkan, yang dibolehkan membeli BBM bersubsidi hanyalah para nelayan, itupun dengan membawa surat keterangan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut, sebagai bukti, juga untuk mobil-mobil pengangkut sampah.

Sinjal mengatakan, khusus untuk mobil pengangkut sampai Dinas Kebersihan dan Pertamanan Manado sudah menyurati bagian perekonomian yang akan diteruskan ke Pertamina, karena tugasnya adalah untuk mengangkut sampah di kota yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. "Hal ini sedang kami sosialisasikan sehingga bisa dipahami oleh pengusaha, dan tentu saja kami menyertakan alasan tindakan tersebut, jadi tak akan berdampak negatif nantinya," kata Sinjal. [yg/mtr]

Selasa, September 11, 2012

Tepung Kelapa Sulut Jelajahi Empat Negara Eropa



MANADO BISNIS  – Produk turunan kelapa Sulut, yakni tepung kelapa,  kembali bergairah pemasarannya dengan  berhasil  mengekspor ke empat negara besar di benua Eropa pada awal September 2012 ini. Empat negara tersebut  Austria, Ukraina, Belanda dan Rusia.
Perkebunan kelapa di Sulut

“Hasil ekspor ini mendatangkan devisa bagi Sulut mencapai 174.469 dolar Amerika Serikat (AS), dengan volume sebanyak 143 ton,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Sanny Parengkuan.

Dari keempat negara pembeli tersebut, kata dia,  ke Rusia dan Belanda masing-masing sebanyak 52 ton, sementara Ukraina 26 ton dan Austria sebanyak 13 ton.

 “Ekspor ke Rusia mendatangkan devisa sebanyak 66.569 dolar Amerika Serikat, sementara ke Belanda 52 ton mampu mendatangkan devisa sebesar 62.400 dolar AS,” tandasnya.

Sementara ke Ukraina, lanjut Parengkuan,  sebanyak 26 ton mampu mendatangkan devisa sebanyak 28.600 dolar AS, Austria 13 ton dengan devisa sebesar 16.900 dolar. Realisasi keempat keempat negara Eropa tersebut pertanda dampak krisis keuangan yang melanda negara maju di kawasan itu tidak begitu berdampak pada Sulut. "Semula ada kekhawatiran krisis keuangan yang melanda negara di kawasan dunia termasuk Eropa akan memberi dampak penurunan ekspor," akunya.

Tetapi, ditambahkan Parengkuan,  ternyata komoditas unggulan Sulut yang sebagian besar merupakan produk pangan tetap dibutuhkan pasar di Eropa karena permintaannya tetap tinggi. [yg/mtr]

Jasa Raharja Bayar Klaim Capai Rp 12,7 Miliar



MANADO BISNIS  -  Periode Januari hingga Agustus 2012 lalu, PT Jasa Raharja Sulut sudah membayar klaim mencapai Rp 12,7 miliar, dengan korban sebanyak 992 orang.

Demikian diakui Humas PT Jasa Raharja Sulut Himawan Pambudi. “Perbandingannya dengan 2011 lalu sampai bulan Desember, memperlihatkan penurunan. Karena di tahun 2011 pembayaran klaim mencapai Rp 14,584 miliar dengan korban sebanyak 1221 orang,” tandasnya.

Terbanyak dari realisasi pembayaran klaim untuk 2012, masih didominasi meninggal dunia yang mencapai Rp 8,9 miliar, dengan korban sebanyak 298 orang. Sedangkan luka berat terbanyak kedua capai Rp 2,7 miliar dengan korban 543 orang. “Akan halnya luka ringan sebanyak Rp 178 juta dengan korban 143 orang dan cacat tetap capai Rp 841 juta, dengan korban dua orang,” ujar Pambudi.

Lebih lanjut dijelaskannya,  khusus pembayaran klaim hanya bulan Agustus 2012 lalu mencapai Rp 2,1 miliar dengan korban sebanyak 137 orang. “Sama dengan halnya data Januari hingga Agustus, terbanyak klaim adalah meninggal dunia capai Rp 1,7 miliar dengan korban  44 orang,” ungkapnya.

Posisi selanjutnya, menurut  Humas PT Jasa Raharja  ini,  adalah klaim luka berat capai Rp 361 juta dengan korban 64 orang. Sedangkan cacat tetap capai Rp 77,5 juta. “Luka ringan posisi selanjutnya yang mencapai Rp 21 juta dengan korban sebanyak 28 orang,” jelas Pambudi.

Ada juga biaya penguburan, menurut dia, hanya Rp 2 juta dengan korban satu orang.  “Biasanya biaya penguburan ini, karena ahli waris tidak ada, sehingga pihak Jasa Raharja hanya membayar klaim dalam bentuk biaya penguburan,” pungkas Pambudi. [yg/mtr]

Harga Cengkih di Sulut Terus Merangkak Naik



MANADO BISNIS – Harga cengkih di Sulut yang  tahun lalu sempat mencapai Rp200.000/kg, tampaknya akan terjadi di tahun 2012 ini. Ini menyusul komoditas perkebunan andalan Sulut ini terus bergerak naik, yang  harga Senin (10/09) kemarin sudah di level Rp 100.000/kg.

"Harga tertinggi  di pasaran Manado saat ini naik menjadi Rp 100  ribu/kg, dibandingkan pekan lalu yang hanya bertahan di level Rp 98 ribu/kg," kata petugas pemantau harga komoditas unggulan Disperindag Sulut, Saul Pijoh.

Saul mengatakan, kenaikan harga sekitar  8  persen ini merupakan pergerakkan harga tertinggi dalam dua bulan terakhir. “Hari ini (kemarin) memang harga cengkih sangat baik,” tandasnya.

Sementara menurut pedagang pengumpul di seputaran Pasar Pinasungkulan Manado, Gustaf  Karinda, harga cengkih yang saat  ini Rp 100 ribu/kg, kemungkinan besar akan bergerak naik terus. “Ini dikarenakan banyak  pabrikan turun langsung ke petani untuk membeli cengkih,” akunya pada sejumlah wartawan.
Di pihak lain, pergerakkan positif harga cengkih ini, sangat menggembirakan bagi petani yang saat ini tetap bertahan menyimpan stok hasil panen tahun ini.

Para petani optimisitis harga cengkih bakal terus menguat ke tingkat lebih tinggi karena melihat tren harga yang relatif stabil di saat panen pertengahan tahun ini.

"Pengalaman tahun sebelumnya, harga cengkih akan turun ke tingkat terendah saat panen berlangsung, tetapi kondisi tidak terjadi tahun ini harga komoditas unggulan tersebut tetap stabil," kata Stenly Paat, petani Minahasa.

Cengkih pernah mencapai harga tertinggi di kisaran Rp200 ribu per Kg beberapa tahun silam. Kenaikan harga tertinggi tersebut terjadi karena permintaan pengguna cengkih yang tidak besar, tidak sebanding dengan stok tersedia, akibat produksi petani kurang. [yg/mtr]

Pengawasan SNI Wajib, Dioptimalkan Sulut



MANADO BISNIS- Sertifikasi Nasional Indonesia (SNI) pada semua produk yang beredar di Sulut dioptimalkan pengawasannya oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat.
Hal ini dikatakan Kepala Disperindag Sulut Sanny Parengkuan,  "Ada 87 SNI wajib dan dalam pengawasan yang dilakukan, ternyata sudah ditaati pelaku usaha," ujarnya.
Kadis Indag Sulut Sanny Parengkuan (foto : MANADO BISNIS)

Para pelaku usaha di daerah ini, menurut Parengkuan, makin menyadari bahwa SNI merupakan hal penting dalam perdagangan barang dan jasa terutama memberi jaminan perlindungan konsumen.

Ditambahkan   Kepala Seksi Perlindungan Konsumen Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Sulut Arnold Kindangen, sesuai aturan perundangan yang berlaku yang namanya SNI wajib berarti wajib hukumnya. "Artinya pelaku usaha hanya boleh menjual produk yang sudah kantongi SNI wajib tersebut, di luar itu berarti melakukan pelanggaran yang ada sanski hukumnya," kata Arnold.

Karena itu pelaku usaha agar mentaati aturan yang berlaku tentang ketentuan SNI wajib. Dengan mentaati ketentuan SNI wajib tersebut,  menurut Arnold, maka pelaku usaha sudah turut serta memberi kepastian perlindungan bagi konsumen terhadap produk yang layak digunakan dan dikonsumsi masyarakat. “Disperindag Sulut, sendiri secara kontinu akan terus melakukan pengawasan barang yang beredar di pasaran terutama ketaatan penggunaan produk yang sudah ber-SNI,” paparnya. [yg/mtr]


UMKM Manado Serap Tenaga Kerja Terbanyak



MANADO BISNIS  - Unit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Manado Manado tertingi menyerap tenaga kerja dibanding dengan 14 kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Utara.
Rumah panggung, produk UMKM Sulut

"Unit UMKM di Kota Manado menyerap sebanyak 42.701 tenaga kerja. Untuk unit usaha mikro sebanyak 20.194 tenaga kerja, kecil sebanyak 16.276 tenaga kerja dan menengah sebanyak 6.231 tenaga kerja," kata Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (setda) Propinsi Sulawesi Utara, Adry Manengkey.

Dia mengatakan, tiga daerah lainnya yang juga menunjukkan tren positif dalam penyerapan tenaga kerja yaitu, Kota Bitung, Tomohon serta Kabupaten Minahasa Utara. Di Kota Bitung Manengkey menjelaskan, tumbuh sebanyak 13.059 unit UMKM, dan berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 31.173 tenaga kerja di mana pada unit usaha mikro sebanyak 15.708 orang, unit usaha kecil sebanyak 10.105 tenaga kerja dan unit usaha menengah sebanyak 5.360 tenaga kerja.

Sementara di Kota Tomohon, tumbuh sebanyak 11.682 unit UMKM dan menyerap 30.313 tenaga kerja, dimana pada unit usaha mikro sebanyak 17.784 tenaga kerja, unit usaha kecil sebanyak 11.871 tenaga kerja dan unit usaha menengah sebanyak 658 tenaga kerja.

Sedangkan di Kabupaten Minahasa Utara, dari 5.959 unit UMKM, berhasil menyerap 16.905 tenaga kerja, dimana unit usaha mikro menyerap sebanyak 14.260 tenaga kerja, unit usaha kecil sebanyak 790 tenaga kerja, dan unit usaha menengah sebanyak 1.755 tenaga kerja. "Kami berharap semakin bertumbuhnya unit UMKM, akan semakin banyak menyerap angkatan kerja di Sulawesi Utara,"  paparnya. [yg/mtr]

KEK Dibangun, Sektor Pertanian Sulut akan Berkembang Pesat



MANADO BISNIS – Sektor pertanian yang didalamnya sudah termasuk perikanan dan perkebunan akan berkembang  pesat di Sulut, jika Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung,  benar-benar terwulud di Sulut.
Pelabuhan Bitung, sarana penunjang KEK

Setidaknya hal ini diakui Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulut, Dr Noldy Tuerah pada sejumlah wartawan belum lama ini.  “Bila KEK dibangun, Bappeda Sulut  memperkirakan investasi awal di KEK Bitung, akan mencapai Rp1,75 triliun. Perkiraan investasi sebesar Rp1,75 triliun tersebut berdasarkan potensi yang ada di kawasan tersebut,"  ujarnya.

Dikatakan Tuerah, KEK Bitung sangat potensial untuk mendukung program koridor 4 MP3EI (Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang meliputi pengembangan sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.

"Pertanian, perkebunan dan perikanan merupakan tiga sektor yang banyak dikembangkan di Sulut dan sekitarnya, karena itu bila KEK Bitung diputuskan pemerintah, akan mempercepat pengembangan pengembangan koridor 4 MP3EI," ungkapnya.

Pemerintah Propinsi Sulut, lanjut Tuerah,  sudah mempersiapkan dengan matang berbagai sarana dan prasarana pendukung keberhasilan KEK Bitung, diantaranya areal kawasan 534 Hektare, pembangunan jalan Tol Manado Bitung, pembangunan waduk Kuwil Airmadidi guna menopang ketersediaan air bersih di kawasan industri tersebut. "Masih ada sejumlah sarana dan prasarana lainnya yang siap dibangun dan tinggal menunggu penetapan pemerintah untuk pengembangan KEK Bitung," tandasnya.

Masyarakat Sulut sendiri,  menurut Tuerah,  sangat berharap KEK dapat ditetapkan di daerah ini, bukan hanya potensi pengembangan yang cukup tersedia, tetapi karena geoposisi Bitung yang berada di bibir Pasifik. "Letak goegrafis KEK Bitung berada di tepi alur Samudra Pasifik dan diapit dua alur kepulauan Indonesia, menjadi salah satu faktor plus, Bitung ditetapkan sebagai KEK," paparnya.

KEK Bitung,  ditambahkan Kepala Bappeda Sulut ini, optimisitis menjadi penggerek pengembangan ekonomi di kawasan timur Indonesia, karena itu pihaknya terus berjuang agar KEK Bitung segera ditetapkan pemerintah. [yg/mtr]

Turunan Kelapa dan Perikanan, Dorong Ekspor Sulut ke AS


MANADO BISNIS – Realisasi ekspor Sulut ke Amerika Serikat (AS)  mengalami peningkatan 20,5 persen pada Januari-Juli 2012, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Komoditas yang diekspor pun kebanyakan produk turunan kelapa dan perikanan.

Demikian dikatakan  Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Dantes Simbolon."Periode Januari-Juli 2012, ekspor Propinsi Sulut ke AS mencapai 111,1 juta dolar AS, sementara tahun lalu hanya 92,2 juta dolar AS, jadi terjadi pertumbuhan 20,5 persen," ujarnya.

Simbolon mengatakan, peningkatan ekspor ke negeri Paman Sam tersebut terjadi menyusul realisasi ekspor pada Juli 2012 yang mencapai 16,3 juta dolar AS. "Dengan tambahan nilai ekspor sebesar 16,3 juta dolar AS, maka ekspor Sulut ke Amerika Serikat langsung terjadi lonjakan," tandasnya.

Komoditas ekspor ke negara Adidaya tersebut, lanjut dia,  terdiri produk perkebunan seperti produk turunan kelapa dan perikanan. Dengan capaian nilai ekspor 111,1 juta dolar AS, maka Amerika Serikat sampai dengan Juli 2012 ini tercatat sebagai tiga besar penghasil devisa bagi Sulut. "Diurutan pertama masih dikuasai Belanda sebesar 215,1 juta dolar AS, disusul Cina dengan 130,2 juta dolar AS dan AS dengan 111,1 juta dolar AS berada di posisi tiga," ungkap Simbolon.

Sementara itu, menurut  Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Sulut, Hanny Wajong, AS merupakan salah satu negara yang selalu mendominasi sebagai penghasil devisa bagi Sulut selama ini. "AS saling berganti dengan Belanda dan China menjadi penghasil devisa bagi Sulut, dan ini sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini," akunya.

Komoditas Sulut, menurut Wajong,  banyak yang dibutuhkan masyarakat AS, tak heran meski dalam kondisi ekonomi sekalipun ekspor ke negara tersebut tetap tinggi dan mencapai pertumbuhan yang cukup tinggi. “Dengan capaian nilai ekspor sebesar 111,1 juta dolar AS, maka Amerika  Serikat mampu mencapai pangsa ekspor Sulut sebesar 16,83 persen hingga Juli 2012,” paparnya. [yg/mtr]


Pabrik Semen Layak Dibangun di Sulut



MANADO BISNIS  – Propinsi Sulut memiliki bahan baku pembuatan semen berupa batu gamping dan pasir kwarsa, yang sangat banyak dan tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Itulah sebabnya sangat layak untuk dibangun pabrik semen.

"Potensi yang kita miliki lumayan banyak dengan volume yang diperkirakan mencapai jutaan meter kubik. Dan ini cukup prospektif untuk dibangun pabrik semen di daerah ini," kata Kepala Bidang Geologi, Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Provinsi Sulut  Katrin Walukow.

Dia menjelaskan,  untuk potensi pasir kwarsa yang berada di Kota Bitung, cadangan terukur diperkirakan mencapai 280 meter kubik, sedangkan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan sebanyak 100 ton. Sementara itu, potensi terbesar berada di Kabupaten Bolaang Mongondow dan Bolaang Mongondow Utara di mana masing-masing memiliki cadangan terukur sebesar 1.065.366.750 meter kubik dan 3.000.000 meter kubik.

Di sisi lain, untuk potensi batu gamping menyebar di Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Kepulauan Talaud, Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondouw Selatan, Bolaang Mongondow Utara dan Minahasa Selatan.

Di Kabupaten Minahasa Tenggara, cadangan terukur batu gamping diperkirakan mencapai 17.595.000.000 meter kubik, Bolaang Mongondow di dua lokasi yaitu Totabuan dan Passi masing-masing memiliki cadangan terukur sebanyak 53.800.625 meter kubik, dan 1.375.282.437 meter kubik.

Di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, cadangan terukur diperkirakan mencapai 17 juta meter kubik, Bolaang Mongondow Utara sebanyak 83.563.500 meter kubik, sementara di Kabupaten Minahasa Selatan potensi batu gamping berada pada luasan 50 hektare."Di Kecamatan Rainis Kabupaten Kepulauan Talaud juga terindikasi memiliki potensi batu gamping," ungkapnya.

Dia mengatakan, potensi besar pasir kwarsa dan batu gamping butuh sentuhan investor untuk mengembangkannya, sehingga bisa memenuhi kebutuhan semen lokal Sulawesi Utara dan daerah lainnya.[yg/mtr]

Isi Ulang Elpiji 3 Kg Dikeluhkan Warga Manado



MANADO BISNIS  -  Isi ulang LPG 3 kilogram (Kg) di Kota Manado kerap dikeluhkan oleh warga setempat, karena setelah ditimbang tidak sesuai  dengan ukuran sebenarnya.

"Setiap kali membeli isi ulang gas elpiji tiga kg, isinya selalu kurang tidak sampai tiga kg," kata Hesty, warga Pinaesaan di Manado.

Ia mengaku sering kesal karena tidak tepatnya isi ulang tersebut, membuat ia mengalami kerugian, apalagi pemakaiannya agak sering. "Saya harap pemerintah memperhatikan hal tersebut, karena sangat merugikan kami para konsumen jadi harus ditindak tegas," keluhnya.

Kepala Bagian Perekonomian Pemerintah Kota (Pemkot) Manado, Pingkan Sinjal mengatakan pemerintah tetap mengawasi isi ulang gas elpiji, karena itu warga jangan khawatir. "Kami akan mengambil tindakan jika ada warga yang melapor, sebab sudah menjdi kewajiban pemerintah melindungi kepentingan masyarakat," janjinya.

Karena itu Sinjal meminta warga Manado agar tidak segan-segan melaporkan kepada pemerintah, jika menemukan ada isi yang tak tepat, supaya bisa ditindak dengan tegas. Sayangnya, menurut Sinjal, belum ada warga yang melaporkan kepada pemerintah mengenai hal tersebut, sehingga susah untuk ditindak, namun ia memastikan akan segera mengambil tindakan tegas terkait hal itu.

Diketahui, Harga Eceran Tertinggi (HRT) isi ulang gas LPG tiga kg di Manado ditetapkan sebesar Rp15 ribu di seluruh pangkalan tetapi ada juga yang menjualnya dengan harga Rp16 ribu. [yg/mtr]

Warga di Pelabuhan Manado Panik, KM Valerinne Terbakar



MANADO BISNIS - Kebakaran hebat menimpa KM Valerinne  sekitar pukul 15.00 Wita, Selasa (11/09), di Palabuhan Manado.
KM Valerinne saat terbakar

Petugas pemadam kebakaran yang menurunkan beberapa mobil Damkar Pemkot Manado tidak bisa mengatasi lidah-lidah api yang begitu cepat menjilat badan kapal naas tujuan Kota Manado- Kabupaten Sitaro tersebut.

Untungnya saat terbakar KM Valerinne yang sedang melakukan angkut barang untuk persiapan keberangkatan Kepulauan Sitaro tersebut, saat terbakar tidak bersebelahan dengan kapal lainnya yang ada di Pelabuhan Manado.

"Sebenarnya waktu api yang mulai membesar bisa langsung diatasi kalau pelabuhan Manado juga memiliki petugas pemadam kebakaran sendiri. Karena kalau menunggu pemadam kebakaran dari Pemkot Manado, pasti api tidak bisa diatasi lagi. Belum mobil Damkar harus melewati kemacetan di pusat kota," tukas Herman Pariya, warga sekitar pelabuhan Manado yang turut menyaksikan detik-detik terbakarnya KM naas tersebut.

Sementara Rikson T, calon penumpang KM Valerinne mengungkapkan sebelum terbakar, rencananya kapal akan menuju ke Sitaro pada malam hari."Kami sudah bersiap untuk ke Sitaro, dan untungnya barang kami belum dimuat keatas kapal," ujarnya.

Pihak kepolisian sendiri  masih menyelidiki penyebab kebakaran yang tidak menelan korban jiwa itu, tetapi hanya menghanguskan kapal dan seisinya itu. [yg/cs]

Minggu, September 09, 2012

PNS Sulut Harus Juga Bidik Kredit Produktif



MANADO BISNIS  – Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sulut harus juga mengoptimalkan kredit produktif, bukan hanya kredit konsumtif yang diinginkan.

Himbauan ini dikatakan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut Suhaedi.
"Selama ini PNS lebih identik dengan kredit konsumtif  jika berurusan dengan bank, kita berharap mereka merubah mindsetnya dengan memanfaatkan kredit produktif,"  ujarnya.

Dikatakan Suhaedi,  pemerintah daerah juga diminta untuk turut meningkatkan sosialisasi kepada PNS, untuk lebih memilih kredit produktif ketimbang konsumtif. Kredit produktif,  diadakan untuk tujuan mendorong ekonomi masyarakat karena itu diharapkan berbagai pihak mendorong kredit jenis ini.
“Dengan lebih banyak mengoptimalkan kredit produktif, maka dengan sendirinya akan mendorong kegiatan ekonomi riil di masyarakat terus bertumbuh dan berkembang,” tandasnya.

Semakin banyak kegiatan produktif dibiayai, lanjut Suhaedi,  maka diharapkan nantinya akan menambah penghasilan masyarakat, yang pada gilirannya memperkecil tingkat kemiskinan di masyarakat. "Pemerintah saat ini berupaya menurunkan angka kemiskinan, karena itu berbagai program diluncurkan diantaranya optimalisasi kredit usaha rakyat (KUR),"  ungkapnya.

Guna mendorong ekspansi kredit produktif lebih besar, kata Suhaedi, maka pihaknya terus meminta perbankan yang beroperasi di daerah ini, untuk lebih memfokuskan pertumbuhan pembiayaan produktif ketimbang konsumtif. "Kredit produktif terus didorong tumbuh lebih tinggi ketimbang konsumtif setiap tahunnya,"  paparnya. [yg/mtr]

Perdagangan Sulut-China Surplus US$ 108,9 Juta



MANADO BISNIS  – Pada Januari hingga Juli 2012 lalu, ternyata  neraca perdagangan Sulut  dengan China tercatat surplus sebesar 108,9 juta dolar AS.
Barang elektronik China, banyak terdapat di Sulut

"Terciptanya surplus perdagangan bagi Sulut tersebut menyusul realisasi ekspor yang jauh lebih tinggi ketimbang impor," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Dantes Simbolon.

Dikatakannya, realisasi ekspor Sulut ke China pada tujuh bulan 2012 tercatat sebesar 130,2 juta dolar AS. "Sementara nilai impor hanya 21,3 juta dolar AS, dengan demikian terjadi surplus perdagangan 108,9 juta dolar AS," ujarnya.

Surplus perdagangan sebesar 108,9 juta dolar AS pada periode Januari-Juli 2012 tersebut mengalami peningkatan 62,78 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Neraca perdagangan Sulut dengan China pada 2011 sebesar 66,9 juta dolar AS "Tahun lalu, realisasi ekspor 74 juta dolar AS, sementara impor hanya 7,1 juta dolar AS, sehingga surplus perdagangannya 66,9 juta dolar AS," ungkap Simbolon.

Sementara itu menurut Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulut Hanny Wajong,   untuk pemasokan bahan kebutuhan bagi masyarakat Sulut, China termasuk negara yang paling besar jadi pengimpor terbesar.  “Diperkirakan, neraca perdagangan dengan akan tetap surplus bagi Sulut hingga beberapa tahun ke depan, menyusul banyaknya komoditas unggulan daerah ini yang dibutuhkan pembeli China,” paparnya. [yg/mtr]

Musim Kemarau Ganggu Produksi Padi di Sulut



MANADO BISNIS  – Musim kemarau yang dirasakan masyarakat Sulut beberapa pekan belakangan ini, telah mengganggu produktifitas padi diakibatkan  persawahan mulai kekurangan air.

Hal ini seperti yang terjadi  di Kabupaten Minahasa, sebagian petani  menunda menanam padi akibat tanah mengeras dan sulit ditanami, dampak musim kemarau dengan cuaca panas berlangsung beberapa pekan terakhir ini. "Cuaca terasa sangat panas, akibatnya tanah menjadi kering, dan sulit melakukan penanaman padi, karena itu menunda menanam padi menunggu curah hujan cukup," kata J Maindoka, petani padi di areal persawahan padi Kecamatan Langowan dan Kakas.

Dikatakannya,   dalam satu pekan ini memang sudah pernah turun hujan, namun intensitasnya belum mampu membantu lahan pertanian petani menjadi gembur dan mudah ditanami padi. "Bagi petani Minahasa bulan Juli-Agustus sebenarnya sudah masuk musim menanam, tetapi karena kondisi tanah tidak memungkinkan sehingga masih belum menyebar benih ke areal pertanaman padi," tandasnya.

Diketahui,  kawasan Kakas dan Langowan di Kabupaten Minahasa, merupakan dua daerah dengan areal persawahan terhampar cukup luas dimana sebagian besar lahan pertanian ditanami tanaman pangan seperti padi dan jagung. Karena potensi kawasan tersebut, maka kawasan itu menjadi salah satu penopang produksi beras Kabupaten Minahasa.

Kabupaten Minahasa merupakan salah satu daerah yang memberi kontribusi besar terhadap ketahanan beras masyarakat Sulut yang dalam setahun secara total membutuhkan sekitar 220 ribu ton beras. Daerah lumbung terbesar Sulut, terutama beberapa kawasan di Kabupaten Bolaang Mongondow dan beberapa kabupaten pemekaran dari kabupaten tersebut. [yg/mtr]

Peter Sondakh, Merintis Bisnis dari Nol



MANADO BISNIS - Peter Sondakh adalah salah satu dari beberapa pengusaha asal kawanua. Pengusaha ini telah meraih suksesnya di berbagai jenis perusahaan. Ada beberapa jenis bidang usaha yang dikerjakan oleh Peter

Sebagai seorang pengusaha, tentunya Peter juga merintis suatu bisnis dari nol kemudian menjadikannya lebih berkembang. Untuk mengetahui kesuksesan dari seorang Peter, lebih baik kita mengetahui profil dari pengusaha ini terlebih dahulu. Dengan mengetahui profil Peter secara lengkap, maka kita akan lebih mengenal perjuangan Peter secara lebih rinci.

Sebagai seorang pengusaha yang sukses, banyak sekali orang yang tertarik untuk mengetahui profil Peter Sondakh secara jelas. Peter merupakan seorang pengusaha sukses yang berasal dari kota Malang. Sepak terjangnya di dunia bisnis telah mengalami berbagai peningkatan yang fantastis. Pengusaha ini memiliki banyak sekali kemampuan dan pengalaman di bidang bisnis.

Jika anda tertarik untuk mempelajari usaha di bidang bisnis anda dapat belajar dari Peter. Peter merupakan pemilik dari perusahaan Bentoel dan juga Rajawali Grup. Pada tahun 2008, Peter terpilih menjadi orang terkaya nomer enam di Indonesia. Hal ini dikarenakan perusahaan kelapa sawit yang berada di bawah naungan dari Rajawali Grup mengalami peningkatan saham yang cukup fantastis. Selain itu, Peter juga salah satu penggemar dari permainan sepak bola. Karena kecintaannya pada sepak bola, maka melalui grup Bentoel, Peter juga mendanai seluruh kegiatan yang dikerjakan oleh AREMA.

Selain itu melalui Perusahaan Semen Bosowa juga mensponsori beberapa klub sepak bola seperti Persipura dan PSM. Selain memiliki banyak perusahaan di dalam negri, Peter juga memiliki beberapa perusahaan property di luar negri. Perusahaan yang dimiliki Peter mencakup dalam dan luar negeri sangatlah banyak. Walau sempat tinggal di negara Amerika Serikat dalam jangka waktu yang cukup lama, Peter tetap mengurusi semua jenis bisnisnya di Indonesia. Dengan tekad dan kemauan yang keras dan didukung oleh keahlian di bidang bisnis maka bisnis yang dirintis oleh Peter selalu mengalami kemajuan.

Tidak sedikit orang yang dapat meraih kesuksesan di bidang bisnis. Dengan memulai bisnis dari nol, anda pun akan berkesempatan untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Langkah awal dari seorang pengusaha bisnis yang sukses adalah ketekunan dan kerja keras. Peter melihat segala macam bisnis sebagai jenis peluang yang harus dipertimbangkan. Oleh karena itu beliau tidak henti-hentinya untuk menyusun strategi demi mendapatkan peluang bisnis dengan prospek masa depan yang cerah. Saat ini Peter berdomisili di Jakarta dan berkonsentrasi dalam menjalankan segala jenis bisnis yang ia jalankan. Dengan modal ketekunan dan kerja keras, pengusaha ini dapat meraih gelar orang terkaya ke enam di Indonesia dengan total kekayaan sebesar 1,05 miliar dolar AS. [yg/*]

Sulut Simpan Kekayaan Panas Bumi 918 MWE


Lokasi pembangkit listrik panas bumi Lahendong

MANADO BISNIS  – Sumber daya alam Sulut mempunyai  potensi yang sangat besar. Seperti halnya panas bumi, ternyata mencapai  918 megawatt electric (MWE), namun yang baru dimanfaatkan baru sekitar 80 MWE.

Demikian diakui Kepala Bidang Geologi, Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Propinsi Sulut, Katrin Walukow.  "Potensi yang ada di daerah ini kami perkirakan sebesar 918 MWE. Kalau dimanfaatkan secara keseluruhan, ketersediaan daya listrik akan melimpah," ujarnya.

Dia mengatakan, potensi panas bumi yang sudah dimanfaatkan berada di Kelurahan Lahendong, Kota Tomohon dengan kapasitas terpasang dua kali 40 MWE, padahal potensi cadangan panas bumi yang kami perkirakan mencapai 150 MWE. “Di Sulut sendiri  ada beberapa lokasi yang menyimpan potensi panas bumi ini yaitu, Airmadidi Kabapaten Minahasa Utara dimana berdasarkan spekulasi, di lokasi ini menyimpan potensi sekitar 25 MWE,” ungkapnya.

Lokasi lainnya menurut Walukow, berada di Kota Bitung, dimana Dinas ESDM berspekulasi lokasi ini menyimpan potensi sebesar 125 MWE, sementara itu, di lokasi Tompaso, Kabupaten Minahasa, cadangan terduga diperkirakan cukup besar yakni mencapai 130 MWE.

Namun Walukow menyayangkan terhentinya kegiatan eksplorasi yang dilakukan di Gunung Ambang Kabupaten Bolaang Mongondouw dan Kota Kotamobagu, di mana di dua lokasi ini menyimpan cadangan panas bumi sekitar 410 MWE.

Dia mengatakan, terhentinya kegiatan eksplorasi di lokasi ini karena cadangan panas bumi yang cukup besar berada di dalam kawasan hutan, sehingga eksplorasi lanjutan harus mendapatkan persetujuan dari Kementerian Kehutanan untuk memperoleh izin pinjam pakai kawasan. "Kendalanya hanya di situ. Namun yang paling penting adalah bagaimana menarik invetor agar mau berinvestasi dalam bidang pengambangan panas bumi. Akan sia-sia bila kita punya potensi melimpah, namun tidak ada investor yang tertarik mengelolanya," paparnya.

Ditambahkan Walukow, dari data Dinas ESDM Propinsi Sulawesi Utara, potensi sumberdaya panas bumi spekulasi sebesar 150 MWE, cadangan terduga sebesar 540 MWE, cadangan mungkin sebesar 150 MWE, cadangan terbukti sebesar 78 MWE serta kapasitas terpasang sebesar 80 MWE. [yg/mtr]

Jumat, September 07, 2012

Perikanan dan Hortikultura Sulut Masih Terpuruk



MANADO BISNIS – Sektor perikanan dan  tanaman hortikultura, sebagaimana pengelompokan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut,  masih terpuruk sesuai data Agustus 2012 lalu.  Hal ini dilihat dari  tingkat kesejahteraan petani atau  nilai tukar petani (NTP) masih tetap di bawah angka 100.

Menurut Kepala BPS Sulut Dantes Simbolon, NTP perikanan pada Agustus adalah 94,25 sedangkan bulan sebelumnya 93,96. “Hal ini memang memperlihatkan  terjadi  kenaikan 0,31 persen. Tapi tetap dibawah 100 yang menggambarkan petaninya belum sejahtera,” tandasnya.

Kenaikan It (harga  yang dibayar petani), lanjut Simbolon, sebesar 0,94 persen melebihi besarnya perubahan indeks Ib (harga yang diterima petani) mencapai 0,62 persen. “Hal ini menyebabkan nilai NTP perikanan menjadi meningkat, tapi tetap belum sejahtera petaninya,”  ungkap Simbolon.

Demikian halnya dengan tanaman hortikultura, menurut Kepala BPS Sulut ini, angkanya masih tetap di bawah 100, yang juga menggambarkan petani hortikultura di Sulut belum sejahtera, bahkan sesuai data yang ada mengalami penurunan jika dibandingkan bulan sebelumnya. “Pada Agustus lalu NTP holtikultura 97,63 dibandingkan Juli yang mencapai 98,49, mengalami penurunan 0,88 persen,” papar Simbolon.

Perubahan ini terjadi, diutarakan dia, akibat menurunnya It sebesar 0,43 persen dan disisi lain Ib mengalami peningkatan sebesar 0,46 persen. “Jika dilihat dari sisi pengeluaran petani terlihat besarnya biaya pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan 0,51 persen, sedangkan pengeluaran BPPBM mengalami pertumbuhan 0,10 persen,” jelas Simbolon. [yg/mtr]

Ekspor Sulut Tumbuh 17,86 Persen



MANADO BISNIS  – Kinerja ekspor Sulut pada Juli 2012 lalu, tumbuh 17,86 persen dibandingkan bulan yang sama 2011. Nilainya pun mencapai 70 juta dolar Amerika Serikat.
Kelapa salah satu komoditi ekspor Sulut

"Nilai ekspor Sulut pada bulan Juli 2011 mencapai sebesar 59,4 juta dollar AS. Ini mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan bulan Juli 2012 ini," kata Kepala Badan Pusat Statsitika (BPS) Sulut, Dantes Simbolon.

Dikatakannya, terdapat beberapa komoditas mengalami kenaikan pada periode Januari - Juli 2012  bila dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Kenaikan ekspor terbesar terjadi pada  komoditi lemak dan minyak hewan nabati yakni 200,7 juta dollar AS. "Kemudian menyusul komoditi yang lain yakni seperti ikan dan udang segar atau beku 29,9 juta dollar AS, dan ampas sisa makanan industri sebesar 12,9 juta Dollar," ujarnya.

Komoditi lemak dan minyak hewan nabati, menurut Simbolon,  mengambil peranan terbesar terhadap total ekspor selama Januari-Juli 2012 yakni sebesar 78,35 persen. Sementara ikan dan udang segar atau beku memberikan andil 8,53 persen,  daging dan ikan olahan 5,94 persen dan ampas atau sisa hasil  industri makanan 4,41 persen.

"Berdasarkan negara tujuan, ekspor ke Cina naik 8,8 juta dollar AS, kemudian disusul ke Jordania dan Inggris yang masing-masing naik sekitar 0,7 juta Dollar AS  dan 0,3 Juta Dollar AS. Sedangkan ekspor ke Belanda pada bulan Juli 2012 mengalami penurunan terbesar yakni 18,6 juta Dollar AS, Korea Selatan 5,2 juta Dollar AS  dan Amerika Serikat 2,2 juta Dollar," paparnya.

Meski begitu, ditambahkan Simbolon,  ekspor ke Belanda juga memberikan kontribusi terbesar terhadap total ekspor Januari-Juli 2012 yakni sebesar 32,57 persen. Lalu diikuti Cina 19,72 persen dan Amerika Serikat sebesar 16,83 persen. [yg/mtr]